Neng kene ora nana maling sing doyan nyolong, anane wong sing uripe ayem tentrem. Pegaweane mung madhang ngising turu kaya lampu, asal bisa nggo urip ngesuk ya wis alhamdulillah. Ora padha serik maring tanggane, malahane padha guyub rukun mbangun silaturahmi. Urip neng dunya kuwe mung sedhela, ayo-ayo padha tulung tinulung ben kabeh padha bungah.

30 Maret 2009

Lenyapkan Sterilitiet Dalam Gerakan Mahasiswa


Pidato tertulis PJM Presiden Soekarno pada Konferensi Besar GMNI di Kaliurang Yogyakarta, 17 Februari 1959.

Artikel Terkait
PIDATO SOEKARNO : LAHIRNYA PANCASILA 1/4
PIDATO SOEKARNO : LAHIRNYA PANCASILA 2/4
PIDATO SOEKARNO : LAHIRNYA PANCASILA 3/4
PIDATO SOEKARNO : LAHIRNYA PANCASILA 4/4

Terlebih dahulu saya mengucapkan selamat dengan Konferensi Besar GMNI ini. Dengan gembira saya membaca, bahwa asas tujuan GMNI adalah Marhaenisme.

Apa sebab saya gembira? Tidak lain dan tidak bukan, karena lebih dari 30 tahun yang lalu saya juga pernah memimpin suatu gerakan rakyat–suatu partai politik—yang asasnya pun adalah Marhaenisme.

Bagi saya asas Marhaenisme adalah suatu asas yang paling cocok untuk gerakan rakyat di Indonesia. Rumusannya adalah sebagai berikut:

*
Marhaenisme adalah asas, yang menghendaki susunan masyarakat dan negara yang di dalam segala halnya menyelamatkan kaum Marhaen.
*
Marhaenisme adalah cara perjuangan yang revolusioner sesuai dengan watak kaum Marhaen pada umumnya.
*
Marhaenisme adalah dus asas dan cara perjuangan “tegelijk”, menuju kepada hilangnya kapitalisme, imprealisme dan kolonialisme.
*
Secara positif, maka Marhaenisme saya namakan juga Sosio-nasionalisme dan Sosio-demokrasi; karena nasionalismenya kaum Marhaen adalah nasionalisme yang sosial bewust dan karena demokrasinya kaum Marhaen adalah demokrasi yang sosial bewust pula.

Dan siapakah yang saya namakan kaum Marhaen itu? Yang saya namakan Marhaen adalah setiap rakyat Indonesia yang melarat atau lebih tepat yang telah dimelaratkan oleh setiap kapitalisme, imprealisme dan kolonialisme.
Kaum Marhaen ini terdiri dari tiga unsur:
Pertama: Unsur kaum proletar Indonesia (buruh)
Kedua: Unsur kaum tani melarat Indonesia, dan
Ketiga: kaum melarat Indonesia yang lain-lain.
Dan siapakah yang saya maksud dengan kaum Marhaenis? Kaum Marhaenis adalah setiap pejuang dan setiap patriot bangsa;

*
Yang mengorganisir berjuta-juta kaum Marhaen itu, dan
*
Yang bersama-sama dengan tenaga massa Marhaen itu hendak menumbangkan sistem kapitalisme, imprealisme, kolonialisme, dan
*
Yang bersama-sama dengan massa Marhaen itu membanting tulang untuk membangun negara dan masyarakat, yang kuat, bahagia sentosa, adil dan makmur.

Pokoknya ialah, bahwa Marhaenis adalah setiap orang yang menjalankan Marhaenisme seperti yang saya jelaskan di atas tadi. Camkan benar-benar!, setiap kaum Marhaenis berjuang untuk kepentingan kaum Marhaen dan bersama-sama kaum Marhaen!

Apa sebab pengertian tentang Marhaenisme, Marhaen dan Marhaenis itu saya kemukakan kepada Konferensi Besar GMNI dewasa ini? Karena saya tahu, bahwa dewasa ini ada banyak kesimpangsiuran tentang tafsir pengertian kata-kata Marhaenisme, Marhaen dan Marhaenis itu.

Saya harapkan mudah-mudahan kata sambutan saya ini saudara camkan dengan sungguh-sungguh, dan saudara praktikkan sebaik-baiknya, tidak hanya dalam lingkungan dunia kecil mahasiswa, tetapi juga di dunia besar daripada massa Marhaen. Sebab tanpa massa Marhaen, maka gerakanmu akan menjadi steril!

Karena itu: • Lenyapkan sterilitiet dalam Gerakan Mahasiswa! • Nyalakan terus obor kesetiaan terhadap kaum Marhaen! • Agar semangat Marhaenisme bernyala-nyala murni! • Dan agar yang tidak murni terbakar mati!

Sekian dulu, dan sekali lagi saya ucapkan selamat kepada Konferensi Besar GMNI, dan mudah-mudahan berhasilah Konferensi Besar ini.

Jakarta, 17 Februari 1959

PRESIDEN/PANGLIMA TERTINGGI/ PEMIMPIN BESAR REVOLUSI

SOEKARNO BAPAK MARHAENISME

Artikel Terkait
PIDATO SOEKARNO : LAHIRNYA PANCASILA 1/4
PIDATO SOEKARNO : LAHIRNYA PANCASILA 2/4
PIDATO SOEKARNO : LAHIRNYA PANCASILA 3/4
PIDATO SOEKARNO : LAHIRNYA PANCASILA 4/4
Selengkapnya...

Pidato Bung Karno: Kepada GMNI di Istana Bogor


Amanat Bapak Presiden Soekarno
Di Hadapan GMNI
Di Istana Bogor, 3 Desember 1966

Saudara-saudara,Di kalanganmu itu aku melihat tadi Pak Mukarto. Tapi kok sekarang nyisih ya?. Aku melihat Pak Adam Malik, belakang. Aku melihat Pak Tjokro. Dan di hadapanmu, engkau melihat aku.

Artikel Terkait
PIDATO SOEKARNO : LAHIRNYA PANCASILA 1/4
PIDATO SOEKARNO : LAHIRNYA PANCASILA 2/4
PIDATO SOEKARNO : LAHIRNYA PANCASILA 3/4
PIDATO SOEKARNO : LAHIRNYA PANCASILA 4/4

Baik Pak Mukarto, maupun Pak Tjokro, maupun Pak Adam Malik, maupun aku, dulu, muda, dulu ikut-ikut muda. Sekarang saja sudah ada yang sudah ubanan rambutnya seperti Pak Mukarto. Yang tadi aku ceritakan, waktu physical revolution mulai, beliau adalah, kita, penyeludup, smokkelaar untuk mendapatkan senjata. Physical revolution untuk mendapat pembiayaan, uang buat perwakilan kita di luar negeri. Kemudian pula bapak-bapak itu di waktu muda ikut-ikut giat di dalam pergerakan nasional ataupun di dalam physical revolution.


Demikian pula aku.
Engkau telah sering mendengar mengenai diriku, bahwa aku ini sejak umur 16 tahun, 16 tahun, telah mencemplungkan diri dalam gerakan untuk tanah air, bangsa, cita-cita. Pada waktu aku umur 16 tahun, aku adalah siswa daripada sekolah menengah Belanda di Surabaya HBS, Hogere Burger School, siswa. Pada waktu itu aku, karena telah ikut bercita-cita, menjadi anggota daripada satu organisasi pemuda Jawa, pemuda dan pemudi Jawa. Namanya Trikoro Darmo. Trikoro Darmo.

Demikian pula bapak-bapak tua sekarang ini dulu semuanya, pada waktu masih muda telah ikut berkecimpung di dalam gerakan-gerakan. Ada yang seperti Bapak menjadi anggota Trikoro Darmo. Pak Leimena yang duduk di sana, dedengkot tua Pak Leimena, dulu pun menjadi anggota daripada satu gerakan pemuda Ambon.

Bung Hatta juga pada waktu masih muda menjadi anggota daripada satu serikat siswa Sumatera, Jong Sumatranen Bond.

Pak Leimena punya organisasi namanya Jong Ambon.
Nah, kita sekarang dedengkot-dedengkot tua. Sejak dari muda kita telah bukan saja ikut, ya nak, jangan lihat itu, lihat hidungnya Bapak. Bapak itu kalau pidato dilihat mata anak anggota GMNI itu lantas Bapak ikut menyala-nyala.

Ha, dedengkot-dedengkot itu sekarang ada, ada lho, di kalangan mahasiswa yang waduh, memaki-maki kepada kami, mencerca kami. Sampai tempo hari itu, sampai Bapak itu setengah menangis.

Pak Leimena yang sejak dari mudanya telah berkecimpung mencemplungkan diri dalam gerakan untuk kepentingan bangsa dan tanah air, cita-cita, sekarang di kalangan mahasiswa ada yang, waduh, bahkan mengucapkan kata-kata yang tidak baik: Kami tidak sudi orang “cap”, atau “cap Leimena”, “semacam Leimena”. Masya Allah, pemuda-pemuda zaman sekarang ini bagaimana?. Dan engkau tahu, Bapak sendiri sekarang ini ada yang, waduh sudah habis-habisan lah, habis-habisan.

Padahal, padahal, Bapak, Pak Leimena, Pak Mukarto, Pak Adam Malik, Pak Tjokro, dan macam-macam banyak sekali Pak, Pak, Pak itu, sedari mudanya boleh dikatakan menyerahkan diri, bahkan mengorbankan kebahagiaan hidup untuk kepentingan tanah air, bangsa dan cita-cita.

Nah, sekarang engkau pemuda-pemuda. Bukan saja engkau jangan ikut pemuda-pemuda yang begitu itu tadi, yang mencerca kepada Pak Leimena, Pak Mukarto, dan lain-lain sebagainya, tetapi aku menghendaki supaya engkau pun mengetahui tugas dan kewajiban sebagai pemuda. Tugas kewajibanmu sebagai mahasiswa.

Pernah kukatakan, menjadi mahasiswa zaman sekarang ini tugasnya adalah dua, tugasnya dua. Satu, untuk terus ikut menjadi pelopor daripada revolusi kita sekarang ini. Kan menjadi pelopor itu berarti, bukan saja berjalan di muka, tetapi yaitu sebagai kukatakan berulang-ulang, jangan meninggalkan sumber daripada revolusi, jangan menyeleweng daripada riilnya revolusi. itu satu.

Kedua, untuk menjadi unsur mutlak di dalam pembinaan. Sebab, revolusi kataku, kemarin pun diterangkan panjang lebar di hadapan anggota MPP PNI, revolusi adalah di satu pihak menjebol, di lain pihak membina. Menjebol kepada imperialisme, menjebol kepada sistem yang tidak sesuai dengan revolusi, sistem sosial yang tidak sesuai dengan revolusi. Tegasnya menjebol sistem feodalisme, menjebol sistem kapitalisme. Di samping itu membina, membina, membangun satu barang baru yang memberi kebahagiaan kepada rakyat Indonesia seluruhnya. Dus di satu pihak menjebol, di lain pihak membina. Karena itu aku, sejak daripada pecahnya revolusi fisik kita, telah kuterangkan, revolusi adalah satu simfoni. Simfoni itu adalah lagu yang merdu dikeluarkan oleh rombongan bersama. Ada yang memegang biola, ada yang memegang gitar, ada yang memegang drek, dek, dek, dek, dek, tambur, ada yang memegang macam-macam pesawat. Tetapi bersama-sama mengeluarkan satu simfoni yang merdu. Dan aku berkata, revolusi adalah simfoni daripada destructie dan constructie. Destructie yaitu menghancurkan, atau dengan perkataan yang baru tadi kuucapkan menjebol. Constructie, membangun, membina, mencipta, to create, scheppen, kata orang Belanda.

Nah, ini untuk to create, kamu orang semuanya mahasiswa mengerti perkataan create. Scheppen?, itu tidak semua kamu mengerti, yaitu bahasa Belanda, tapi artinya sama dengan create, membina, membangun, mencipta. Created itu kita memerlukan pengetahuan, memerlukan skill. Sebab, tujuan revolusi adalah, sebagai kukatakan berulang-ulang dan engkau katakan berulang-ulang, satu masyarakat adil dan makmur tanpa exploitaion de l’homme par l’homme, tanpa exploitation de nation par nation. Pendek kata, tujuan revolusi adalah Ampera. Ampera di dalam arti aksi Ampera, arti aksi Ampera. Jangan Ampera sebagai diterangkan atau dikatakan oleh satu golongan mahasiswa zaman sekarang. Nanti aku terangkan.

Dan aku mengucap syukur kepada Tuhan bahwa akulah fabrikant. Fabrikant, pembuat kata Ampera itu, Amanat Penderitaan Rakyat, bersama-sama dengan yang kau katakan pada waktu melantik Akabri, Akademi Angkatan Bersenjata, bersama-sama dengan Bapak Sukarni. Kita ciptakan satu perkataan untuk menjadi slogan daripada perjuangan kami berdua, Soekarno-Soekarni membuat kata baru Ampera, Amanat Penderitaan Rakyat. Bagaimana? Nah, inilah yang aku akan terangkan kepadamu lebih dahulu. Umur 16 tahun, aku menjadi anggota Trikoro Dharmo. Itu kumpulan mahasiswa Jawa. Perkataannya saja sudah Jawa, Trikoro Dharmo.

Aku pada waktu itu diindekoskan. Apa perkataan indekos zaman sekarang? di pondokkan, ditumpangkan. Diindekoskan, ditumpangkan atau dipondokkan, diindekoskan kepada rumahnya pemimpin ulung Oemar Said Tjokroaminoto, yang kemudian menjadi haji, Haji Oemar Said Tjokroaminoto. Aku diindekoskan di situ.

Nah, ini belakangan, Saudara-saudara, syukur aku mengucapkan kepada Tuhan, kok aku diindekoskan di situ oleh orang tuaku. Tidak diindekoskan ke rumah orang lain, kok diindekoskan di rumahnya seorang pemimpin. Apa sebab? Bukan saja aku di rumah Tjokroaminoto itu sering bicara dan mendapat pengajaran dari Tjokroaminoto almarhum. Tetapi di rumah Pak Tjokro itu aku berjumpa dan bercakap-cakap lama, kadang jauh malam, sampai kadang hampir fajar pagi, dengan pemimpin-pemimpin lain yang bertamu kepada Pak Tjokro atau yang beberapa hari logger-kan di rumahnya Pak Tjokro itu. Antara lain siapa? Antara lain almarhum Haji Agus Salim. Antara lain siapa? Almarhum Soerjopranoto. Antara lain siapa? Sosrokardono. Antara lain siapa? Semaoen. Antara lain siapa? Tjipto Mangoenkoesoemo. Antara lain siapa? Douwes Dekker yang kemudian ganti nama Setiabudi. Aku dus bicara dengan politisi, politikus dari segala aliran. Bahkan aku bicara dengan pendiri daripada gerakan agama yang bernama Kiai Haji Dahlan. Bukan saja bicara sebentar, tidak. Wong mereka itu logger di rumahnya Tjokroaminoto. Itu rupanya sudah jamak, kebiasaan. Lumrah.

Dulu itu kalau pemimpin pergerakan datang di suatu tempat, ya logger-nya di tempat seseorang pemimpin gerakan lain, meskipun bukan dari partainya.

Nah, rumah Pak Tjokro itu seperti hotel, Saudara-saudara, sering kedatangan pemimpin-pemimpin itu. Dan aku sebagai orang yang indekos di situ, waduh, sebentar bicara dengan Pak Haji Agus Salim, sebentar bicara dengan Pak Soerjopranoto. Kamu barangkali sudah tidak tahu lagi Pak Soerjopranoto itu. Soerjopranoto itu adalah dulu pemimpin kaum buruh pabrik gula. Tanah Jawa dulu banyak sekali pabrik gula. Oleh karena memang imperialisme Belanda di tanah Jawa itu terutama sekali mengambil hasil banyak dari gula, pabrik gula. Pemimpin daripada kaum buruh pabrik-pabrik gula ini adalah Soerjopranoto. PFB morat-marit, sebetulnya namanya PFB ini ialah Personeel Fabriek Bond. Kalau bahasa Belanda yang betul mustinya Bond van Fabriek Personeel begitu. PFB, Personeel Fabriek Bond. PFB. Malahan kaum buruh gula ini pernah mengadakan mogok besar. Mogok untuk mendapatkan gaji lebih tinggi, jam kerja kurang. Dan Pak Soerjopranoto dinobatkan oleh kongres daripada PFB ini menjadi, pakai bahasa Belanda lagi Staking Koning, Raja Pemogokan. Hebat itu, hebatnya perjuangan, saudara-saudara, pada waktu itu menentang imperialisme. Mogok! Seluruh kaum buruh pabrik-pabrik gula mogok. Disusul oleh Semaoen, komunis. Dulunya yaitu Sarekat Islam.

Kemudian Sarekat Islam dengan kepalanya bernama PKI, Partai Komunis Indonesia. Semaoen, dia pun sering datang di rumahnya Pak Tjokro. Saya pun sering bicara dengan Semaoen. Sebagaimana, saya tanya, sebagaimana orang muda lho, banyak maguru, maguru itu bahasa Kawi Sansekerta, maguru, berguru, belajar menjadi murid daripada Pak Tjokro. Maguru kepada Semaoen. Bagaimana, bagaimana, bagaimana? Dia kasih pengajaran.

Demikian pula aku maguru kepada Tjipto Mangoenkoesoemo, yang namanya kita agungkan sampai sekarang. Misalnya, barangkali ada mahasiswa sekolah dokter, tahu rumah sakit yang di sini kita namakan Rumah Sakit Tjipto Mangoenkoesoemo. Aku maguru kepada Douwes Dekker, Setiabudi. Aku maguru kepada Soeryaningrat, yang kemudian ganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara. Maguru. Dengan perkataan yang sering kukatakan, aku ini nglésot di bawah kakinya Ki Hadjar, di bawah kakinya Tjokroaminoto, di bawah kakinya Tjipto, di bawah kakinya Douwes Dekker, di bawah kakinya Semaoen, di bawah kakinya Soerjopranoto, di bawah kakinya Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Jadi aku dapat, dari semua pikiran dan aliran, aku dapat bahan. Nah, ini semua menjadi satu simfoni bagiku, Saudara-saudara. Aku tidak hanya maguru kepada viool, aku tidak hanya maguru kepada piano, aku tidak hanya maguru kepada gitar, aku tidak hanya maguru kepada saksofon, aku tidak hanya maguru kepada tromp, yaitu tambur, tidak!. Aku maguru dari masing-masing itu dan aku maguru kepada simfoni daripada ini semua.

Karena itu kalau aku sekarang ini berjumpa dengan pemimpin-pemimpin yang sekarang oo, oo, oo. Ada lho, pemimpin-pemimpin yang petita-petiti. Hh, aku ini dulu maguru kepada waduh pemimpin-pemimpin Indonesia dari golongan Islam, maupun golongan nasionalis, maupun dari golongan komunis. Bahkan aku maguru juga daripada pemimpin-pemimpin Belanda yang dulu ada di sini, pemimpin sosialis.

Ini semua menjadi bahan bagiku.
Nah, oleh karena itulah maka sesudah aku menjadi anggota daripada Trikoro Dharmo, aku meluaskan gerakan pemudaku menjadi Jong Java. Lebih jelas lagi Jong Java daripada Trikoro Dharmo. Sebab, Trikoro Dharmo itu dulu maksudnya ya studie tok. Kalau Jong Java sudah tegas dengan cita-cita, lebih tinggi daripada Trikoro Dharmo.

Tidak lama di Jong Java saya jelaskan dan saya lebarkan lagi menjadi Jong Indonesia. Indonesia Muda. Bukan sendiri, bersama-sama dengan pemimpin-pemimpin, dedengkot-dedengkot yang lain. Indonesia Muda tahun 1923, Saudara-saudara, 1923 lho, lima tahun sebelum Sumpah Pemuda. Lima tahun sebelum ada sumpah yang berbunyi: satu tanah air, satu bahasa, satu bangsa. Dedengkot itu bernama Soekarno, dedengkot tua yang bernama Soediono, dedengkot tua yang bernama Mohammad Hatta, dedengkot tua yang bernama Soebardjo, dedengkot tua yang bernama Adam Malik, dan lain-lain sebagainya. Dedengkot tua-dedengkot tua ini telah mengumandangkan ide persatuan Indonesia.

Dan aku mengumandangkan itu. Aku, Saudara-saudara, karena itu tadi aku dapat bahan dari macam-macam aliran. Bahanku bukan hanya nasionalisme, bukan hanya agama yang aku dapat dari Pak Tjokro, dari Pak Dahlan. Bahanku juga dari marxisme, yang aku dapat dari Semaoen, yang aku dapat daripada pemimpin-pemimpin Belanda sebagai Hartoh, Sneevliet. Pak Leimena kenal sama Sneevliet itu? Sneevliet itu elek-elek dia menulis satu buku tebal tentang Indonesia lho, Saudara-saudara. Kalau engkau masih suka, betul-betul suka membaca, mbok cari buku Sneevliet itu bibliotek museum. Sneevliet menulis buku perjuangan rakyat Indonesia, dan bagaimana seharusnya kita menghancur-leburkan imperialisme di Indonesia ini. Sneevliet itu orang Belanda. Barangkali Pak Leimena punya itu buku? Lho, pinjamkan!.

Aku punya buku sudah diserobot orang lain. Sneevliet. Aku dapat juga daripada guru sekolahku yang bernama Hertog. Belanda, tapi dia adalah sosialis, memberi tahu kepadaku sosialisme itu apa. Karena aku dapat banyak, banyak, banyak bahan, karena aku mendapat simfoni itu tadi lantas aku juga sebagai mahasiswa, wah, aku lantas gemar sekali belajar, gemar membaca. Sampai, boleh dikatakan, aku kadang-kadang meninggalkan pelajaran-pelajaran di sekolah untuk, waktunya aku pakai untuk, membaca buku-buku politik, yang tidak diajarkan di sekolah kepada saya.

Aku membaca sejarah dunia, aku membaca sejarah bangsa-bangsa, aku membaca kitab-kitab tentang gerakan kaum buruh, aku membaca tentang gerakan Islam. Sampai-sampai aku tahun yang lalu, tahun yang lalu, jadi 1965 ini, aku perintahkan untuk menyalin misalnya kitabnya Lothrop Stoddard, Lothrop Stoddrad, The New World of Islam. Sekarang sedang diterjemahkan. Tempo hari sudah sampai tercetak.

Jadi, aku ini gemar membaca, oleh karena aku anggap perlu untuk mengisi otakku, mengisi pikiranku, mengisi semangatku selebar-lebar mungkin. Jendela terbuka, ide-ide itu masuk di dalam ingatanku, pikiranku itu.

Ini aku ajarkan kepadamu. Jangan kamu itu ya mahasiswa, mahasiswa, mahasiswa, mahasiswa, tetapi cuma diam, tidak. Apalagi, nah ini, engkau ini berjuang di atas front dua macam, destructie, constructie, menjebol, membina. Dalam hal pembina ini, tidak bisa kita membina tanpa orang yang tahu, tidak bisa kita membina tanpa apa yang kukatakan, kader. Dengan gampangnya saja, sosialisme, Saudara-saudara, yang harus kita bina itu. Sosialisme itu, aku katakan berulang-ulang, tidak seperti air embun jatuh pada waktu malam, tes. Tidak. Sosialisme harus dibina, didirikan, diperjuangkan, dengan segala keuletan. Dan di dalam pembangunan pembinaan sosialisme itu, saya tidak cukup hanya dengan semangat. Bahkan sumber semangat sebetulnya haruslah pikiran. Sumber semangat adalah pengetahuan. Orang yang kurang pengetahuan, semangatnya ya semangat yang sekedar he put… mati lagi. Oo kobar-kobar… put… mati lagi. Tetapi semangat yang timbul daripada pengetahuan yang betul-betul lantas paku di otak.

Semangat yang demikian itu tidak bisa mati, Saudara-saudara. Semangat yang demikian itu adalah semangat sebagai yang dikatakan oleh Thomas Carlyle; orang bisa dikerangkeng, orangnya bisa dikerangkeng, dimasukkan kerangkeng, tetapi semangatnya keluar dari kerangkeng. Semangat yang demikian itu adalah apa yang dimaksud oleh Mahatma Gandhi, yang dia berkata, semangat yang bisa brake prisson wall, memecahkan tembok-temboknya penjara. Ia tidak bisa semangatnya dikurung. Semangat yang betul-betul sudah timbul daripada alam pikiran yang yakin, semangat yang demikian itu brake prisson wall, memecahkan tembok-temboknya penjara. Sebagaimana aku boleh memakai contohku, apa hasil Belanda memasukkan aku di dalam sel. Umpamanya aku mati di dalam sel, toh semangatku diambil oper oleh orang lain, diteruskan oleh orang lain.

Maka, Saudara-saudara, benar pula ucapan seorang pemimpin yang berkata idea have lage. Idea have lage, ide mempunyai kaki. Ide mempunyai kaki. Orangnya dimasukkan bui di dalam penjara, diikat, dikerangkeng, dirantai, tetapi dia punya ide berjalan terus. Idea have lage. Idea brake prisson wall. Nah, Saudara-saudara, karena itu maka aku anjurkan engkau membaca banyak, supaya semangat. Tapi semangat saja di dalam pembinaan sosialisme juga tidaklah cukup. Pengetahuan, bolak-baliknya itu. Pengetahuan membangunkan semangat. Semangat harus didasarkan atas pengetahuan. Pembinaan sosialisme harus dijalankan dengan semangat dan dengan pengetahuan. Karena itu di dalam pembinaan sosialisme diperlukan lebih daripada pembinaan lain-lain, kader, kader, kader. Dan engkau pemuda-pemuda, mahasiswa-mahasiswa, kita harapkan menjadi kader di dalam dua front ini; kader di dalam desctructie, menghantam, hancur leburkan kepada imperialisme, kapitalisme, feodalisme, dan lain-lain, kader di dalam constructie, membangun masyarakat baru. Karena cita-cita kita tentang masyarakat baru itu cita-cita tinggi, bukan sebagai cita-cita yang dikemukakan, katakanlah Mahatma Gandhi.

Gandhi itu sebetulnya, Saudara-saudara, orang pemimpin besar sekali, tetapi dia punya cita-cita lain daripada kita. Gandhi tidak mempunyai cita-cita politik. Sebab, aku tanya sama Gandhi, Gandhi atau Mahatma, Mahatmadji, dji itu yaitu ucapan tambahan menggambarkan kecintaan: Mahatmadji, apakah cita-cita politik kita? Mustinya Gandhi menjawab, India lepas sama sekali daripada Inggris. India disusun sebagai republik. En toh barangkali dia senang kepada monarki. Atau kalau republik, apakah republik federal, ataukah republik unitaristis. Gandhi tidak pernah menjawab pertanyaan ini. Tidak pernah. Saya belum pernah menjumpai satu kalimat yang Gandhi ini nyata republiken, atau Gandhi ini nyata India merdeka penuh lepas daripada Inggris, India federalistis atau India unitaristis. Tidak. Gandhi paling-paling berkata home rule, home rule. Home rule itu artinya pemerintah sendiri, self government. Yang self government itu apa? Apakah bebas 100% daripada dominition imperialisme. Ataukah ya masih terkungkung di dalam ikatan daripada imperialisme itu? Gandhi tidak pernah. Dia selalu self government, seft government, home rule, home rule. Dus Gandhi sebenarnya tidak mempunyai cita-cita politik.

Kita sebenarnya telah mempunyai cita-cita politik: Indonesia bebas merdeka, 100% merdeka daripada imperialisme. Indonesia Republik. Tidak raja-rajaan. Indonesia sama dengan unitaristis, Republik Kesatuan. Bukan Republik Federal. Jelas kita punya cita-cita. Di kalangan pemimpin-pemimpin kita sekarang ini sebetulnya ya, Saudara-saudara, ada yang federalis. Ya asal tahu saja. Kita tidak!, unitaris, tidak federal-federalan.

Gandhi mempunyai cita-cita sosial. Tetapi cita-cita sosialnya lain lagi daripada cita-cita sosial kita. Sosial itu dari perkataan societas. Societas artinya masyarakat. Cita-cita sosial adalah cita-cita mengenai susunan masyarakat. Bagaimana masyarakat ini susunannya? Ada exploitation de l’homme par l’homme apa tidak? Ada sistem penghisapan oleh gerombolan manusia pada manusia lain apa tidak? Apakah cita-citanya itu adalah yaitu sama rasa sama rata tiap-tiap manusia?. Itu adalah cita-cita sosial.

Aku berkata, Gandhi mempunyai cita-cita sosial, tapi lain lagi dari kita. Coba kau baca tulisan Gandhi,Are you not tired sending there? Please take a chair. Hh, take a chair, please. Ada kursi? Ha. Where are you come? Ha! Australia. Kadang-kadang kalau bicara sama Australia itu susah. Artinya begini, kita bilang Austrélier. Kalau orang Australia tulen bilang Austrélier. I come, I come here today. What you say, todeé or today.

Nah, Gandhi mempunyai cita-cita sosial. Tetapi cita-cita sosial yang kolot sekali. Cita-cita sosial yang retrogesif. Baca dia punya kitab. Kitab yang termasyur. Misalnya dia punya kitab My Autobiography. Itu Gandhi, dia menerangkan, dia punya cita-cita sosial, yaitu masyarakat supaya sederhana, sederhana. Tiap-tiap orang mempunyai rumah sendiri. Tiap-tiap orang menenun sendiri ia punya bahan pakaian. Tiap-tiap orang mempunyai, ia punya sapi sendiri untuk ambil susu. Gandhi paling benci sama mesin-mesin. Bahkan benci sama pabrik-pabrik. Gandhi berkata, kalau dia dengar kapal udara itu, dia punya jiwa seperti waduh, tidak bisa tidur dia, tidak senang. Malahan dia berkata, pabrik-pabrik, mesin-mesin, di dalam dia punya buku lho, ditulisnya this all devil work. All devil work, semua bikinan setan: pabrik-pabrik, mesin-mesin. Dia bilang tentrem, adem, tentrem. Kalau Pak Mardanus di dalam pedalangan bilangnya, adem tentrem kadio siniram banyu waju sewindu lawase. Dingin adem tentrem seperti disiram air waju, air yang sudah lama dalam gentong, air disimpan di dalam gentong satu windu lamanya, delapan tahun. Nah, itu air itu sejuk sekali. Nah, kalau disiramkan di atas dirimu, sejuk sekali, adem tentrem kadio siniram banyu waju sewindu lawase.

Kita punya cita-cita sosial lain daripada itu. Kita malahan menghendaki supaya Indonesia ini mempunyai kapal udara yang banyak, kapal udara untuk rakyat. Mempunyai jalan aspal yang banyak, jalan aspal untuk rakyat. Mempunyai kereta api yang banyak, kereta api untuk rakyat. Pabrik-pabrik yang hebat yang membuat segala apa yang kita perlukan, untuk rakyat. Itu kita punya cita-cita sosial, modern. Bukan cita-cita kolot seperti Gandhi.

Nah, untuk mengadakan masyarakat yang banyak pabriknya, again, lagi, pabrik untuk rakyat lho, bukan pabrik untuk kapitalisme. Mesin adalah memang jahat kalau digunakan untuk bikin gendutnya kantong kapitalis saja. Tapi mesin adalah satu rahmat, nikmat dari Tuhan, kalau dipergunakan untuk kepentingan rakyat. Membuat tekstil misalnya, Saudara-saudara, untuk rakyat. Nah, itu mesin lantas menjadi satu. Wah, nikmat, rahmat. Jangan kita sebagai Gandhi. Kita memerlukan tekstil, nah sudahlah, tiap orang harus ada mesin pintal di rumah. Tanam kapas sendiri, petik kapasnya, giling kapasnya dengan mesin pintal itu menjadi tali dan benang. Kemudian tenun, jeglek, jeglek, jeglek, jeglek. Wah, itu bukan cita-cita kita.

Kita punya cita-cita ialah bahwa kita itu mempunyai pabrik-pabrik tekstil yang besar, yang hasilnya tekstil jutaan meter untuk rakyat, untuk kepentingan rakyat seluruhnya. Bukan untuk membikin gendutnya sang kapitalis tekstil saja.

Kita menghendaki, kita pergi ke Bogor, kemana-mana naik auto. Kalau Gandhi tidak. Naik gerobak, teklik, teklik, teklik, naik gerobak.

Kita menghendaki kapal udara untuk rakyat. Dus cita-cita sosial kita tinggi. Dan ingin yang aku mau peringatkan kepadamu, penyelenggaraan daripada cita-cita sosial yang tinggi itu tidak bisa, tidak mungkin tanpa kader. Kader perlu sekali. Kita menghendaki air sungai kita semuanya menjadi air irigasi, untuk memberi kesuburan kepada tanah kita yang sudah subur. Tapi untuk mengadakan irigasi, Saudara-saudara, perlu insinyur-insinyur irigasi, perlu arsitek-arsitek irigasi.

Kader untuk membikin tekstil, seperti tadi itu, kader. Untuk membikin jalan-jalan aspal yang beribu-ribu kilometer, kader. Masak, Saudara-saudara, saya datang di lain negeri, misalnya Afghanistan, negeri kecil Afghanistan itu, aduh saya melongo. Afghanistan itu satu negeri ya, tapi negeri seperti terbelah dua. Sini satu bagian, sini pegunungan, sini bagian nomor dua. Jadi, dua bagian yang terpisah satu sama lain oleh gunung. Hh, coba, hampir-hampir seperti kita terpisah, mana ada gunung yang memisah. Afghanistan, Saudara-saudara, berkata, tidak jadi apa. Kita bikin tunnel menembus gunung itu. Tunnel berkilo-kilo meter. Biar ada gunung, …

Kader untuk membuat hal yang demikian itu. Kan aku sering berkata, jadilah kader, karena kader mutlak perlu. Jangan seperti dulu. Mula-mula, di dalam revolusi Soviet. Mula-mula, pemimpin-pemimpin Soviet, mula-mula mengira, oo untuk membangun sosialisme kita perlu banyak mesin, banyak lokomotif, banyak pabrik, dan perkara uang untuk membeli itu bukan soal. Kita beli saja lokomotif sebanyak-banyaknya di Jerman. Sebab, kata pemimpin Soviet itu, yang saya baca dalam salinan bahasa Inggris, machines devide everything. Machines devide everything, mesinlah yang menentukan segala hal. Tapi apa jadinya? Saudara-saudara, sekadar hanya ada mesin saja, sosialisme tidak bisa terbina, bahkan mesin-mesin itu banyak menjadi rusak dan bobrok.

Sama saja dengan kita, Saudara-saudara, kita beli traktor banyak-banyak. Dari mana Pak Leimena? Ha? Cekoslovakia. Ha, traktornya itu banyak yang terlantar, banyak yang rusak. Karena apa? Kekurangan kader dan kekurangan kemauan untuk menggerakkan traktor-traktor.

Karena itu Soviet Uni, sesudah pengalaman yang pahit dengan mesin-mesin ini saja, lantas sadar, nomor satu penting, kader!. Kemudian diadakan slogan baru untuk, terutama sekali, gerakan pemuda. Gerakan pemuda yang di Soviet dinamakan Komsomol. Pernah dengar itu? Komsomol. Wanitanya, Komsomolka. Slogan yang dulu berbunyi, machines devide everything diganti dengan kader devide everything. Kaderlah yang menentukan segala hal. Kalau ada kader, lho mbok mesinnya itu sudah bobrok, sekrupnya sudah dol semua, bisa sang kader membuat sekrup baru, jalan.

Nah, kader devide everything.
Karena itu aku mengharap kepadamu untuk menjadi kader. Belajar, membaca sebanyaknya. Belajar dengan tekun menjadi mahasiswa untuk menjadi kader, kader daripada revolusi kita.

Saya tahu kamu orang banyak yang tidak bisa masuk kuliah karena, ada hal-hal, tidak boleh, tidak boleh, GMNI tidak boleh kuliah.

Nah, ketawa itu. Ya apa tidak?
Asal tahu aja.
Ini memang yang menghalangi kamu masuk universitas ini, menghalang-halangi kamu berkuliah ini, mereka itu semuanya, semuanya ngladrah. Iha, itu yang ngladrah itu, artinya sudah tidak benar mereka punya pikiran. Bagaimana mau membentuk satu negara, bagaimana mau membentuk satu masyarakat sosialis tanpa kader, tanpa pemuda-pemudi masuk kuliah. Hh, mereka itu ngladrah. Apa bahasa Indonesia ngladrah? Ha, tidak benar itu lho.
Ha, Bu Hardi, apa ngladrah itu?
Tidak beres. Ngawur.
Tapi toh aku minta kepadamu, tekun engkau cari pengetahuan. Sebagaimana bapak-bapak Saudara telah berbuat, dengan diriku sendiri, dulu itu cari pengetahuan. Bisa di sekolahku, ya disekolahku, tidak bisa, aku cari sendiri, agar supaya kita bisa menjadi kader daripada revolusi ini.

Memang revolusi itu ya tentu, sebagai Saudara-saudara kemarin kuterangkan panjang lebar, kalau revolusi benar-benar revolusi, dan bukan sekadar insurectie. Ada beda antara revolusi dengan insurectie. Revolution and insurection. Insurection itu apa? Ya, sekadar ada semacam pemberontakan bersenjata daripada suatu golongan. Angkat senjata mengadakan pemberontakan dengan senjata, itu adalah insurectie. Kalau golongan yang kecil-kecilan itu namanya coup. Coup de ta. Coup de ta itu bukan revolusi. Insurectie bukan revolusi. Itu gendeng-gendengan.

Revolusi sejati ialah sebagai kukatakan tadi, suatu proses, satu proses masyarakat yang berisikan, berintikan penjebolan dan penanaman, satu proses masyarakat untuk membongkar sistem masyarakat itu sampai ke akar-akarnya. Sistem masyarakat, sistemnya, Saudara-saudara.

Karena itu aku selalu berkata, orde, dalam pengertianku, orde itu adalah satu social political system. Itu orde. Ada orde kapitalis. Ada orde feodalis. Itu orde. Nah, ini revolusi adalah satu proses masyarakat untuk mengubah sama sekali social political system yang berjalan di masyarakat itu. Bukan sekadar mengubah mental thinking, neen, neen, neen. Social political system, susunan masyarakat, susunan politik masyarakat. Masyarakat. Susunan ini harus kita ubah. Sebagai kukatakan tadi, ada orde kapitalis, ada orde sosialis. Nah, kita berjuang untuk orde sosialis ini. Dan jikalau kita membongkar orde kapitalis untuk menjadi orde sosialis, itulah revolusi.

Revolusi menurut ucapan yang aku citeer dalam pidatoku Indonesia Mengugat. He pemuda-pemudi baca-o, baca-o, baca, baca Indonesia Mengugat. Baca Sarinah. Hh, mahasiswa-mahasiswi baca Di Bawah Bendera Revolusi dan lain-lain. di situ aku citeer ucapan seorang profesor, Blunschli. Kamu di dalam kuliah barangkali pernah mendengar nama Prof Dr Blunschli, yang dia berkata, revolution ist apa? Eine Ungestaltung von Grund aus, revolusi adalah satu perubahan. Ungestaltung, bukan supervisel, bukan di kulit, tetapi von Grund aus. Eine Ungestaltung von Grund aus.

Nah, jikalau engkau tidak mengadakan Ungestaltung von Grund aus, engkau bukan revolusioner. Revolution ist eine, Revolution ist eine Ungestaltung von Grund aus. Dan kita ini revolusioner, oleh karena kita mau mengadakan social political system yang imperialistis, yang feodalistis, yang kapitalistis. Yang tidak sosialistis menjadi satu social political system yang sosialistis. Itu sebabnya kita ini bernama revolusioner dan menamakan diri kita revolusioner, dan hanya jikalau mengejar political system yang sosialistis itu, baru kita mempunyai hak untuk berkata, kita ini progresif revolusioner.

Yang tidak menghendaki satu social political system sosialistis, yang tidak menghendaki hancurnya kapitalisme dari luar maupun kapitalisme di dalam negeri sendiri, yang tidak menghendaki hancur-leburnya kapitalisme luar dan dalam itu, yang tidak menuju kepada sosialisme itu, dia tidak mempunyai hak untuk berkata bahwa dia adalah progresif. Perkataan progresif itu kan sekarang dikecapkan.

Semua orang berkata progresif revolusioner, progresif revolusioner, progresif revolusioner. Tanpa sebetulnya mengetahui apa arti perkataan progresif revolusioner. Kita menamakan diri progresif revolusioner oleh karena kita anti kapitalisme, anti imperialisme, anti feodalisme, pro sosialisme, mati-matian berjuang untuk sosialisme. Itulah sebabnya kita namakan diri kita progresif.

Siapa yang menentang datangnya sosialisme, menghalang-halangi datangnya sosialisme, oo lha mbok dia itu lari-lari tiap hari dengan bom dan dinamit, dia tidak progresif. Malahan aku berkata, dia itu sebetulnya retrogresif.

Progresif adalah yang menurut progresnya masyarakat. Retrogresif yaitu yang menentang, bahkan beraliran anti daripada aliran masyarakat ini.

Jadi kalau kau betul-betul progresif revolusioner, engkau harus diehartenieren engkau punya pikiran, engkau punya hati, engkau punya rambut, engkau punya urat syaraf, semuanya sosialistis. Kalau engkau tidak sosialistis sampai engkau punya pucuk rambut, sampai engkau punya pucuk urat syaraf, engkau tidak progresif. Apakah ada di kalanganmu yang tidak demikian, artinya revolusioner, revolusioner, tetapi tidak berjuang untuk datangnya sosialisme? menurut pengetahuan saya, GMNI berdiri di atas dasar ini; menjalankan revolusi, membantu kepada revolusi, riilnya revolusi yang benar, yaitu di atas riil Ampera.

Aku tadi berkata bahwa perkataan Ampera itu, ciptaan perkataannya lho, the word itself, the word Ampera itself, ciptaanku bersama-sama dengan Pak Karni. Aku menyaksikan lahirnya, bukan the word sekarang ini, lahirnya penderitaan rakyat untuk, untuk, untuk ini. Sebab aku ini dari umur 16 tahun, kataku tadi, telah berkecimpung di kalangan pergerakan. Mula gerakan pemuda, Trikoro Dharmo, Jong Java, kemudian dijadikan Jong Indonesia bersama-sama dengan pemuda-pemuda lain. dan aku menyaksikan dan ikut-ikut pertumbuhan daripada gerakan itu.

Dulu tatkala aku umur 16 tahun, aku hanya mendengar dan mempelajari gerakan tahun 1908, yaitu Pak Soedirohoesodo. Soedirohoesodo, tahun 1908, mengadakan pergerakan, gerakan, rintis, rintisan, perintis daripada gerakan nasional kita. Soedirohoesodo punya pergerakan belum nasional. Kalau nasional itu sudah meliputi seluruh natie, itu asal perkataan nasional. Soedirohoesodo tidak. Gerakannya boleh dikatakan gerakan kejawaan. Aku menyaksikan.

Kemudian waktu itu aku belum menyaksikan oleh karena aku ya, baru umur 7 tahun. Tidak tahu bagaimana. Kau umur berapa? Setidak-tidaknya bukan 7 tahun. Saya umur 7 tahun, belum mengerti apa-apa? Tapi pada waktu aku masuk rumah Tjokroaminoto, aku sudah berumur 16 tahun, aku sudah tahu gerakan kaum 1908 dari Pak Soedirohoesodo. Dan aku menyaksikan satu pertumbuhan baru daripada gerakan ini. Dulu gerakan Pak Soedirohoesodo, kecuali kejawaan, hanya dijalankan kaum terpelajar. Satu gerakan daripada kaum inteligensia, kaum terpelajar, yang dulu itu dinamakan ndoro, ndoro, dokter. Dokternya pun dokter Jawa, yaitu belum dokter seperti keluaran sekarang, tidak. Dokter Jawa. Pak Soedirohoesodo sendiri ialah dokter Jawa. Gerakan kanjeng bupati, anggota daripada Budi Utomo. Ada bupati yang anggota Budi Utomo. Bupati mana Pak Mardanus? Hayo, hh? Bupati Karanganyar, anggota Budi Utomo. Gerakan daripada ndoro-ndoro.

Tapi waktu aku masuk rumahnya Tjokroaminoto, aku menyaksikan satu fase baru. Bahwa bukan lagi itu ndoro-ndoro, kaum terpelajar, tapi gerakan rakyat, rakyat jelata, yaitu Sarikat Islam. Sarikat Islam adalah gerakan pertama yang bersifat gerakan rakyat. Ya dasarnya lain daripada kita. Dasarnya dulu itu yaitu mula-mula Sarikat Dagang Islam, hanya terdiri daripada pedagang-pedagang Islam saja. Kemudian bertumbuh menjadi gerakan rakyat dengan tujuan Islam. Itu aku saksikan. Malah aku baca, Tjokroaminoto itu saking pengikutnya bukan puluhan, bukan ratusan, bukan ribuan, tapi jutaan, Tjokroaminoto dinamakan di surat kabar Belanda de ongekroonde Koning van Java. De ongekroonde Koning van Java, raja daripada tanah Jawa yang tidak bermahkota, saking banyak pengikut. Hanya, hanya bedanya dengan kita ialah bahwa gerakan rakyat Tjokroaminoto itu berdiri di atas asas yang salah; untuk tanggapan saja. Yaitu dengan gerakan rakyat ini Sarikat Islam Pak Tjokro selalu mencari kerjasama dengan pemerintah Hindia Belanda, kerjasama. Yang belakangan menjadi perkataan kooperasi.

Sedang kita waktu itu pemuda, belakangan, pemuda ini sadar, tidak bisa, tidak bisa kita mengadakan perbaikan hanya degan kooperasi. Benar kita harus mengadakan massa aksi ini bukan lagi harus meminta, bukan lagi harus kerjasama dengan pihak Belanda, tapi harus menentang, bertempur di dalam arti yang luas terhadap kolonial Belanda. Perbedaan.

Nah, itu Saudara-saudara, saya formuleer di dalam tahun 1925-an. Sesudah aku bersama-sama dengan pemuda lain mengadakan Indonesia Muda, aku formuleer dengan perkataan pertentangan kebutuhan membuat kita harus bertentangan di dalam kita punya perjuangan.

Tidak bisa kok kita dengan pertentangan kebutuhan ini berdiri di satu platform kerjasama dengan pihak Belanda. Pertentangan kebutuhan. Kita mau merdeka, situ mau meneruskan kolonialisme. Kita mau hidup cukup, situ mau menghisap kita. Kita mau anak-anak kita semuanya masuk sekolah, situ mau memberi sekolah hanya kepada anak-anak orang dari golongan atas. Kita mau mengadakan satu sistem perwakilan, situ mau mengadakan sistem yang hanya terdiri daripada orang-orang terkemuka saja.

Pendek, selalu pertentangan kebutuhan. Dan di dalam seluruh sejarah dunia, Saudara-saudara, seluruh sejarah dunia adalah satu cerita daripada pertentangan kebutuhan. Seluruh sejarah dunia. Di dalam tiap golongan, tiap-tiap bangsa, umat manusia itu selalu ada dua golongan yang bertentangan kebutuhan.

Nah, maka oleh karena itu, Saudara-saudara, kita harus sadar bahwa kita ini bertentangan kebutuhan dengan, apalagi sekarang lho, dengan sistem yang kita menjebol luar-dalam, maupun di dalam hal lain-lain banyak pertentangan kebutuhan. Nah, kita harus sadar pertentangan kebutuhan. Berjuang terus. Kita harus berjuang menghancur-leburkan golongan yang mau mempertahankan dirinya terhadap kita punya penjebolan itu. [*]

Artikel Terkait
PIDATO SOEKARNO : LAHIRNYA PANCASILA 1/4
PIDATO SOEKARNO : LAHIRNYA PANCASILA 2/4
PIDATO SOEKARNO : LAHIRNYA PANCASILA 3/4
PIDATO SOEKARNO : LAHIRNYA PANCASILA 4/4
Selengkapnya...

PIDATO SOEKARNO : LAHIRNYA PANCASILA 4/4


PRAKATA:
Naskah ini dikutip dari buku LAHIRNYA PANCASILA,
Penerbit Guntur, Yogjakarta.

Walikukun, tertanggal 1 Juli 1947.
Dr. K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat.

KATA PENGHANTAR BAGI CETAKAN YANG KEDUA
Pada waktu yang akhir-akhir ini - berhubung dengan berlangsungnya Konperensi Meja Bundar, serta usaha menyusun Uandang-Undang Dasar Republik Indonesia Serikat -, maka banyaklah permintaan-permintaan kepada"Lahirnya Panca Sila". Untuk memenuhi permintaan-permintaan itu, maka cetakan yang kedua ini diterbitkanlah, dengan ejaan baru. Saya harap, moga-moga Panca Sila lebih meresap dalam
hati-sanubari bangsa Indonesia. Diatas dasar Panca Sila itu bangsa kita dapat
benar-benar bersatu. Dan - persatuan membawa kepada kejayaan!.

Merdeka!
ttd.
Jokyakarta 3 November 1949

Artikel Terkait
PIDATO SOEKARNO : LAHIRNYA PANCASILA 1/4
PIDATO SOEKARNO : LAHIRNYA PANCASILA 2/4
PIDATO SOEKARNO : LAHIRNYA PANCASILA 3/4
PIDATO SOEKARNO : LAHIRNYA PANCASILA 4/4

Sambungan dari PIDATO SOEKARNO : LAHIRNYA PANCASILA 3/4

Priinsip No. 4 sekarang saya usulkan, Saya di dalam 3 hari ini belum mendengarkan prinsip itu, yaitu prinsip k e s e j a h t e r a a n , p r i n s i p : t i d a k a k a n a d a k e m i s k i n a n d i d a l a m I n d o n e s i a M e r d e k a. Saya katakan tadi: prinsipnya San Min Chu I ialah Mintsu, Min Chuan, Min Sheng: nationalism, democracy, sosialism. Maka prinsip kita harus: Apakah kita mau Indonesia Merdeka, yang kaum kapitalnya merajalela, ataukah yang semua rakyat #sejahtera, yang semua orang cukup makan, cukup pakaian, hidup dalam kesejahteraan, merasa dipangku oleh Ibu Pertiwi yang cukup memberi sandang-pangan kepadanya? Mana yang kita pilih, saudara-saudara? Jangan saudara kira, bahwa kalau Badan Perwakilan Rakyat sudah ada, kita dengan sendirinya sudah mencapai kesejahteraan ini. Kita
sudah lihat, di negara-negara Eropah adalah Badan Perwakilan, adalah parlementaire democracy. Tetapi tidakkah diEropah justru kaum kapitalis merajalela?

Di Amerika ada suatu badan perwakilan rakyat, dan tidakkah di Amerika kaum kapitalis merajalela? Tidakkah di seluruh benua Barat kaum kapitalis merajalela? Padahal ada badan perwakilan rakyat! Tak lain tak bukan sebabnya, ialah oleh karena badan-badan perwakilan rakyat yang diadakan disana itu, sekedar menurut resepnya Franche Revolutie. Tak lain tak bukan adalah yang dinamakan democratie disana itu
hanyalah p o l i t i e- k e democratie saja; semata-mata tidak ada sociale rechtvaardigheid, -- tak ada k e a d i l a n s o s i a l, tidak ada e k o n o m i s c h e democratie sama sekali.
Saudara-saudara, saya ingat akan kalimat seorang pemimpin Perancis, Jean Jaures, yang menggambarkan politieke democratie. ?Di dalam Parlementaire Democratie, kata Jean Jaures, di dalam Parlementaire Democratie, tiap-tiap orang mempunyai hak sama. Hak p o l i t i e k yang sama, tiap orang boleh memilih, tiap-tiap orang boleh masuk di dalam parlement. Tetapi adakah Sociale rechtvaardigheid, adakah kenyataan kesejahteraan di kalangan rakyat?" Maka oleh karena itu Jean Jaures berkata lagi: ?Wakil kaum buruh yang mempunyai hak p o l i t i e k itu, di dalam
Parlement dapat menjatuhkan minister. Ia seperti Raja! Tetapi di dalam dia punya tempat bekerja, di dalam paberik, - sekarang ia menjatuhkan minister, besok dia dapat dilempar keluar ke jalan raya, dibikin werkloos, tidak dapat makan suatu apa".

Adakah keadaan yang demikian ini yang kita kehendaki? Saudara-saudara, saya usulkan: Kalau kita mencari demokrasi, hendaknya bukan demokrasi barat, tetapi
permusyawaratan yang memberi hidup, yakni p o l i t i e k - e c o m i s c h e democratie yang mampu mendatangkan kesejahteraan sosial! Rakyat Indonesia
sudah lama bicara tentang hal ini. Apakah yang dimaksud dengan Ratu Adil? Yang dimakksud dengan faham Ratu Adil, ialah sociale rechtvaardigheid. Rakyat ingin sejahtera. Rakyat yang tadinya merasa dirinya kurang makan kurang pakaian, menciptakan dunia-baru yang di dalamnya a d a keadilan di bawah pimpinan Ratu Adil. Maka oleh karena itu, jikalau kita memang betul-betul mengerti, mengingat mencinta rakyat Indonesia, marilah kita terima prinsip hal sociale rechtvaardigheid ini, yaitu bukan saja persamaan p o l i t i e k, saudara-saudara, tetapi pun di atas
lapangan e k o n o m i kita harus mengadakan persamaan, artinya kesejahteraan bersama yang sebaik-baiknya.
Saudara-saudara, badan permusyawaratan yang kita akan buat, hendaknya bukan badan permusyawaratan politieke democratie saja, tetapi badan yang b e r sa m a d e
n g a n m a -s y a r a k a t dapat mewujudkan dua prinsip: politieke rechtvaardigheid dan sociale rechtvaardigheid.

Kita akan bicarakan hal-hal ini bersama-sama,saudara-saudara, di dalam badan permusyawaratan. Saya ulangi lagi, segala hal akan kita selesaikan, segala hal! Juga di dalam urusan kepada negara, saya terus terang, saya tidak akan memilih monarchie. Apa sebab? Oleh karena monarchie ?vooronderstelt erfelijkheid", - turun-temurun. Saya seorang Islam, saya demokrat karena saya orang Islam, saya meng-hendaki mufakat, maka saya minta supaya tiap-tiap kepala negara pun dipilih. Tidakkah agama Islam mengatakan bahwa kepala-kepala negara, baik kalif, maupun Amirul mu'minin, harus dipilih oleh Rakyat? Tiap-tiap kali kita mengadakan kepala negara, kita pilih. Jikalau pada suatu hari Ki Bagus Hadikoesoemo misalnya, menjadi kepala negara Indonesia, dan mangkat, meninggal dunia, jangan anaknya Ki Hadikoesoemo dengan sendirinya, dengan automatis menjadi pengganti Ki Hadikoesoemo. Maka oleh karena itu saya tidak mufakat kepada prinsip monarchie
itu. Saudara-saudara, apakah prinsip ke-5? Saya telah mengemukakan 4 prinsip:
1. Kebangsaan Indonesia.
2. Internasionalisme, - atau peri-kemanusiaan.
3. Mufakat, - atau demukrasi.
4. Kesejahteraan sosial.

Prinsip yang kelima hendaknya:
Menyusun Indonesia Merdeka dengan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa.
Prinsip K e t u h a n a n ! Bukan saja bangsa Indonesia bertuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya bertuhan Tuhannya sendiri. Yang Kristen menyembah Tuhan menurut petunjuk Isa al Masih, yang Islam bertuhan menurut petunjuk Nabi Muhammad s.a.w., orang Buddha menjalankan ibadatnya menurut
kitab-kitab yang ada padanya. Tetapi marilah kita semuanya ber-Tuhan. Hendaknya negara Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan cara yang leluasa. Segenap rakyat hendaknya ber-Tuhan secara kebudayaan, yakni dengan tiada ?egoisme-agama". Dan hendaknya N e g a r a Indonesia satu N e g a r a yang bertuhan!

Marilah kita amalkan, jalankan agama, baik Islam, maupun Kristen, dengan cara yang b e r k e a d a b a n . Apakah cara yang berkeadaban itu? Ialah h o r m a t - m e n g h o r m a t i s a t u s a m a l a i n . (Tepuk tangan sebagian hadirin).

Nabi Muhammad s.a.w. telah memberi bukti yang cukup tentang verdraagzaamheid, tentang menghormati agama-agama lain. Nabi Isa pun telah menunjukkan verdraagzaamheid. Marilah kita di dalam Indonesia Merdeka yang kita susun ini, sesuai dengan itu, menyatakan: bahwa prinsip kelima dari pada Negara kita, ialah K e t u h a n a n y a n g b e r k e b u d a y a a n, Ketuanan yang berbudi pekerti yang
luhur, Ketuhanan yang hormat-menghormati satu sama lain. Hatiku akan berpesta raya, jikalau saudara-saudara menyetujui bahwa Negara Indonesia Merdeka berazaskan Ketuhanan Yang Maha Esa!

Disinilah, dalam pangkuan azas yang kelima inilah, saudara- saudara, segenap agama yang ada di Indonesia sekarang ini, akan mendapat tempat yang sebaik-baiknya. Dan Negara kita akan bertuhan pula! Ingatlah, prinsip ketiga, permufakatan, perwakilan,
disitulah tempatnya kita mempropagandakan idee kita masing-masing dengan cara yang berkebudayaan!

Saudara-saudara! ?Dasar-dasar Negara" telah saya usulkan. Lima bilangannya. Inikah Panca Dharma? Bukan! Nama Panca Dharma tidak tepat disini. Dharma berarti kewajiban, sedang kita membicarakan d a s a r. Saya senang kepada simbolik. Simbolik angka pula. Rukun Islam lima jumlahnya. Jari kita lima setangan. Kita mempunyai Panca Inderia. Apa lagi yang lima bilangannya? (Seorang yang hadir: Pendawa lima). Pendawapun lima orangya. Sekarang banyaknya prinsip; kebangsaan,
internasionalisme, mufakat, kesejahteraan dan ketuhanan, lima pula bilangannya.
Namanya bukan Panca Dharma, tetapi - saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa namanya ialah P a n c a S i l a. Sila artinya azas atau d a s a r, dan di atas kelima dasar itulah kita mendirikan Negara Indonesia, kekal dan abadi.
(Tepuktangan riuh).

Atau, barangkali ada saudara-saudara yang tidak suka akan bilangan lima itu? Saya boleh peras, sehingga tinggal 3 saja. Saudara-saudara tanya kepada saya, apakah ?perasan" yang tiga itu? Berpuluh-puluh tahun sudah saya pikirkan dia, ialah dasar-dasarnya Indonesia Merdeka, Weltanschauung kita. Dua dasar yang pertama, kebangsaan dan internasionalisme, kebangsaan dan peri-kemanusiaan, saya peras menjadi satu: itulah yang dahulu saya namakan s o c i o - n a t i o n a l i s m e .

Dan demokrasi yang bukan demokrasi barat, tetapi politiek- economische demokratie, yaitu politieke demokrasi d e n g a n sociale rechtvaardigheid, demokrasi d e n g a n kesejahteraan, saya peraskan pula menjadi satu: Inilah yang dulu saya namakan
s o c i o -d e m o c r a t i e. Tinggal lagi ketuhanan yang menghormati satu sama
lain. Jadi yang asalnya lima itu telah menjadi tiga: socio-nationalisme, socio-demokratie, dan ketuhanan. Kalau Tuan senang kepada simbolik tiga, ambillah yang
tiga ini. Tetapi barangkali tidak semua Tuan-tuan senang kepada trisila ini, dan minta satu, satu dasar saja? Baiklah, saya jadikan satu, saya kumpulkan lagi menjadi satu. Apakah yang satu itu? Sebagai tadi telah saya katakan: kita mendirikan negara Indonesia, yang k i t a s e m u a harus men-dukungnya. S e m u a b u a t s e m u a ! Bukan Kristen buat Indonesia, bukan golongan Islam buat Indonesia, bukan Van Eck buat indonesia, bukan Nitisemito yang kaya buat Indonesia, tetapi Indonesia buat Indonesia, - s em u a b u a t s e m u a ! Jikalau saya peras yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan ? g o t o ng - r o y o n g ?. Negara Indonesia yang kita dirikan haruslah negara g o t o n g r o y o n g! Alangkah hebatnya! N e g a r a G o t o n g R o y o n g ! (Tepuk tangan riuh rendah).

?Gotong Royong" adalah faham yang d i n a m i s , lebih dinamis dari?kekeluargaan", saudara-saudara! Kekeluargaan adalah satu faham yang statis, tetapi gotong-royong menggambarkan satu usaha, satu amal, satu pekerjaan, yang dinamakan anggota yang terhormat Soekardjo satu karyo, satu gawe. Marilah kita menyelesaikan karyo, gawe, pekerjaan, amal ini, b e r s a m a- s a m a ! Gotong-royong adalah pembantingan-tulang bersama, pemerasan-keringat bersama, perjoangan bantu-binantu bersama. A m a l semua buat kepentingan semua, k e r i n g a t semua buat kebahagiaan semua. Ho-lopis-kuntul-baris buat kepentingan bersama! Itulah Gotong Royong! (Tepuktangan riuh rendah).

Prinsip Gotong Royong diatara yang kaya dan yang tidak kaya, antara yang Islam dan yang Kristen, antara yang bukan Indonesia tulen dengan peranakan yang menjadi
bangsa Indonesia. Inilah, saudara-saudara, yang saya usulkan kepada saudara-saudara. Pancasila menjadi Trisila, Trisila menjadi Eka Sila. Tetapi terserah kepada tuan-tuan, mana yang Tuan-tuan pilih: trisila, ekasila ataukah pancasila? Is i n y a
telah saya katakan kepada saudara-saudara semuanya.Prinsip-prinsip seperti yang saya usulkan kepada saudara-saudara ini, adalah prinsip untuk Indonesia Merdeka yang abadi. Puluhan tahun dadaku telah menggelora dengan prinsip-prinsip itu. Tetapi
jangan lupa, kita hidup didalam masa peperangan, saudara- saudara. Di dalam masa peperangan itulah kita mendirikan negara Indonesia, - di dalam gunturnya peperangan! Bahkan saya mengucap syukur alhamdulillah kepada Allah Subhanahu wata'ala, bahwa kita mendirikan negara Indonesia bukan di dalam sinarnya bulan
purnama, tetapi di bawah palu godam peperangan dan di dalam api peperangan. Timbullah Indonesia Merdeka, Indonesia yang gemblengan, Indonesia Merdeka yang
digembleng dalam api peperangan, dan Indonesia Merdeka yang demikian itu adalah negara Indonesia yang kuat, bukan negara Indonesia yang lambat laun menjadi bubur. Karena itulah saya mengucap syukur kepada Allah s.w.t.

Berhubung dengan itu, sebagai yang diusulkan oleh beberapa pembicara-pembicara tadi, barangkali perlu diadakan noodmaatregel, peraturan bersifat sementara. Tetapi dasarnya, isinya Indonesia Merdeka yang kekal abadi menurut pendapat saya, haruslah Panca Sila. Sebagai dikatakan tadi,saudara-saudara, itulah harus Weltanschauung kita. Entah saudara- saudara mufakatinya atau tidak, tetapi saya berjoang sejak tahun 1918 sampai 1945 sekarang ini untuk Weltanschauung itu. Untuk membentuk nasionalistis Indonesia, untuk kebangsaan Indonesia; untuk kebangsaan Indonesia yang hidup di dalam peri-kemanusiaan; untuk permufakatan; untuk sociale
rechtvaardigheid; untuk ke-Tuhananan. Panca Sila, itulah yang berkobar-kobar di dalam dada saya sejak berpuluh-puluh tahun. Tetapi, saudara-saudara, diterima atau tidak, terserah saudara-saudara. Tetapi saya sendiri mengerti seinsyaf- insyafnya, bahwa tidak satu Weltaschauung dapat menjelma dengan sendirinya, menjadi realiteit dengan sendirinya. Tidak ada satu Weltanschauung dapat menjadi kenyataan, menjadi r e a l i t e i t , jika tidak dengan p e r j o an g a n! Janganpun Weltanschauung yang diadakan oleh manusia, jangan pun yang diadakan Hitler, oleh Stalin, oleh Lenin, oleh Sun Yat Sen! ?D e Mensch", -- manusia! --, harus p e r j o a n g k a n itu. Zonder perjoangan itu tidaklah ia akan menjadi realiteit! Leninisme tidak bisa menjadi realiteit zonder perjoangan seluruh rakyat Rusia, San Min Chu I tidak dapat menjadi kenyataan zonder perjoangan bangsa Tionghoa, saudara-saudara! Tidak! Bahkan saya berkata lebih lagi dari itu: zonder perjoangan manusia, tidak ada satu hal agama, tidak ada satu cita-cita agama, yang dapat menjadi realiteit. Janganpun buatan manusia, sedangkan perintah Tuhan yang tertulis di dalam kitab Qur'an,
zwart op wit (tertulis di atas kertas), tidak dapat menjelma menjadi realiteit zonder perjoangan manusia yang dinamakan ummat Islam. Begitu pula perkataan-perkataan yang tertulis didalam kitab Injil, cita-cita yang termasuk di dalamnya tidak dapat
menjelma zonder perjoangan ummat Kristen. Maka dari itu, jikalau bangsa Indonesia ingin supaya Panca Sila yang saya usulkan itu, menjadi satu realiteit, yakni jikalau kita ingin hidup menjadi satu bangsa, satu nationali- teit yang merdeka, ingin hidup
sebagai anggota dunia yang merdeka, yang penuh dengan perikemanusiaan, ingin hidup diatas dasar permusyawaratan, ingin hidup sempurna dengan sociale rechtvaardigheid, ingin hidup dengan sejahtera dan aman, dengan ke-Tuhanan yang luas dan sempurna, --janganlah lupa akan syarat untuk menyeleng-garakannya, ialah perjoangan, perjoangan, dan sekali lagi pejoangan. Jangan mengira bahwa dengan
berdirinya negara Indonesia Merdeka itu perjoangan kita telah berakhir.Tidak! Bahkan saya berkata: D i - d a l a m Indonesia Merdeka itu perjoangan kita harus berjalan t e r u s, hanya lain sifatnya dengan perjoangan sekarang, lain coraknya. Nanti kita,
bersama-sama, sebagai bangsa yang bersatu padu, berjoang terus menyelenggarakan apa yang kita cita-citakan di dalam Panca Sila. Dan terutama di
dalam zaman peperangan ini, yakinlah, insyaflah, tanamkanlah dalam kalbu saudara-saudara, bawa Indonesia Merdeka tidak dapat datang jika bangsa Indonesia tidak mengambil risiko, -- tidak berani terjun menyelami mutiara di dalam samudera yang
sedalam-dalamnya. Jikalau bangsa Indonesia tidak bersatu dan tidak menekad-mati-matian untuk mencapai merdeka, tidaklah kemerdekaan Indonesia itu akan menjadi milik bangsa Indonesia buat selama-lamanya, sampai keakhir jaman! Kemerdekaan hanya- lah diperdapat dan dimiliki oleh bangsa, yang jiwanya berkobar-kobar dengan tekad ?Merdeka, -- merdeka atau mati"! (Tepuk tangan riuh)

Saudara-sauadara! Demikianlah saya punya jawab atas pertanyaan Paduka Tuan Ketua. Saya minta maaf, bahwa pidato saya ini menjadi panjang lebar, dan sudah
meminta tempo yang sedikit lama, dan saya juga minta maaf, karena saya telah mengadakan kritik terhadap catatan Zimukyokutyoo yang saya anggap?verschrikkelijkzwaarwichtig" itu. Terima kasih!
Tepuk tangan riuh rendah dari segenap hadirin.

Tamat - The End

Artikel Terkait
PIDATO SOEKARNO : LAHIRNYA PANCASILA 1/4
PIDATO SOEKARNO : LAHIRNYA PANCASILA 2/4
PIDATO SOEKARNO : LAHIRNYA PANCASILA 3/4
PIDATO SOEKARNO : LAHIRNYA PANCASILA 4/4

Selengkapnya...

PIDATO SOEKARNO : LAHIRNYA PANCASILA 3/4


PRAKATA:
Naskah ini dikutip dari buku LAHIRNYA PANCASILA,
Penerbit Guntur, Yogjakarta.

Walikukun, tertanggal 1 Juli 1947.
Dr. K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat.

KATA PENGHANTAR BAGI CETAKAN YANG KEDUA
Pada waktu yang akhir-akhir ini - berhubung dengan berlangsungnya Konperensi Meja Bundar, serta usaha menyusun Uandang-Undang Dasar Republik Indonesia Serikat -, maka banyaklah permintaan-permintaan kepada"Lahirnya Panca Sila". Untuk memenuhi permintaan-permintaan itu, maka cetakan yang kedua ini diterbitkanlah, dengan ejaan baru. Saya harap, moga-moga Panca Sila lebih meresap dalam
hati-sanubari bangsa Indonesia. Diatas dasar Panca Sila itu bangsa kita dapat
benar-benar bersatu. Dan - persatuan membawa kepada kejayaan!.

Merdeka!
ttd.
Jokyakarta 3 November 1949

Artikel Terkait
PIDATO SOEKARNO : LAHIRNYA PANCASILA 1/4
PIDATO SOEKARNO : LAHIRNYA PANCASILA 2/4
PIDATO SOEKARNO : LAHIRNYA PANCASILA 3/4
PIDATO SOEKARNO : LAHIRNYA PANCASILA 4/4

Sambungan dari PIDATO SOEKARNO : LAHIRNYA PANCASILA 2/4

K i t a m e n d i r i k a n s a t u n e g a r a k e b a n g s a a n I n d o n e s i a. Saya minta saudara Ki Bagoes Hadikoesoemo dan saudara-saudara Islam lain: maafkanlah saya memakai perkataan ?kebangsaan" ini! Sayapun orang Islam. Tetapi saya minta kepada saudara-saudara, janganlah saudara-saudara salah faham jikalau saya katakan bahwa dasar pertama buat Indonesia ialah dasar k e b a n g s a a n . Itu bukan berarti satu kebangsaan dalam arti yang sempit, tetapi saya menghendaki satu n a s i on a l e s t a a t, seperti yang saya katakan dalam rapat di Taman Raden Saleh
beberapa hari yang lalu. Satu Nationale Staat Indonesia bukan berarti staat yang sempit. Sebagai saudara Ki Bagoes Hadikoesoemo katakan kemarin, maka tuan adalah orang bangsa Indonesia, bapak tuan pun adalah orang Indonesia, nenek tuanpun bangsa Indonesia, datuk-datuk tuan, nenek-moyang tuanpun bangsa Indonesia. Diatas satu kebangsaan Indonesia, dalam arti yang dimaksudkan oleh saudara Ki Bagoes Hadikoesoemo itulah, kita dasarkan negara Indonesia. S a t u N a t i o n a l e S t a a t ! Hal ini perlu diterangkan lebih dahulu, meski saya di dalam rapat besar di Taman Raden Saleh sedikit-sedikit telah menerangkannya. Marilah saya uraikan lebih jelas dengan mengambil tempoh sedikit: Apakah yang dinamakan
bangsa? Apakah syaratnya bangsa?

Menurut Renan syarat bangsa ialah ?kehendak akan bersatu". Perlu orang-orangnya merasa diri bersatu dan mau bersatu. Ernest Renan menyebut syarat bangsa: ?le desir d'etre ensemble", yaitu kehendak akan bersatu. Menurut definisi Ernest Renan, maka yang menjadi bangsa, yaitu satu gerombolan manusia yang mau bersatu, yang merasa dirinya bersatu. Kalau kita lihat definisi orang lain, yaitu definisi Otto Bauer, di dalam bukunya ?Die Nationalitatenfrage", disitu ditanyakan: ?Was ist eine Nation?" dan jawabnya ialah: ?Eine Nation ist eine aus chiksals-gemeinschaft erwachsene
Charaktergemeinschaft". Inilah menurut Otto Bauer satu natie. (Bangsa adalah
satu persatuan perangai yang timbul karena persatuan nasib). Tetapi kemarinpun, tatkala, kalau tidak salah, Prof. Soepomo mensitir Ernest Renan, maka anggota yang
terhormat Mr. Yamin berkata: ?verouderd",?sudah tua". Memang tuan-tuan sekalian, definisi Ernest Renan sudah ?verouderd", sudah tua. Definisi Otto Bauer pun sudah
tua. Sebab tatkala Otto Bauer mengadakan definisinya itu, tatkala itu belum timbul satu wetenschap baru, satu ilmu baru, yang dinamakan Geopolitik. Kemarin, kalau tidak salah, saudara Ki Bagoes Hadikoesoemo, atau Moenandar, mengatakan tentang
?Persatuan antara orang dan tempat". Persatuan antara orang dan tempat, tuan-tuan sekalian, persatuan antara manusia dan tempatnya! Orang dan tempat tidak dapat dipisahkan! Tidak dapat dipisahkan rakyat dari bumi yang ada di bawah kakinya.
Ernest Renan dan Otto Bauer hanya sekedar melihat orangnya. Mereka hanya memikirkan ?Gemeinschaft"nya dan perasaan orangnya, ?l'ame et desir". Mereka hanya mengingat karakter, tidak mengingat tempat, tidak mengingat bumi, bumi yang didiami manusia itu, Apakah tempat itu? Tempat itu yaitu t a n a h a i r . Tanah air itu adalah satu kesatuan. Allah s.w.t membuat peta dunia, menyusun peta dunia. Kalau kita melihat peta dunia, kita dapat menunjukkan dimana?kesatuan-kesatuan" disitu. Seorang anak kecilpun, jukalau ia melihat peta dunia, ia dapat menunjukkan bahwa kepulauan Indonesia merupakan satu kesatuan. Pada peta itu dapat ditunjukkan satu
kesatuan gerombolan pulau-pulau diantara 2 lautan yang besar, lautan Pacific dan lautan Hindia, dan diantara 2 benua, yaitu benua Asia dan benua Australia. Seorang anak kecil dapat mengatakan, bahwa pulau-pulau Jawa,Sumatera, Borneo, Selebes,
Halmaheira, Kepulauan Sunda Kecil, Maluku, dan lain-lain pulau kecil diantaranya, adalah satu kesatuan. Demikian pula tiap-tiap anak kecil dapat melihat pada peta bumi, bahwa pulau-pulau Nippon yang membentang pada pinggir Timur benua Asia sebagai?golfbreker" atau pengadang gelombang lautan Pacific, adalah satu kesatuan.
Anak kecilpun dapat melihat, bahwa tanah India adalah satu kesatuan di Asia Selatan, dibatasi oleh lautan Hindia yang luas dan gunung Himalaya. Seorang anak kecil pula dapat mengatakan, bahwa kepulauan Inggris adalah satu kesatuan. Griekenland atau Yunani dapat ditunjukkan sebagai kesatuan pula, Itu ditaruhkan oleh Allah s.w.t. demikian rupa. Bukan Sparta saja, bukan Athene saja, bukan Macedonia saja, tetapi Sparta plus Athene plus Macedonia plus daerah Yunani yang lain-lain, segenap kepulauan Yunani, adalah satu kesatuan. Maka manakah yang dinamakan tanah tumpah-darah kita, tanah air kita? Menurut geopolitik, maka Indonesialah tanah air kita. Indonesia yang bulat, bukan Jawa saja, bukan Sumatera saja, atau Borneo saja, atau Selebes saja, atau Ambon saja, atau Maluku saja, tetapi segenap kepulauan uang ditunjuk oleh Allah s.w.t. menjadi suatu kesatuan antara dua benua dan dua
samudera, itulah tanah air kita!
Maka jikalau saya ingat perhubungan antara orang dan tempat, antara rakyat dan buminya, maka tidak cukuplah definisi yang dikatakan oeh Ernest Renan dan Otto Bauer itu. Tidak cukup ?le desir d'etre ensembles", tidak cukup definisi Otto Bauer ?aus schiksalsgemeinschaft erwachsene Charaktergemeinschaft" itu. Maaf saudara-saudara, saya mengambil contoh Minangkabau, diantara bangsa di Indonesia, yang paling ada ?desir d'entre ensemble", adalah rakyat Minangkabau, yang banyaknya kira-kira 2,5 milyun. Rakyat ini merasa dirinya satu keluarga. Tetapi Minangkabau bukan satu kesatuaan, melainkan hanya satu bahagian kecil dari pada satu kesatuan! Penduduk Yogyapun adalah merasa ?le desir d"etre ensemble", tetapi Yogyapun hanya satu bahagian kecil dari pada satu kesatuan. Di Jawa Barat rakyat Pasundan sangat
merasakan ?le desir d'etre ensemble", tetapi Sundapun hanya satu bahagian kecil dari pada satu kesatuan.

Pendek kata, bangsa Indonesia, Natie Indonesia, bukanlah sekedar satu golongan orang yang hidup dengan ?le desir d'etre ensemble" diatas daerah kecil seperti
Minangkabau, atau Madura, atau Yogya, atau Sunda, atau Bugis, tetapi bangsa Indonesia ialah s e l u r u h manusia-manusia yang, menurut geopolitik yang telah
ditentukan oleh s.w.t., tinggal dikesatuannya semua pulau-pulau Indonesia dari ujung Utara Sumatra sampai ke Irian! S e l u r u h n y a !, karena antara manusia 70.000.000 ini sudah ada ?le desir d'etre enemble", sudah terjadi ?Charaktergemeinschaft"! Natie Indonesia, bangsa Indonesia, ummat Indonesia jumlah orangnya adalah 70.000.000, tetapi 70.000.000 yang telah menjadi s a t u, s a t u, sekali lagi sa t u ! (Tepuk tangan hebat).

Kesinilah kita semua harus menuju: mendirikan satu Nationale staat, diatas kesatuan bumi Indonesia dari Ujung Sumatera sampai ke Irian. Saya yakin tidak ada satu golongan diatara tuan-tuan yang tidak mufakat, baik Islam maupun golongan yang dinamakan ?golongan kebangsaan". Kesinilah kita harus menuju semuanya. Saudara-saudara, jangan orang mengira bahwa tiap-tiap negara merdeka adalah satu nationale staat! Bukan Pruisen, bukan Beieren, bukan Sakssen adalah nationale staat, tetapi seluruh Jermanialah satu nationale staat. Bukan bagian kecil-kecil, bukan Venetia, bukan Lombardia, tetapi seluruh Italialah, yaitu seluruh semenanjung di Laut Tengah, yang diutara dibatasi pegunungan Alpen, adalah nationale staat. Bukan Benggala, bukan Punjab, bukan Bihar dan Orissa, tetapi seluruh segi-tiga Indialah nanti harus menjadi nationale staat.
Demikian pula bukan semua negeri-negeri di tanah air kita yang merdeka dijaman dahulu, adalah nationale staat. Kita hanya 2 kali mengalami nationale staat, yaitu di jaman Sri Wijaya dan di zaman Majapahit. Diluar dari itu kita tidak mengalami nationale staat. Saya berkata dengan penuh hormat kepada kita punya raja-raja dahulu, saya berkata dengan beribu-ribu hormat kepada Sultan Agung Hanyokrokoesoemo, bahwa Mataram, meskipun merdeka, bukan nationale staat.
Dengan perasaan hormat kepada Prabu Siliwangi di Pajajaran, saya berkata, bahwa kerajaannya bukan nationale staat. Dengan persaan hormat kepada Prabu Sultan Agung Tirtayasa, berkata, bahwa kerajaannya di Banten, meskipun merdeka, bukan satu nationale staat. Dengan perasaan hormat kepada Sultan Hasanoedin di Sulawesi yang telah membentuk kerajaan Bugis, saya berkata, bahwa tanah Bugis yang merdeka itu bukan nationale staat. Nationale staat hanya Indonesia s e l u r u h n y a, yang telah berdiri dijaman Sri Wijaya dan Majapahit dan yang kini pula kita harus dirikan bersama-sama. Karena itu, jikalau tuan-tuan terima baik, marilah kita mengambil sebagai dasar Negara yang pertama: K e b a n g s a a n I n d o n e s i a . Kebangsaan Indonesia yang bulat! Bukan kebangsaan Jawa, bukan kebangsaan Sumatera, bukan kebangsaan Borneo, Sulawesi, Bali, atau lain-lain,tetapi k e b a n g s a a n I n d o n e s i a, yang bersama-sama menjadi dasar satu nationale staat. Maaf, Tuan Lim Koen Hian, Tuan tidak mau akan kebangsaan? Di dalam pidato Tuan, waktu ditanya sekali lagi oleh Paduka Tuan fuku-Kaityoo, Tuan menjawab: ?Saya tidak mau akan kebangsaan". T U A N L I M K O E N H I A N : Bukan begitu. Ada sambungannya lagi. T U A N S O E K A R N O : Kalau begitu, maaf, dan saya mengucapkan terima kasih, karena tuan Lim Koen Hian pun menyetujui dasar kebangsaan. Saya tahu, banyak juga orang-orang Tionghoa klasik yang tidak mau akan dasar kebangsaan,
karena mereka memeluk faham kosmopolitisme, yang mengatakan tidak ada kebangsaan, tidak ada bangsa. Bangsa Tionghoa dahulu banyak yang kena penyakit
kosmopolitisme, sehingga mereka berkata bahwa tidak ada bangsa Tionghoa, tidak ada bangsa Nippon, tidak ada bangsa India, tidak ada bangsa Arab, tetapi semuanya ?menschheid",?peri kemanusiaan". Tetapi Dr. Sun Yat Sen bangkit, memberi pengajaran kepada rakyat Tionghoa, bahwa a d a kebangsaan Tionghoa! Saya mengaku, pada waktu saya berumur 16 tahun, duduk di bangku sekolah H.B.S. di Surabaya, saya dipengaruhi oleh seorang sosialis yang bernama A. Baars, yang
memberi pelajaran kepada saya, - katanya: jangan berfaham kebangsaan, tetapi berfahamlah rasa kemanusiaan sedunia, jangan mempunyai rasa kebangsan sedikitpun. Itu terjadi pada tahun 17. Tetapi pada tahun 1918, alhamdulillah, ada orang lain yang memperingatkan saya, - ialah Dr SunYat Sen! Di dalam tulisannya ?San Min Chu I" atau ?The Three People's Principles", saya mendapat pelajaran yang membongkar kosmopolitisme yang diajarkan oleh A. Baars itu. Dalam hati saya sejak itu tertanamlah r a s a k e b a n g s a a n, oleh pengaruh ?The Three People"s Principles" itu.
Maka oleh karena itu, jikalau seluruh bangsa Tionghoa menganggap Dr. Sun Yat Sen sebagai penganjurnya, yakinlah, bahwa Bung Karno juga seorang Indonesia yang
dengan perasaan hormat-sehormat-hormatnya merasa berterima kasih kepada Dr. Sun Yat Sen, - sampai masuk kelobang kubur.
(Anggauta-anggauta Tionghoa bertepuk tangan).

Saudara-saudara. Tetapi ........ tetapi ...........memang prinsip kebangsaan ini ada b a h a y a n y a ! Bahayanya ialah mungkin orang meruncingkan nasionalisme menjadi
chauvinisme, sehingga berfaham ?Indonesia uber Alles". Inilah bahayanya! Kita cinta tanah air yang satu, merasa berbangsa yang satu, mempunyai bahasa yang satu. Tetapi Tanah Air kita Indonesia hanya satu bahagian kecil saja dari pada dunia! Ingatlah akan hal ini!
Gandhi berkata: ?Saya seorang nasionalis, tetapi kebangsaan saya adalah perikemanusiaan ?My nationalism is humanity". Kebangsaan yang kita anjurkan bukan kebangsaan yang menyendiri, bukan chauvinisme, sebagai dikobar-kobarkan orang di Eropah, yang mengatakan?Deutschland uber Alles", tidak ada yang setinggi Jermania, yang katanya, bangsanya minulyo, berambut jagung dan bermata biru, ?bangsa Aria", yang dianggapnya tertinggi diatas dunia, sedang bangsa lain-lain tidak ada harganya. Jangan kita berdiri di atas azas demikian, Tuan-tuan, jangan berkata, bahwa bangsa Indonesialah yang terbagus dan termulya, serta meremehkan bangsa lain. Kita harus menuju persatuan dunia, persaudaraan dunia.

Kita bukan saja harus mendirikan negara Indonesia Merdeka, tetapi kita harus menuju pula kepada kekeluargaan bangsa-bangsa. Justru inilah prinsip saya yang kedua. Inilah filosofisch principe yang nomor dua, yang saya usulkan kepada Tuan-tuan, yang boleh saya namakan?i n t e r n a s i o n a l i m e". Tetapi jikalau saya katakan
internasionalisme, bukanlah saya bermaksud k o s m o p o l i t i s m e, yang tidak mau adanya kebangsaan, yang mengatakan tidak ada Indonesia, tidak ada Nippon,
tidak ada Birma, tidak ada Inggris, tidak ada Amerika, dan lain-lainnya. Internasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak berakar di dalam buminya nasionalisme. Nasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak hidup dalam taman-sarinya internasionalisme. Jadi, dua hal ini, saudara-saudara, prinsip 1 dan prinsip 2, yang pertama-tama saya usulkan kepada tuan-tuan sekalian, adalah bergandengan erat satu sama lain. Kemudian, apakah dasar yang ke-3? Dasar itu ialah dasar mufakat, dasar perwakilan, dasar permusyawaratan. Negara Indonesia bukan satu negara untuk satu orang, bukan satu negara untuk satu golongan, walaupun golongan kaya. Tetapi kita mendirikan negara ?semua buat semua", ?satu buat semua, semua buat satu". S a y a y a k i n s y a r a t y a n g m u t l a k u n t u k k u a t n y a n e g a r a I n - d o n e s i a i a l a h p e r m u s y a w a r a t a n p e r w a k i l a n .
Untuk pihak Islam, inilah tempat yang terbaik untuk memelihara agama. Kita, sayapun, adalah orang Islam, -- maaf beribu-ribu maaf, keislaman saya jauh belum
sempurna, -- tetapi kalau saudara-saudara membuka saya punya dada, dan melihat saya punya hati, tuan-tuan akan dapati tidak lain tidak bukan hati Islam.

Dan hati Islam Bung karno ini, ingin membela Islam dalam mufakat, dalam permusyawaratan. Dengan cara mufakat, kita perbaiki segala hal, juga keselamatan
agama, yaitu dengan jalan pembicaraan atau permusyawaratan di dalam Badan Perwakilan Rakyat. Apa-apa yang belum memuaskan, kita bicarakan di dalam
permusyawaratan. Badan perwakilan, inilah tempat kita untuk mengemukakan tuntutan-tuntutan Islam. Disinilah kita usulkan kepada pemimpin-pemimpin rakyat, apa-apa yang kita rasa perlu bagi perbaikan. Jikalau memang kita rakyat Islam, marilah kita bekerja sehebat-hebatnya, agar-supaya sebagian yang terbesar dari pada kursi-kursi badan perwakilan Rakyat yang kita adakan, diduduki oleh utusan Islam.Jikalau memang rakyat Indonesia rakyat yang bagian besarnya rakyat Islam, dan jikalau memang Islam disini agama yang hidup berkobar-kobar didalam kalangan rakyat, marilah kita pemimpin-pemimpin menggerakkan segenap rakyat
itu, agar supaya mengerahkan sebanyak mungkin utusan-utusan Islam ke dalam badan perwakilan ini. Ibaratnya badan perwakilan Rakyat 100 orang anggautanya, marilah kita bekerja, bekerja sekeras-kerasnya, agar supaya 60,70, 80, 90 utusan
yang duduk dalam perwakilan rakyat ini orang Islam, pemuka-pemuka Islam. dengan sendirinya hukum-hukum yang keluar dari badan perwakilan rakyat itu, hukum Islam pula. Malahan saya yakin, jikalau hal yang demikian itu nyata terjadi, barulah boleh dikatakan bahwa agama Islam benar-benar h i d u p di dalam jiwa rakyat, sehingga 60%, 70%, 80%, 90% utusan adalah orang Islam, pemuka-pemuka Islam, ulama-ulama Islam. Maka saya berkata, baru jikalau demikian, baru jikalau demikian, h i d u p l a h Islam Indonesia, dan bukan Islam yang hanya diatas bibirsaja. Kita berkata, 90% dari pada kita beragama Islam, tetapi lihatlah didalam sidang ini berapa % yang memberikan suaranya kepada Islam? Maaf seribu maaf, saya tanya hal itu! Bagi saya
hal itu adalah satu bukti, bahwa Islam belum hidup sehidup-hidupnya di dalam kalangan rakyat. Oleh karena itu, saya minta kepada saudara-saudara sekalian, baik
yang bukan Islam, maupun terutama yang Islam, setujuilah prinsip nomor 3 ini, yaitu prinsip permusyawaratan, perwakilan. Dalam perwakilan nanti ada perjoangan sehebat-hebatnya. Tidak ada satu staat yang hidup betul-betul hidup, jikalau di dalam
badan-perwakilannya tidak seakan-akan bergolak mendidih kawah Candradimuka, kalau tidak ada perjoangan faham di dalamnya. Baik di dalam staat Islam, maupun di dalam staat Kristen, perjoangan selamanya ada. Terimalah prinsip nomor 3, prinsip
mufakat, prinsip perwakilan rakyat! Di dalam perwakilan rakyat saudara-saudara islam dan saudara-saudara kristen bekerjalah sehebat- hebatnya. Kalau misalnya orang Kristen ingin bahwa tiap-tiap letter di dalam peraturan-peraturan negara Indonesia harus menurut Injil, bekerjalah mati-matian, agar supaya sebagian besar dari pada utusan-utusan yang masuk badan perwakilan Indonesia ialah orang kristen,
itu adil, - fair play!. Tidak ada satu negara boleh dikatakan negara hidup, kalau tidak ada perjoangan di dalamnya. Jangan kira di Turki tidak ada perjoangan. Jangan kira dalam negara Nippon tidak ada pergeseran pikiran. Allah subhanahuwa Ta'ala memberi pikiran kepada kita, agar supaya dalam pergaulan kita sehari-hari, kita selalu bergosok, seakan-akan menumbuk membersihkan gabah, supaya keluar dari
padanya beras, dan beras akan menjadi nasi Indonesia yang sebaik-baiknya. Terimalah saudara-saudara, prinsip nomor 3, yaitu prinsip permusyawaratan

Bersambung ke PIDATO SOEKARNO : LAHIRNYA PANCASILA 4/4

Artikel Terkait
PIDATO SOEKARNO : LAHIRNYA PANCASILA 1/4
PIDATO SOEKARNO : LAHIRNYA PANCASILA 2/4
PIDATO SOEKARNO : LAHIRNYA PANCASILA 3/4
PIDATO SOEKARNO : LAHIRNYA PANCASILA 4/4

Selengkapnya...

PIDATO SOEKARNO : LAHIRNYA PANCASILA 2/4


PRAKATA:
Naskah ini dikutip dari buku LAHIRNYA PANCASILA,
Penerbit Guntur, Yogjakarta.

Walikukun, tertanggal 1 Juli 1947.
Dr. K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat.

KATA PENGHANTAR BAGI CETAKAN YANG KEDUA
Pada waktu yang akhir-akhir ini - berhubung dengan berlangsungnya Konperensi Meja Bundar, serta usaha menyusun Uandang-Undang Dasar Republik Indonesia Serikat -, maka banyaklah permintaan-permintaan kepada"Lahirnya Panca Sila". Untuk memenuhi permintaan-permintaan itu, maka cetakan yang kedua ini diterbitkanlah, dengan ejaan baru. Saya harap, moga-moga Panca Sila lebih meresap dalam
hati-sanubari bangsa Indonesia. Diatas dasar Panca Sila itu bangsa kita dapat
benar-benar bersatu. Dan - persatuan membawa kepada kejayaan!.

Merdeka!
ttd.
Jokyakarta 3 November 1949

Artikel Terkait
PIDATO SOEKARNO : LAHIRNYA PANCASILA 1/4
PIDATO SOEKARNO : LAHIRNYA PANCASILA 2/4
PIDATO SOEKARNO : LAHIRNYA PANCASILA 3/4
PIDATO SOEKARNO : LAHIRNYA PANCASILA 4/4

Sambungan dari PIDATO SOEKARNO : LAHIRNYA PANCASILA 1/4

Cobalah pikirkan hal ini dengan memperbandingkannya dengan manusia. Manusia pun demikian, saudara-saudara! Ibaratnya, kemerdekaan saya bandingkan dengan
perkawinan. Ada yang berani kawin, lekas berani kawin, ada yang takut kawin. Ada yang berkata: Ah saya belum berani kawin, tunggu dulu gajih F.500. Kalau saya
sudah mempunyai rumah gedung, sudah ada permadani, sudah ada lampu listrik, sudah mempunyai tempat tidur yang mentul-mentul, sudah mempunyai sendok-garpu perak satu kaset, sudah mempunyai ini dan itu, bahkan sudah mempunyai kinder-uitzet, barulah saya berani kawin. Ada orang lain yang berkata: saya sudah berani kawin kalau saya sudah mempunyai meja satu, kursi empat, yaitu ?meja-makan", lantas satu zitje, lantas satu tempat tidur. Ada orang yang lebih berani lagi dari itu, yaitu saudara-saudara Marhaen! Kalau dia sudah mempunyai gubug saja dengan tikar, dengan satu periuk: dia kawin. Marhaen dengan satu tikar, satu gubug: kawin.
Sang klerk dengan satu meja, empat kursi, satu zitje, satu tempat-tidur: kawin.
Sang Ndoro yang mempunyai rumah gedung, elektrische kookplaat, tempat tidur, uang bertimbun-timbun: kawin. Belum tentu mana yang lebih gelukkig, belum tentu mana yang lebih bahagia, sang Ndoro dengan tempat tidurnya yang mentul-mentul, atau Sarinem dan Samiun yang hanya mempunyai satu tikar dan satu periuk, saudara-saudara! (Tepuk tangan, dan tertawa)

Saudara-saudara, soalnya adalah demikian: k i t a i n i b e r a n i m e r d e k a a t a u t i d a k?? Inilah, saudara-saudara sekalian, Paduka tuan ketua yang mulia, ukuran saya yang terlebih dulu saya kemukakan sebelum saya bicarakan hal-hal yang mengenai dasarnya satu negara yang merdeka. Saya mendengar uraian P.T. Soetardjo beberapa hari yang lalu, tatkala menjawab apakah yang dinamakan merdeka, beliau mengatakan: kalau tiap-tiap orang di dalam hatinya telah merdeka, itulah kemerdekaan. Saudara-saudara, jika t i a p - t i a p orang Indonesia yang 70
milyun ini lebih dulu harus merdeka di dalam hatinya, sebelum kita dapat mencapai political independence, saya ulangi lagi, sampai lebur kiamat kita belum dapat
Indonesia merdeka! (Tepuk tangan riuh).

D i d a l a m Indonesia merdeka itulah kita m e m e r d e k a k a k a n rakyat kita!! D i d a l a m Indonesia Merdeka itulah kita m e m e r d e k a k a n hatinya bangsa kita! D i d a l a m Saudi Arabia Merdeka, Ibn Saud m e m e r d e k a k a n rakyat
Arabia satu persatu. D i d a l a m Soviet-Rusia Merdeka Stalin m e m e r d e k a - k a n hati bangsa Soviet-Rusia satu persatu. Saudara-saudara! Sebagai juga salah seorang pembicara berkata: kita bangsa Indonesia tidak sehat badan, banyak penyakit malaria, banyak dysenterie, banyak penyakit hongerudeem, banyak ini banyak itu. ?Sehatkan dulu bangsa kita, baru kemudian merdeka". Saya berkata, kalau inipun harus diselesaikan lebih dulu, 20 tahun lagi kita belum merdeka. D i d a l a m Indonesia Merdeka itulah kita menyehatkan rakyat kita, walaupun misalnya tidak dengan kinine, tetapi kita kerahkan segenap masyarakat kita untuk menghilangkan penyakit malaria dengan menanam ketepeng kerbau. D i d a l a m Indonesia Merdeka kita melatih pemuda kita agar supaya menjadi kuat, d i d a l a m Indonesia Merdeka kita menyehatkan rakyat sebaik-baiknya. Inilah maksud saya dengan perkataan ?jembatan". Di seberang jembatan, j e m b a t a n e m a s, inilah, baru kita l e l u a s a menyusun masyarakat Indonesia merdeka yang gagah, kuat, sehat,
kekal dan abadi. Tuan-tuan sekalian! Kita sekarang menghadapi satu saat yang maha penting. Tidakkah kita mengetahui, sebagaimana telah diutarakan oleh berpuluh-puluh
pembicara, bahwa sebenarnya internationalrecht, hukum internasional, menggampangkan pekerjaan kita? Untuk menyusun, mengadakan, mengakui satu negara yang merdeka, tidak diadakan syarat yang neko-neko, yang menjelimet, tidak!. Syaratnya sekedar bumi, rakyat, pemerintah yang teguh! Ini sudah cukup untuk internationalrecht. Cukup, saudara-saudara. Asal ada buminya, ada rakyatnya, ada pemerintahnya, kemudian diakui oleh salah satu negara yang lain, yang merdeka, inilah yang sudah bernama: merdeka. Tidak peduli rakyat dapat baca atau tidak, tidak peduli rakyat hebat ekonominya atau tidak, tidak peduli rakyat bodoh atau pintar, asal menurut hukum internasional mempunyai syarat-syarat suatu negara merdeka, yaitu
ada rakyatnya, ada buminya dan ada pemerintahnya, -sudahlah ia merdeka.

Janganlah kita gentar, zwaarwichtig, lantas mau menyelesaikan lebih dulu 1001 soal yang bukan-bukan! Sekali lagi saya bertanya: Mau merdeka apa tidak? Mau merdeka atau tidak? (Jawab hadlirin: Mau!)

Saudara-saudara! Sesudah saya bicarakan tentang hal ?merdeka",maka sekarang saya bicarakan tentang hal d a s a r.
Paduka tuan Ketua yang mulia! Saya mengerti apakah yang paduka tuan Ketua kehendaki! Paduka tuan Ketua minta d a s a r , minta p h i l o s o p h i s c h e
g r o n d s l a g , atau, jikalau kita boleh memakai perkataan yang muluk-muluk, Paduka tuan Ketua yang mulia meminta suatu ?Weltanschauung", diatas mana kita
mendirikan negara Indonesia itu. Kita melihat dalam dunia ini, bahwa banyak
negeri-negeri yang merdeka, dan banyak diantara negeri-negeri yang merdeka itu berdiri di atas suatu?Weltanschauung". Hitler mendirikan Jermania diatas ?national-sozialistische Weltanschauung", -filsafat nasional-sosialisme telah menjadi dasar
negara Jermania yang didirikan oleh Adolf Hitler itu. Lenin mendirikan negara Soviet diatas satu ?Weltanschauung", yaitu Marxistische, Historisch-materialistische Weltanschaung. Nippon mendirikan negara negara dai Nippon di atas satu
?Weltanschauung", yaitu yang dinamakan ?Tennoo Koodoo Seishin". Diatas ?Tennoo Koodoo Seishin" inilah negara dai Nippon didirikan. Saudi Arabia, Ibn Saud,
mendirikan negara Arabia di atas satu ?Weltanschauung", bahkan diatas satu dasar agama, yaitu Islam. Demikian itulah yang diminta oleh paduka tuan Ketua yang mulia: Apakah ?Weltanschauung" kita, jikalau kita hendak mendirikan Indonesia yang merdeka?

Tuan-tuan sekalian, ?Weltanschauung" ini sudah lama harus kita bulatkan di dalam hati kita dan di dalam pikiran kita, sebelum Indonesia Merdeka datang. Idealis-idealis di seluruh dunia bekerja mati-matian untuk mengadakan bermacam-macam ?Weltanschauung", bekerja mati-matian untuk me"realiteitkan"?Weltanschauung" mereka itu. Maka oleh karena itu, sebenarnya tidak benar perkataan anggota yang terhormat Abikusno, bila beliau berkata, bahwa banyak sekali negara-negara merdeka didirikan dengan isi seadanya saja, menurut keadaan, Tidak! Sebab
misalnya, walaupun menurut perkataan John Reed: ?Soviet-Rusia didirikan didalam 10 hari oleh Lenin c.s.", - John Reed, di dalam kitabnya:?Ten days that shook the world", ?sepuluh hari yang menggoncangkan dunia" -, walaupun Lenin mendirikan Soviet-Rusia di dalam 10 hari, tetapi ?Weltanschauung"nya, dan di dalam 10 hari itu hanya sekedar direbut kekuasaan, dan ditempatkan negara baru itu diatas ?Weltanschauung" yang sudah ada. Dari 1895 ?Weltanschauung" itu telah disusun. Bahkan dalam revolutie 1905,Weltanschauung itu ?dicobakan", di ?generale-repetitie-kan". Lenin di dalam revolusi tahun 1905 telah mengerjakan apa yang dikatakan oleh beliau sendiri
?generale-repetitie" dari pada revolusi tahun 1917. Sudah lama sebelum 1917, ?Weltanschaung" itu disedia-sediakan, bahkan diikhtiar-ikhtiarkan. Kemudian, hanya dalam 10 hari, sebagai dikatakan oleh John Reed, hanya dalam 10 hari itulah didirikan negara baru, direbut kekuasaan, ditaruhkan kekuasaan itu di atas ?Weltanschauung" yang telah berpuluh-puluh tahun umurnya itu. Tidakkah pula Hitler demikian?

Di dalam tahun 1933 Hitler menaiki singgasana kekuasaan, mendirikan negara Jermania di atas National-sozialistische Weltanschauung. Tetapi kapankah Hitler mulai menyediakan dia punya ?Weltanschauung" itu? Bukan di dalam tahun 1933,
tetapi di dalam tahun 1921 dan 1922 beliau telah bekerja, kemudian mengikhtiarkan pula, agar supaya Naziisme ini, ?Weltanschauung" ini, dapat menjelma dengan dia punya ?Munschener Putsch", tetapi gagal. Di dalam 1933 barulah datang saatnya yang beliau dapat merebut kekuasaan, dan negara diletakkan oleh beliau di atas dasar?Weltanschauung" yang telah dipropagandakan berpuluh-puluh tahun itu.
Maka demikian pula, jika kita hendak mendirikan negara Indonesia Merdeka, Paduka tuan ketua, timbullah pertanyaan: Apakah ?Weltanschauung" kita, untuk mendirikan negara Indonesia Merdeka diatasnya? Apakah nasional-sosialisme? Apakah historisch-materialisme? Apakah San Min Chu I, sebagai dikatakan doktor Sun Yat Sen?

Di dalam tahun 1912 Sun Yat Sen mendirikan negara Tiongkok merdeka, tetapi ?Weltanschauung"nya telah dalam tahun 1885, kalau saya tidak salah, dipikirkan,
dirancangkan. Di dalam buku ?The three people"s principles" San Min Chu I, - Mintsu, Minchuan, Min Sheng, - nasionalisme, demokrasi, sosialisme,-telah digambarkan oleh doktor Sun Yat Sen Weltanschauung itu, tetapi baru dalam tahun 1912 beliau mendirikan negara baru diatas ?Weltanschauung" San Min Chu I itu, yang telah disediakan terdahulu berpuluh-puluh tahun. Kita hendak mendirikan negara Indonesia merdeka di atas ?Weltanschauung" apa? Nasional-sosialisme-kah, Marxisme-kah, San Min Chu I-kah, atau ?Weltanschauung" apakah?

Saudara-saudara sekalian, kita telah bersidang tiga hari lamanya, banyak pikiran telah dikemukakan, - macam-macam - , tetapi alangkah benarnya perkataan dr
Soekiman, perkataan Ki Bagoes Hadikoesoemo, bahwa kita harus mencari persetujuan, mencari persetujuan faham. Kita bersama-sama mencari p e r s a t u a n p h i l o s o p h i s c h e g r o n d s l a g , mencari satu ?Weltanschauung" yang k i t a s e m u a setuju. Saya katakan lagi s e t u j u ! Yang saudara Yamin
setujui, yang Ki Bagoes setujui, yang Ki Hajar setujui, yang sdr. Sanoesi setujui, yang sdr. Abikoesno setujui, yang sdr. Lim Koen Hian setujui, pendeknya kita semua mencari satu modus. Tuan Yamin, ini bukan compromis, tetapi kita bersama-sama mencari satu hal yang kita b e r -s a m a - s a m a setujui. Apakah itu? Pertama-tama, saudara-saudara, saya bertanya: Apakah kita hendak mendirikan Indonesia merdeka untuk sesuatu orang, untuk sesuatu golongan?

Mendirikan negara Indonesia merdeka yang namanya saja Indonesia Merdeka, tetapi sebenarnya hanya untuk mengagungkan satu orang, untuk memberi kekuasaan kepada satu golongan yang kaya, untuk memberi kekuasaan pada satu golongan bangsawan? Apakah maksud kita begitu? Sudah tentu tidak! Baik saudara-saudara yang bernama kaum kebangsaan yang disini, maupun saudara-saudara yang dinamakan kaum Islam, semuanya telah mufakat, bahwa bukan yang demikian itulah kita punya tujuan. Kita hendak mendirikan suatu negara ?semua buat semua". Bukan buat satu orang, bukan buat satu golongan, baik golongan bangsawan, maupun golongan yang kaya, - tetapi ?semua buat semua". Inilah salah satu dasar pikiran
yang nanti akan saya kupas lagi. Maka, yang selalu mendengung di dalam saya punya jiwa, bukan saja di dalam beberapa hari di dalam sidang Dokurutu Zyunbi Tyoosakai ini, akan tetapi sejak tahun 1918, 25 tahun yang lebih, ialah: Dasar pertama, yang baik dijadikan dasar buat negara Indonesia, ialah dasar k e b a n g s a a n.

Bersambung ke PIDATO SOEKARNO : LAHIRNYA PANCASILA 3/4

Artikel Terkait
PIDATO SOEKARNO : LAHIRNYA PANCASILA 1/4
PIDATO SOEKARNO : LAHIRNYA PANCASILA 2/4
PIDATO SOEKARNO : LAHIRNYA PANCASILA 3/4
PIDATO SOEKARNO : LAHIRNYA PANCASILA 4/4

Selengkapnya...

PIDATO SOEKARNO : LAHIRNYA PANCASILA 1/4


PRAKATA:
Naskah ini dikutip dari buku LAHIRNYA PANCASILA,
Penerbit Guntur, Yogjakarta.

Walikukun, tertanggal 1 Juli 1947.
Dr. K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat.

KATA PENGHANTAR BAGI CETAKAN YANG KEDUA
Pada waktu yang akhir-akhir ini - berhubung dengan berlangsungnya Konperensi Meja Bundar, serta usaha menyusun Uandang-Undang Dasar Republik Indonesia Serikat -, maka banyaklah permintaan-permintaan kepada"Lahirnya Panca Sila". Untuk memenuhi permintaan-permintaan itu, maka cetakan yang kedua ini diterbitkanlah, dengan ejaan baru. Saya harap, moga-moga Panca Sila lebih meresap dalam
hati-sanubari bangsa Indonesia. Diatas dasar Panca Sila itu bangsa kita dapat
benar-benar bersatu. Dan - persatuan membawa kepada kejayaan!.

Merdeka!
ttd.
Jokyakarta 3 November 1949

Artikel Terkait
PIDATO SOEKARNO : LAHIRNYA PANCASILA 1/4
PIDATO SOEKARNO : LAHIRNYA PANCASILA 2/4
PIDATO SOEKARNO : LAHIRNYA PANCASILA 3/4
PIDATO SOEKARNO : LAHIRNYA PANCASILA 4/4

Paduka tuan Ketua yang mulia!
Sesudah tiga hari berturut-turut anggota-anggota Dokuritu Zyunbi Tyoosakai mengeluarkan pendapat-pendapatnya, maka sekarang saya mendapat kehormatan dari Paduka tuan Ketua yang mulia untuk mengemukakan pula pendapat saya.
Saya akan menetapi permintaan Paduka tuan Ketua yang mulia. Apakah permintaan Paduka tuan ketua yang mullia? Paduka tuan Ketua yang mulia minta kepada
sidang Dokuritu Zyunbi Tyoosakai untuk mengemukakan dasar Indonesia Merdeka. Dasar inilah nanti akan saya kemukakan di dalam pidato saya ini. Ma'af, beribu ma'af! Banyak anggota telah berpidato, dan dalam pidato mereka itu diutarakan hal-hal yang
sebenarnya bukan permintaan Paduka tuan Ketua yang mulia, yaitu bukan d a s a r n y a Indonesia Merdeka. Menurut anggapan saya, yang diminta oleh Paduka tuan
ketua yang mulia ialah, dalam bahasa Belanda:"P h i l o s o f i sc h e g r o n d s l a g" dari pada Indonesia merdeka. Philosofische grondslag itulah pundamen, filsafat, pikiran yang sedalam-dalamnya, jiwa, hasrat yang sedalam-dalamnya untuk di atasnya didirikan gedung Indonesia Merdeka yang kekal dan abadi. Hal ini nanti akan saya kemukakan, Paduka tuan Ketua yang mulia, tetapi lebih dahulu izinkanlah saya
membicarakan, memberitahukan kepada tuan-tuan sekalian, apakah yang saya artikan dengan perkataan ?merdeka".
Merdeka buat saya ialah: ? p o l i t i c a l i n d e p e n d e n c e ?, p o l i t i e k e o n a f h a n k e l i j k h e i d . Apakah yang dinamakan politieke onafhankelijkheid?

Tuan-tuan sekalian! Dengan terus-terang saja saya berkata:
Tatkala Dokuritu Zyunbi Tyoosakai akan bersidang, maka saya, di dalam hati saya banyak khawatir, kalau-kalau banyak anggota yang - saya katakan didalam bahasa
asing, ma'afkan perkataan ini - ?zwaarwichtig" akan perkara yang kecil-kecil. ?Zwaarwichtig" sampai -kata orang Jawa- ?njelimet". Jikalau sudah membicarakan hal yang kecil-kecil sampai njelimet, barulah mereka berani menyatakan kemerdekaan.
Tuan-tuan yang terhormat! Lihatlah di dalam sejarah dunia, lihatlah kepada perjalanan dunia itu. Banyak sekali negara-negara yang merdeka, tetapi bandingkanlah kemerdekaan negara-negara itu satu sama lain! Samakah isinya, samakah derajatnya negara-negara yang merdeka itu? Jermania merdeka, Saudi Arabia merdeka, Iran merdeka, Tiongkok merdeka, Nippon merdeka, Amerika merdeka, Inggris merdeka, Rusia merdeka, Mesir merdeka. Namanya semuanya merdeka, tetapi bandingkanlah isinya!

Alangkah berbedanya i s i itu! Jikalau kita berkata: Sebelum Negara merdeka, maka harus lebih dahulu ini selesai,itu selesai, itu selesai, sampai njelimet!, maka saya bertanya kepada tuan-tuan sekalian kenapa Saudi Arabia merdeka, padahal 80% dari
rakyatnya terdiri kaum Badui, yang sama sekali tidak mengerti hal ini atau itu.
Bacalah buku Armstrong yang menceriterakan tentang Ibn Saud! Disitu ternyata, bahwa tatkala Ibn Saud mendirikan pemerintahan Saudi Arabia, rakyat Arabia
sebagian besar belum mengetahui bahwa otomobil perlu minum bensin. Pada suatu hari otomobil Ibn Saud dikasih makan gandum oleh orang-orang Badui di Saudi
Arabia itu!! Toch Saudi Arabia merdeka! Lihatlah pula - jikalau tuan-tuan kehendaki contoh yang lebih hebat - Soviet Rusia! Pada masa Lenin mendirikan Negara Soviet, adakah rakyat soviet sudah cerdas? Seratus lima puluh milyun rakyat Rusia, adalah
rakyat Musyik yang lebih dari pada 80% tidak dapat membaca dan menulis; bahkan dari buku-buku yang terkenal dari Leo Tolstoi dan Fulop Miller, tuan-tuan mengetahui betapa keadaan rakyat Soviet Rusia pada waktu Lenin mendirikan negara Soviet itu.
Dan kita sekarang disini mau mendirikan negara Indonesia merdeka. Terlalu banyak macam-macam soal kita kemukakan!

Maaf, P. T. Zimukyokutyoo! Berdirilah saya punya bulu, kalau saya membaca tuan punya surat, yang minta kepada kita supaya dirancangkan sampai njelimet hal
ini dan itu dahulu semuanya!

Kalau benar semua hal ini harus diselesaikan lebih dulu, sampai njelimet, maka saya tidak akan mengalami Indonesia Merdeka, tuan tidak akan mengalami Indonesia merdeka, kita semuanya tidak akan mengalami Indonesia merdeka, - sampai dilobang kubur! (Tepuk tangan riuh).

Saudara-saudara! Apakah yang dinamakan merdeka? Di dalam tahun '33 saya telah menulis satu risalah, Risalah yang bernama ?Mencapai Indonesia Merdeka".
Maka di dalam risalah tahun '33 itu, telah saya katakan, bahwa kemerdekaan, politieke onafhankelijkheid, political independence, tak lain dan tak bukan, ialah satu j e m b a t a n e m a s . Saya katakan di dalam kitab itu, bahwa d i s e b e r
a n g n y a jembatan itulah kita sempurnakan kita punya masyarakat.
Ibn Saud mengadakan satu negara di dalam s a t u m a l a m, - in one night only! -, kata Armstrong di dalam kitabnya. Ibn Saud mendirikan Saudi Arabia merdeka di satu malam sesudah ia masuk kota Riad dengan 6 orang! S e s u d a h ?jembatan" itu
diletakkan oleh Ibn saud, maka d i s e b e r a n g jembatan, artinya k e m u d i a n d a r i p a d a i t u, Ibn Saud barulah memperbaiki masyarakat Saudi arabia. Orang tidak dapat membaca diwajibkan belajar membaca, orang yang tadinya bergelandangan sebagai nomade yaitu orang badui, diberi pelajaran oleh Ibn
Saud jangan bergelandangan, dikasih tempat untuk bercocok-tanam. Nomade dirubah oleh Ibn Saud menjadi kaum tani, - semuanya diseberang jembatan. Adakah Lenin ketika dia mendirikan negara Soviet-Rusia Merdeka, telah mempunyai Djnepprprostoff*), dam yang maha besar di sungai Dnepr? Apa ia telah mempunyai
radio-station, yang menyundul keangkasa? Apa ia telah mempunyai kereta-kereta api cukup, untuk meliputi seluruh negara Rusia?

Apakah tiap-tiap orang Rusia pada waktu Lenin mendirikan Soviet Rusia merdeka t e l a h dapat membaca dan menulis? Tidak, tuan-tuan yang terhormat! Di seberang jembatan emas yang diadakan oleh Lenin itulah, Lenin baru mengadakan radio- station, baru mengadakan sekolahan, baru mengadakan Creche, baru mengadakan Djnepprostoff! Maka oleh karena itu saya minta kepada tuan-tuan sekalian,
janganlah tuan-tuan gentar di dalam hati, janganlah mengingat bahwa ini danitu lebih dulu harus selesai dengan njelimet, dan kalau sudah selesai, baru kita
dapat merdeka. Alangkah berlainannnya tuan-tuan punya semangat, - jikalau tuan-tuan demikian -, dengan semangat pemuda-pemuda kita yang 2 milyun banyaknya.
Dua milyun pemuda ini menyampaikan seruan pada saya, 2 milyun pemuda ini semua berhasrat Indonesia Merdeka Sekarang! (Tepuk tangan riuh).

Saudara-saudara, kenapa kita sebagai pemimpin rakyat, yang mengetahui sejarah, menjadi zwaarwichtig, menjadi gentar, pada hal semboyan Indonesia merdeka
bukan sekarang saja kita siarkan? Berpuluh-puluh tahun yang lalu, kita telah menyiarkan semboyan Indonesia merdeka, bahkan sejak tahun 1932 dengan nyata-nyata kita mempunyai semboyan ?INDONESIA MERDEKA SEKARANG". Bahkan 3 kali sekarang, yaitu Indonesia Merdeka s e ka r a n g , s e k a r a n g , s e k a r a n g ! (Tepuk tangan riuh).

Dan sekarang kita menghadapi kesempatan untuk menyusun Indonesia merdeka, - kok lantas kita zwaarwichtig dan gentar hati!. Saudara -saudara, saya peringatkan
sekali lagi, Indonesia Merdeka, political independence, politieke onafhankelijkheid, tidak lain dan tidak bukan ialah satu j e m b a t a n ! Jangan gentar! Jikalau umpamanya kita pada saat sekarang ini diberikan kesempatan oleh Dai Nippon untuk merdeka, maka dengan mudah Gunseikan diganti dengan orang yang bernama Tjondro Asmoro, atau Soomubutyoo diganti dengan orang yang bernama Abdul
Halim. Jikalau umpamanya Butyoo Butyoo diganti dengan orang-orang Indonesia, pada sekarang ini, sebenarnya kita telah mendapat political independence, politieke
onafhankelijkheid, - in one night, di dalam satu malam!
Saudara-saudara, pemuda-pemuda yang 2 milyun, semuanya bersemboyan:
Indonesia merdeka, s e k a r a n g ! Jikalau umpamanya Balatentera Dai Nippon sekarang menyerahkan urusan negara kepada saudara-saudara, apakah saudara-saudara akan menolak, serta berkata: mangke-rumiyin, tunggu dulu, minta ini dan itu selesai dulu, baru kita berani menerima urusan negara Indonesia merdeka?
(Seruan: Tidak! Tidak)

Saudara-saudara, kalau umpamanya pada saat sekarang ini balatentara Dai Nippon menyerahkan urusan negara kepada kita, maka satu menitpun kita tidak akan
menolak, s e k a r a n g p u n kita menerima urusan itu, s e k a r a n g p u n kita mulai dengan negara Indonesia yang Merdeka! (Tepuk tangan menggemparkan)

Saudara-saudara, tadi saya berkata, ada perbedaan antara Soviet-Rusia, Saudi Arabia, Inggris, Amerika dll. tentang isinya: tetapi ada satu yang s a m a, yaitu, rakyat Saudi Arabia sanggup m e m p e r t a h a n k a n negaranya. Musyik-musyik di Rusia sanggup mempertahankan negaranya. Rakyat Amerika sanggup mempertahankan negaranya. Inilah yang menjadi minimum-eis. Artinya, kalau ada kecakapan yang lain, tentu lebih baik, tetapi manakala sesuatu bangsa telah sanggup m e m p e r t a h a n k a n negerinya dengan darahnya sendiri, dengan dagingnya sendiri, pada saat itu bangsa itu telah masak untuk kemerdekaan. Kalau bangsa kita, Indonesia, walaupun dengan bambu runcing, saudara-saudara, semua siap-sedia mati, mempertahankan tanah air kita Indonesia, pada saat itu bangsa Indonesia adalah siap-sedia, masak untuk merdeka. (Tepuk tangan riuh)

Bersambung ke PIDATO SOEKARNO : LAHIRNYA PANCASILA 2/4

Artikel Terkait
PIDATO SOEKARNO : LAHIRNYA PANCASILA 1/4
PIDATO SOEKARNO : LAHIRNYA PANCASILA 2/4
PIDATO SOEKARNO : LAHIRNYA PANCASILA 3/4
PIDATO SOEKARNO : LAHIRNYA PANCASILA 4/4
Selengkapnya...