Ada pepatah "bagai burung didalam sangkar" yang kurang lebih artinya hidup dalam sebuah penjara meskipun bergelimang kemewahan seperti arthalyta suryani di rutan Pondok Bambu tetaplah tidak menyenangkan. Begitu juga halnya dengan seekor ikan Mas Koki yang beberapa bulan ini menemaniku untuk sekedar menghilangkan stress. Memang kejam sekali manusia itu, sebuah roh yang mengandung nafas kehidupan kita jadikan mainan penghilang stress dengan mengambil segala hak-hak kebebasannya untuk bermain dengan kawan-kawannya atau bercumbu dengan kekasih hatinya. Akhirnya kusadari meskipun dekorasi akuarium sudah kubuat senatural mungkin, dengan segala batu-batu dan bunga hidupnya serta berhari-hari kuluangkan waktu untuk sekedar mencari barang-barang yang kukira akan membuat ikanku merasa nyaman. Tak pernah kurang makan peletnya dan bahkan sakit panupun membuatku panik, padahal panuku sendiri kubiarkan saja toh tidak berbahaya (menjijikan). Tapi tetap saja kulihat ada wajah murung tanpa gurat senyum pada ikan Mas Kokiku (emang ikan punya gurat senyum? bukannya cuma gurat sisi?). Akhirul kalam, kulepaskan ikan Mas Kokiku ke sungai ciliwung agar mereka bisa bersatu dengan ikan-ikan jorok yang ada disitu atau mungkin dimakan ikan-ikan jahat itu.
Tapi bukan, sebenarnya kali ini aku bukan mau bercerita tentang seluk beluk ikan Mas Koki itu. Toh aku sudah tidak peduli lagi dengan dirinya karena dia juga sudah tidak pernah mengingat-ingatku lagi, biarlah kita jalan masing-masing. Mulai kemaren, aku menggunakan kacamata yang kubeli dari tukang kacamata keliling yang lewat depan kantorku. Wah tak kusangka, tak kuduga, tak kukira, dan tak kunyana ternyata aku sudah minus 1. Pantesan aja kuliahku ancur, pantesan di STAN cuma dapet IP tiga koma mengenaskan (halah, alesan aja). Inilah penampilanku saat ini, Jreng... Jreng...

pasti ibuku bilang aku tambah cakep pake kacamata, hahahaha...
Ternyata dengan kacamata ini segala sesuatu yang buram menjadi tampak jelas dimataku, semoga nasibku yang buram juga menjadi jelas mulai saat ini (Amiiinn..... sejuta kali). Dalam memandang masalah juga semakin jelas apakah seekor tengu yang menggigit *****ku berdampak sistemik atau tidak? Apakah romansa cinta yang agung bisa mengalahkan dramatisasi problematika hidup? Apakah penting memiliki mata yang jernih sedangkan hatinya kotor? Apakah, apakah, dan apakah yang lain yang sebelumnya terus menghantui diriku. Oh iya satu lagi, aku sekarang juga sudah bisa membedakan duit yang abu-abu dan yang tidak, kalo yang abu-abu itu artinya duit dua ribu perak, hahahaha..
Selain merubah pandanganku, kacamata ini ternyata juga mampu meningkatkan kepercayaan diriku. "Jadi kaya bapak sebenarnya", kata istriku. Berjalan di gang sempit juga makin percaya diri karena sudah gak kawatir lagi kecebur got. Dan yang paling signifikan adalah kepercayaan diriku untuk terus membela kebenaran meskipun diancam dengan reshufle kabinet, apalagi diganggu dengan isu perilaku tidak etis oleh orang-orang yang tampak sekali sikap tidak etisnya. Rajaku mengeluh di muka rakyat sementara punakawannya terus menerus membuat lawakan di depan TV. Negeriku terus menerus tertimpa bencana dan azab karena perilaku tidak senonoh para punggawa kerajaan yang tak lagi mengingat-Nya (hahaha konyol sekali statemenku ini, masa bencana alam dikaitkan dengan raja diraja, hahaha berarti aku menertawakan Nabi Nuh, Nabi Luth, Nabi Musa, dan Nabi-Nabi yang lain). Semoga kita bisa belajar dari segala kesalahan di masa lalu dan semakin baik dimasa depan meskipun mulai saat ini pandanganku hanya sebatas kaca.





