Semalam aku ngobrol dengan seorang Ibu yang notabene adalah seorang wanita karir dengan satu putra. Obrolan kami dibuka dengan ceritanya mengenai pandangan hidup yang dia peroleh setelah mencicipi asam garam kehidupan. Kalo sudah bicara soal pengalaman hidup, jelas saya ini bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengannya.
Namun begitu, ada beberapa pandangannya yang sangat ganjil bagiku. Juga sangat tidak masuk akal jika dibandingkan dengan apa yang aku dapatkan atas didikan tak langsung dari kedua orang tuaku. Bahkan kemudian dia mulai membandingkan ide-idenya untuk mematahkan semua mitos yang telah tertanam kuat dalam lubuk sanubariku. Sebelumnya ketahuilah kalo mitos tak selamanya sekedar pitutur sepuh yang gak rasional. Karena mitos ini bukan mengenai "jangan pake baju hijau kalo ke pantai selatan, nanti dibawa nyai loro kidul" tapi mengenai kebiasaan menabung. Lagunya gini : bang bing bung yok kita nabung, bing beng bang yok kita ke bank, tang ting tung hei jangan dihitung, tau-tau kita nanti dapet untung.
Begini mbak dan mas (khas radio-radio di banyumas kalo mbacain kisah cinta yang dikirim pasangan culun, pen), beliau menyarankanku untuk tidak usah menabung karena rejeki ada di tangan Allah. Hari esok kita pasti bisa makan kalo kita yakin dan percaya bahwa akan selalu ada jalan untuk memenuhi kebutuhan. Habiskan saja semua untuk keluargamu, anak-anakmu, dan jangan pernah irit untuk urusan makan. Wow..... Jelas semua orang ingin melakukan itu, akupun juga sangat ingin menghabiskan semua gajiku buat beli makanan terenak, baju terbagus, mobil terbaru, dan rumah termewah. Kalo aku menuruti apa kata-katanya dijamin dalam sebulan aku hanya akan mencukupi kebutuhan nomor 1 "makanan terenak". Bayangin aja kalo sekali makan terenak diperlukan biaya Rp150.000,- (3x sehari @Rp50.000,- sekali makan) maka dalam sebulan dibutuhkan Rp4.500.000,-. Wowww........ jelas gaji seorang PNS gak akan mencukupi untuk itu semua. Diperlukan korupsi yang tidak sedikit untuk tidak telanjang, tidak jalan kaki, dan tidak kehujanan atau kepanasan. Bagaimana kalo tiba-tiba keluargaku sakit, darimana aku dapet biaya berobat. Ngandelin orang lain? Fiuhhhh................. gak gue banget deh, kecuali bener-bener kepepet (tapi seringnya kepepet, hehehe...).
Lama-lama capek juga ketika dia terus menerus menyudutkanku seolah-olah aku ini pelit banget, padahal ada banyak perbedaan antara pelit dan irit. Aku punya rencana kalo dah nikah nanti bakal memberi kewenangan istri tercantik dirumah untuk mengelola semua keperluan rumah tangga. Tentu saja dengan bantuanku dan arahan-arahan yang jelas. Mengenai apa yang prioritas dan apa yang bisa ditunda. Akan kubuat komitmen bersama mengenai batasan-batasan dalam mengatur keuangan rumah tangga. Alokasi yang ketat untuk masing-masing pos pengeluaran (harus dipatuhi kecuali kepepet, hahaha.... lagi2 kepepet). Dan puncak kekesalanku ketika dia ngomong seandainya dia masih muda, dia gak bakalan mau punya pasangan model aku. Wah... ini dah mulai menyinggung perasaan nih (dek, kamu masih mau mendampingiku dalam suka dan duka kan???).
Tak terima diomongin kayak gitu, akupun mulai balik menyerang. Aku juga gak mau punya pasangan hidup yang nggak punya perencanaan dalam manghadapi hidup. Yang aku tau dia punya 2 pemasukan, dari suami (yang utama) dan dari istri (buat tambahan). Tapi selama ini masing-masing pegang penghasilan mereka sendiri dan gak disatuin (apa romantisnya coba???). Untuk operasional sehari-hari digunakanlah penghasilan istrinya sedangkan penghasilan suami digunakan untuk belanja besar mingguan di carefour, beli rumah, beli mobil, dan untuk kebutuhan suami sendiri. Memang betul seluruh kebutuhan keluarga terpenuhi tanpa si istri pusing mikirin duit. Pokoknya tiap kali butuh duit, tinggal diajak belanja dan semuanya dibayarin. Kalo aku jadi dia, aku pasti bertanya-tanya berapa sih penghasilan dia sebenarnya? Ok, mungkin gaji bisa diketahui tapi bonus-bonus, fee, insentif, dll gak pernah tau. Dan yang lebih penting lagi, apa yang dia lakukan dengan uang-uangnya itu diluaran? Namanya juga laki-laki, kalo pegang duit maunya macem-macem (semoga sih tidak). Dan kalo aku jadi dia, mana mau punya pasangan yang gak transparan kayak gitu. Emangnya aku ini wanita apa, yang gak boleh tau tentang apapun........
Aku pikir dia punya pikiran kayak gitu karena selalu melihat kehidupan yang lebih mewah. Dia selalu ngomong kalo temen-temenya yang punya penghasilan perbulan antara 10-25 juta saja gak pernah punya tabungan melimpah. Semuanya demi kesenangan anak (Ibu, anak yang diberikan materi kebablasan tanpa diimbangi sentuhan yang intens lebih cenderung untuk terjerumus ke dalam narkoba). Dan ketika dia butuh uang sepuluh juta saja mereka harus patungan beberapa orang untuk membantunya (gila aja, kalo punya penghasilan 20 juta aku tak akan direpotkan untuk membantu temen sebesar 10 juta). Tentu saja mereka berdalih karena mereka punya anak istri sehingga nggak bisa bantu banyak, sedangkan aku masih bujangan. Tapi ketahuilah kawan, uang 10 juta tu sangat besar da berarti buatku. Inikah yang disebut melindungi???? Tanpa rasa aman, karena kita tidak tau apa yang harus dilakukan ketika roda kehidupan kita ada di bawah.
Oya,... ada lagi yang lucu. Aku punya cita-cita menghasilkan pasive income sebesar 5 juta untuk beberapa tahun mendatang. Karena aku menyadari bahwa resiko terbesar dalam hidup adalah kematian. Selain investasi untuk akhirat, aku tidak mau anak istriku kelaparan jika kutinggalkan. Standar aja, dengan pasive income 5 juta per bulan aku yakin anak istriku bisa hidup layak. Tapi apa coba omongannya? 5 juta sangat tidak cukup, coba aja diitung untuk ini dan itu. Aah.... kupikir itu omong kosong. Kalo uang 5 juta tidak cukup, gimana nasibku yang hanya seorang PNS. Kalo benar-benar gak cukup jutaan temen-temen PNS dah mati kelaparan. Nyatanya mereka hidup layak, meskipun tidak mewah.
Sudahlah............. untuk kali ini aku nggak bisa memakai saran dia. Aku masih berpegang pada pandangan kolot bahwa bermewah-mewah bukanlah tindakan yang baik.



0 komentar:
Posting Komentar