Neng kene ora nana maling sing doyan nyolong, anane wong sing uripe ayem tentrem. Pegaweane mung madhang ngising turu kaya lampu, asal bisa nggo urip ngesuk ya wis alhamdulillah. Ora padha serik maring tanggane, malahane padha guyub rukun mbangun silaturahmi. Urip neng dunya kuwe mung sedhela, ayo-ayo padha tulung tinulung ben kabeh padha bungah.

27 Februari 2009

ANAK-ANAK YANG DIGEGAS MENJADI CEPAT MEKAR, CEPAT MATANG AKAN MENJADI CEPAT LAYU


Pendidikan bagi anak usia dini sekarang tengah marak-maraknya. Dimana-mana orang tua merasakan pentingnya mendidik anak melalui lembaga persekolahan yang ada. Mereka pun berlomba untuk memberikan anak-anak mereka pelayanan pendidikan yang baik. Taman kanak-kanak pun berdiri dengan berbagai rupa, di kota hingga ke desa.. Kursus-kursus kilat untuk anak-anak pun juga bertaburan di berbagai tempat. Tawaran berbagai macam bentuk pendidikan ini amat beragam. Mulai dari yang puluhan ribu hingga jutaan rupiah per bulannya. Dari kursus yang dapat membuat otak anak cerdas dan pintar berhitung, cakap berbagai bahasa, hingga fisik kuat dan sehat melalui kegiatan menari, main musik dan berenang. Dunia pendidikan saat ini betul-betul penuh dengan denyut kegairahan. Penuh tawaran yang menggiurkan yang terkadang menguras isi kantung orangtua … Captive market!
-
Kondisi di atas terlihat biasa saja bagi orang awam. Namun apabila kita amati lebih cermat, dan kita baca berbagai informasi di intenet dan lileratur yang ada tentang bagaimana pendidikan yang patut bagi anak usia dini, maka kita akan terkejut! Saat ini hampir sebagian besar penyelenggaraan pendidikan bagi anak-anak usia dini melakukan kesalahan. Di samping ketidakpatutan yang dilakukan oleh orang tua akibat ketidak tahuannya!
-
ANAK-ANAK YANG DIGEGAS…
Ada beberapa indikator untuk melihat berbagai ketidakpatutan terhadap anak. Diantaranya yang paling menonjol adalah orientasi pada kemampuan intelektual secara dini. Akibatnya bermunculanlah anak-anak ajaib dengan kepintaran intelektual luar biasa. Mereka dicoba untuk menjalani akselerasi dalam pendidikannya dengan memperoleh pengayaan kecakapan-kecakapan akademik di dalam dan di luar sekolah.
-
Kasus yang pernah dimuat tentang kisah seorang anak pintar karbitan ini terjadi pada tahun 1930, seperti yang dimuat majalah New Yorker. Terjadi pada seorang anak yang bernama William James Sidis, putra seorang psikiater. Kecerdasan otaknya membuat anak itu segera masuk Harvard College walaupun usianya masih 11 tahun. Kecerdasannya di bidang matematika begitu mengesankan banyak orang. Prestasinya sebagai anak jenius menghiasi berbagai media masa. Namun apa yang terjadi kemudian? James Thurber seorang wartawan terkemuka. pada suatu hari menemukan seorang pemulung mobil tua, yang tak lain adalah William James Sidis. Si anak ajaib yang begitu dibanggakan dan membuat orang banyak berdecak kagum pada beberapa waktu silam.
-
Kisah lain tentang kehebatan kognitif yang diberdayakan juga terjadi pada seorang anak perempuan bernama Edith. Terjadi pada tahun 1952, di mana seorang Ibu yang bernama Aaron Stern telah berhasil melakukan eksperimen menyiapkan lingkungan yang sangat menstimulasi perkembangan kognitif anaknya, sejak si anak masih berupa janin. Baru saja bayi itu lahir ibunya telah memperdengarkan suara musik klasik di telinga sang bayi. Kemudian diajak berbicara dengan menggunakan bahasa orang dewasa. Setiap saat sang bayi dikenalkan kartu-kartu bergambar dan kosa kata baru. Hasilnya sungguh mencengangkan! Di usia 1 tahun, Edith telah dapat berbicara dengan kalimat sempurna. Di usia 5 tahun, Edith telah menyelesaikan membaca ensiklopedi Britannica. Usia 9 tahun, ia membaca enam buah buku dan koran New York Times setiap harinya. Usia 12 tahun, dia masuk universitas. Ketika usianya menginjak 15 tahun, ia menjadi guru matematika di Michigan State University . Aaron Stem berhasil menjadikan Edith anak jenius karena terkait dengan kapasitas otak yang sangat tak berhingga. Namun kabar Edith selanjutnya juga tidak terdengar lagi ketika ia dewasa. Banyak kesuksesan yang diraih anak saat ia menjadi anak, tidak menjadi sesuatu yang bemakna dalam kehidupan anak ketika ia menjadi manusia dewasa.
-
Berbeda dengan banyak kasus legendaris orang-orang terkenal yang berhasil mengguncang dunia dengan penemuannya. Di saat mereka kecil, mereka hanyalah anak-anak biasa yang terkadang juga dilabel sebagai murid yang dungu. Seperti halnya Einstien yang mengalami kesulitan belajar hingga kelas 3 SD. Dia dicap sebagai anak bebal yang suka melamun.
-
Selama berpuluh-puluh tahun, orang begitu yakin bahwa keberhasilan anak di masa depan sangat ditentukan oleh faktor kognitif. Otak memang memiliki kemampuan luar biasa yang tiada berhingga. Oleh karena itu, banyak orangtua dan para pendidik tergoda untuk melakukan "Early Childhood Training". Era pemberdayaan otak mencapai masa keemasannya. Setiap orangtua dan pendidik berlomba-lomba menjadikan anak-anak mereka menjadi anak-anak yang super (Superkids). Kurikulum pun dikemas dengan muatan 90 % bermuatan kognitif yang mengfungsikan belahan otak kiri. Sementara fungsi belahan otak kanan hanya mendapat porsi 10% saja. Ketidakseimbangan dalam memfungsikan ke dua belahan otak dalam proses pendidikan di sekolah sangat mencolok. Hal ini terjadi sekarang di mana-mana, di Indonesia.
-
"EARLY RIPE, EARLY ROT…!"
Gejala ketidakpatutan dalam mendidik ini mulai terlihat pada tahun 1990 di Amerika. Saat orangtua dan para professional merasakan pentingnya pendidikan bagi anak-anak semenjak usia dini. Orangtua merasa apabila mereka tidak segera mengajarkan anak-anak mereka berhitung, membaca dan menulis sejak dini maka mereka akan kehilangan "peluang emas" bagi anak-anak mereka selanjutnya. Mereka memasukkan anak-anak mereka sesegera mungkin ke Taman Kanak-kanak (Pra Sekolah). Taman Kanak-kanak pun dengan senang hati menerima anak-anak yang masih berusia di bawah usia 4 tahun. Kepada anak-anak ini gurunya membelajarkan membaca dan berhitung secara formal sebagai pemula.
-
Terjadinya kemajuan radikal dalam pendidikan usia dini di Amerika sudah dirasakan saat Rusia meluncurkan Sputnik pada tahun 1957. Mulailah "Era Headstart" merancah dunia pendidikan. Para akademisi begitu optimis untuk membelajarkan wins dan matematika kepada anak sebanyak dan sebisa mereka (tiada berhingga). Sementara mereka tidak tahu banyak tentang anak, apa yang mereka butuhkan dan inginkan sebagai anak.
-
Puncak keoptimisan era Headstart diakhiri dengan pernyataan Jerome Bruner, seorang psikolog dari Harvard University yang menulis sebuah buku terkenal "The Process of Education" pada tahun 1990. Ia menyatakan bahwa kompetensi anak untuk belajar sangat tidak berhingga. Inilah buku suci pendidikan yang mereformasi kurikulum pendidikan di Amerika . "We begin with the hypothesis that any subject can be taught effectively in some intellectually honest way to any child at any stage of development" .
-
Inilah kalimat yang merupakan hipotesis Bruner yang disalahartikan oleh banyak pendidik, yang akhirnya menjadi bencana! Pendidikan dilaksanakan dengan cara memaksa otak kiri anak sehingga membuat mereka cepat matang dan cepat busuk. (early ripe, early rot!)..
-
Anak-anak menjadi tertekan. Mulai dari tingkat pra sekolah hingga usia SD. Di rumah, para orangtua kemudian juga melakukan hal yang sama, yaitu mengajarkan sedini mungkin anak-anak mereka membaca ketika Glenn Doman menuliskan kiat-kiat praktis membelajarkan bayi membaca.
-
Bencana berikutnya datang saat Arnold Gesell memaparkan konsep "kesiapan-readiness " dalam ilmu psikologi perkembangan temuannya yang mendapat banyak decakan kagum. Ia berpendapat tentang "biological limititations on learning". Untuk itu ia menekankan perlunya dilakukan intervensi dini dan rangsangan inlelektual dini kepada anak agar mereka segera siap belajar apapun.
-
Tekanan yang bertubi-tubi dalam memperoleh kecakapan akademik di sekolah membuat anak-anak menjadi cepat mekar. Anak -anak menjadi "miniature orang dewasa ". Lihatlah sekarang, anak-anak itu juga bertingkah polah sebagaimana layaknya orang dewasa. Mereka berpakaian seperti orang dewasa, berlaku pun juga seperti orang dewasa. Di sisi lain, media pun merangsang anak untuk cepat mekar terkait dengan musik, buku, film, televisi, dan internet. Lihatlah maraknya program teve yang belum pantas ditonton anak anak yang ditayangkan di pagi atau pun sore hari. Media begitu merangsang keingintahuan anak tentangdunia seputar orang dewasa sebagai seksual promosi yang menyesatkan Pendek kata, media telah memekarkan bahasa, berpikir dan perilaku anak tumbuh kembang secara cepat.
-
Tapi apakah kita tahu bagaimana tentang emosi dan perasaan anak? Apakah faktor emosi dan perasaan juga dapat digegas untuk dimekarkan seperti halnya kecerdasan? Perasaan dan emosi ternyata memiliki waktu dan ritmenya sendiri yang tidak dapat digegas atau dikarbit. Bisa saja anak terlihat berpenampilan sebagai layaknya orang dewasa, tetapi perasaan mereka tidak seperti orang dewasa. Anak-anak memang terlihat tumbuh cepat di berbagai hal tetapi tidak di semua hal. Tumbuh mekarnya emosi sangat berbeda dengan tumbuh mekarnya kecerdasan (intelektual) anak. Oleh karena perkembangan emosi lebih rumit dan sukar, terkait dengan berbagai keadaan, cobalah perhatikan, khususnya saat perilaku anak menampilkan gaya "kedewasaan ", sementara perasaannya menangis berteriak sebagai "anak".
-
Seperti sebuah lagu popular yang pernah dinyanyikan suara emas seorang anak laki-laki Heintje" di era tahun 70-an: I'm Nobody'S Child.
I'M NOBODY'S CHILD
I'm nobody's child
I'm nobody's child
Just like a flower
I'm growing wild
No mommies kisses and no daddy's smile
Nobody's louch me I'm nobody's child.
--
DAMPAK BERIKUTNYA TERJADI KETIKA ANAK MEMASUKI USIA REMAJA
Akibat negatif lainnya dari anak-anak karbitan terlihat ketika ia memasuki usia remaja. Mereka tidak segan segan mempertontonkan berbagai macam perilaku yang tidak patut. Patricia O'Brien menamakannya sebagai "The Shrinking of Childhood". "Lu belum tahu ya… bahwa gue telah melakukan segalanya", begitu pengakuan seorang remaja pria berusia 12 tahun kepada teman-temannya. "Gue tahu apa itu minuman keras, drug, dan seks", serunya bangga.
Berbagai kasus yang terjadi pada anak-anak karbitan memperlihatkan bagaimana pengaruh tekanan dini pada anak akan menyebabkan berbagai gangguan kepribadian dan emosi pada anak. Oleh karena ketika semua menjadi cepat mekar, kebutuhan emosi dan sosial anak jadi tak dipedulikan! Sementara anak sendiri membutuhkan waktu untuk tumbuh, untuk belajar dan untuk berkembang, sebuah proses dalam kehidupannya!
Saat ini terlihat kecenderungan keluarga muda lapisan menengah ke atas yang berkarier di luar rumah tidak memiliki waktu banyak dengan anak-anak mereka. Atau pun jika si ibu berkarier di dalam rumah, ia lebih mengandalkan tenaga "baby sitter" sebagai pengasuh anak-anaknya. Colette Dowling menamakan ibu-ibu muda kelompok ini sebagai "Cinderella Syndrome" yang senang window shopping, ikut arisan, ke salon memanjakan diri, atau menonton telenovela atau buku romantis. Sebagai bentuk ilusi menghindari kehidupan nyata yang mereka jalani.
Kelompok ini akan sangat bangga jika anak-anak mereka bersekolah di lembaga pendidikan yang mahal, ikut berbagai kegiatan kurikuler, ikut berbagai les, dan mengikuti berbagai rena, seperti lomba penyanyi cilik, lomba model ini dan itu. Para orangtua ini juga sangat bangga jika anak-anak mereka superior di segala bidang, bukan hanya di sekolah. Sementara rangtua yang sibuk juga mewakilkan diri mereka kepada baby sitter terhadap pengasuhan dan pendidikan anak-anak mereka. Tidak jarang para baby sitter ini mengikuti pendidikan parenting di lembaga pendidikan eksekutif sebagai wakil dari orang tua.
-
ERA SUPERKIDS…
Kecenderungan orangtua menjadikan anaknya "be special" daripada "be average or normal" sernakin marak terlihat. Orangtua sangat ingin anak-anak mereka menjadi "to excel to be the best". Sebetulnya tidak ada yang salah. Namun ketika anak-anak mereka digegas untuk mulai mengikuti berbagai kepentingan orangtua untuk menyuruh anak mereka mengikuti beragam kegiatan, seperti kegiatan mental aritmatik, sempoa, renang, basket, balet, tari ball, piano, biola, melukis, dan banyak lagi lainnya maka lahirlah anak-anak super "SUPERKIDS". Cost (biaya) merawat anak superkids ini sangat mahal.
-
Era superkids berorientasi kepada "Competent Child". Orangtua saling berkompetisi dalam mendidik anak karena mereka percaya "earlier is better". Semakin dini dan cepat dalam menginvestasikan beragam pengetahuan ke dalam diri anak mereka, maka itu akan semakin baik. Neil Posmant seorang sosiolog Amerika pada tahun 80-an meramalkan bahwa jika anak-anak tercabut dari masa kanak-kanaknya, maka lihatlah ketika anak anak itu menjadi dewasa, maka ia akan menjadi orang dewasa yang ke kanak-kanakan!
-
BERBAGAI GAYA ORANGTUA
Kondisi ketidakpatutan dalam memperIakukan anak ini telah melahirkan berbagai gaya orangtua (Parenting Style) yang melakukan kesalahan "miseducation" terhadap pengasuhan pendidikan anak-anaknya. Elkind (1989) mengelompokkan berbagai gaya orangtua dalam pengasuhan, antara lain:
-
1.Gourmet Parents (Orang tua Borju)
Mereka adalah kelompok pasangan muda yang sukses. Memiliki rumah bagus, mobil mewah, liburan ke tempat-tempat yang eksotis di dunia, dengan gaya hidup kebarat-baratan. Apabila menjadi orangtua maka mereka akan cenderung merawat anak-anaknya seperti halnya merawat karier dan harta mereka. Penuh dengan ambisi! Berbagai macam buku akan dibaca karena ingin tahu isu-isu mutakhir tentang cara mengasuh anak. Mereka sangat percaya bahwa tugas pengasuhan yang baik seperti halnya membangun karier, maka "superkids" merupakan bukti dari kehebatan mereka sebagai orangtua. Orangtua kelompok ini memakaikan anak-anaknya baju-baju mahal bermerek terkenal, memasukkannya ke dalam program-program eksklusif yang prestisius. Keluar masuk restoran mahal. Usia 3 tahun anak-anak mereka sudah diajak tamasya keliling dunia mendampingi orangtuanya. Jika suatu saat kita melihat sebuah sekolah yang halaman parkirnya dipenuhi oleh berbagai merek mobil terkenal, maka itulah sekolah banyak kelompok orangtua "gourmet " atau kelompok borju menyekolahkan anak-anaknya.
-
2.College Degree Parents (Orang tua Intelek)
Kelompok ini merupakan bentuk lain dari keluarga intelek yang menengah ke atas. Mereka sangat peduli dengan pendidikan anak-anaknya. Sering melibatkan diri dalam barbagai kegiatan di sekolah anaknya. Misalnya membantu membuat majalah dinding dan kegiatan ekstra kurikular lainnya. Mereka percaya pendidikan yang baik merupakan pondasi dari kesuksesan hidup. Terkadang mereka juga tergiur menjadikan anak-anak mereka "Superkids", apabila si anak memperlihatkan kemampuan akademik yang tinggi. Terkadang mereka juga memasukkan anak-anaknya ke sekolah mahal yang prestisius sebagai bukti bahwa mereka mampu dan percaya bahwa pendidikan yang baik tentu juga harus dibayar dengan pantas. Kelebihan kelompok ini adalah sangat peduli dan kritis terhadap kurikulum yang dilaksanakan di sekolah anak-anaknya. Dan dalam banyak hal mereka banyak membantu dan peduli dengan kondisi sekolah.
-
3.Gold Medal Parents (Orang tua Mendali Emas)
Kelompok ini adalah kelompok orangtua yang menginginkan anak-anaknya menjadi kompetitor dalam berbagai gelanggang. Mereka sering mengikutkan anaknya ke berbagai kompetisi dan gelanggang. Ada gelanggang ilmu pengetahuan seperti Olimpiade matematika dan sains yang akhir-akhir ini lagi marak di Indonesia . Ada juga gelanggang seni seperti ikut menyanyi, kontes menari, terkadang kontes kecantikan. Berbagai cara akan mereka tempuh agar anak-anaknya dapat meraih kemenangan dan menjadi "Seorang Bintang Sejati ". Sejak dini mereka persiapkan anak-anak mereka menjadi "Sang Juara", mulai dari juara renang, menyanyi dan melukis hingga none abang cilik ketika anak-anak mereka masih berusia TK.
Sebagai ilustrasi,dalam sebuah arena lomba ratu cilik di Padang , puluhan anak-anak TK baik laki-laki maupun perempuan tengah menunggu di mulainya lomba pakaian adat. Ruangan yang sesak, penuh asap rokok, dan acara yang molor menunggu datangnya tokoh anak dari Jakarta . Anak-anak mulai resah, berkeringat, mata memerah karena keringat melelehi mascara anak kecil mereka. Para orangtua masih bersemangat, membujuk anak-anaknya bersabar. Mengharapkan acara segera di mulai dan anaknya akan kelular sebagai pemenang. Sementara pihak penyelenggara mengusir panas dengan berkipas kertas.
Banyak kasus yang mengenaskan menimpa diri anak akibat perilaku ambisi kelompok gold medal parents ini. Sebagai contoh pada tahun 70-an seorang gadis kecil pesenam usia TK rnengalami kelainan tulang akibat ambisi ayahnya yang guru olahraga. Atau kasus "bintang cilik" Yoan Tanamal yang mengalami tekanan hidup dari dunia glamour masa kanak-kanaknya. Kemudian menjadikannya pengguna dan pengedar narkoba hingga menjadi penghuni penjara. Atau bintang cilik dunia Heintje yang setelah dewasa hanya menjadi pasien dokter jiwa. Gold medal parent menimbulkan banyak bencana pada anak-anak mereka!
Pada tanggal 29 Mei lalu kita saksikan di TV bagaimana bintang cilik "Joshua" yang bintangnya mulai meredup dan mengkhawatirkan orangtuanya. Orangtua Joshua berambisi untuk kembali menjadikan anaknya seorang bintang dengan kembali menggelar konser tunggal. Sebagian dari kita tentu masih ingat bagaimana lucu dan pintarnya Joshua ketika berumur kurang 3 tahun. Dia muncul di TV sebagai anak ajaib karena dapat menghapal puluhan nama-nama kepala negara. kemudian di usia balitanya dia menjadi penyanyi cilik terkenal. Kita kagum bagaimana seorang bapak yang tamatan SMU dan bekerja di salon dapat membentuk dan menjadikan anaknya seorang "superkid" seorang penyanyisekaligus seorang bintang film.
-
4.Do-it Yourself Parents (Orang tua Mandiri)
Merupakan kelompok orangtua yang mengasuh anak-anaknya secara alami dan menyatu dengan semesta. Mereka sering menjadi pelayanan professional di bidang sosial dan kesehatan, sebagai pekerja sosial di sekolah, di tempat ibadah, di Posyandu dan di perpustakaan. Kelompok ini menyekolahkan anak-anaknya di sekolah negeri yang tidak begitu mahal dan sesuai dengan keuangan mereka. Walaupun begitu, kelompok ini juga bemimpi untuk menjadikan anak-anaknya "Superkids earlier is better".
Dalam kehidupan sehari-hari anak-anak mereka diajak mencintai lingkungannya. Mereka juga mengajarkan merawat dan memelihara hewan atau tumbuhan yang mereka sukai. Kelompok ini merupakan kelompok penyayang binatang, dan mencintai lingkungan hidup yang bersih.
-
5.Outward Bound Parents (Orang tua Paranoid)
Untuk orangtua kelompok ini mereka memprioritaskan pendidikan yang dapat memberi kenyamanan dan keselamatan kepada anak-anaknya. Tujuan mereka sederhana, agar anak-anak dapat bertahan di dunia yang penuh dengan permusuhan. Dunia di luar keluarga mereka dianggap penuh dengan marabahaya. Jika mereka menyekolahkan anak-anaknya maka mereka lebih memilih sekolah yang nyaman dan tidak melewati tempat tempat tawuranyang berbahaya. Seperti halnya Do It Yourself Parents, kelompok ini secara tak disengaja juga terkadang terpengaruh dan menerima konsep "Superkids". Mereka mengharapkan anak-anaknya menjadi anak-anak yang hebat agar dapat melindungi diri mereka dari berbagai macam marabahaya. Terkadang mereka melatih kecakapan melindungi diri dari bahaya, seperti memasukkan anak-anaknya "Karate, Yudo, pencak Silat" sejak dini. Ketidakpatutan pemikiran kelompok ini dalam mendidik anak-anaknya adalah bahwa mereka terlalu erlebihan melihat marabahaya di luar rumah tangga mereka, mudah panik dan ketakutan melihat situasi yang selalu mereka pikir akan membawa dampak buruk kepada anak.Akibatnya anak-anak mereka menjadi "steril" dengan lingkungannya.
-
6.Prodigy Parents (Orang tua Instan)
Merupakan kelompok orangtua yang sukses dalam karier namun tidak memiliki pendidikan yang cukup. Mereka cukup berada, narnun tidak berpendidikan yang baik. Mereka memandang kesuksesan mereka di dunia bisnis merupakan bakat semata. Oleh karena itu mereka juga memandang sekolah dengan sebelah mata, hanya sebagai kekuatan yang akan menumpulkan kemampuan anak-anaknya.
Tidak kalah mengejutkannya, mereka juga memandang anak-anaknya akan hebat dan sukses seperti mereka tanpa memikirkan pendidikan seperti apa yang cocok diberikan kepada anak-anaknya. Oleh karena itu mereka sangat mudah terpengaruh kiat-kiat atau cara unik dalam mendidik anak tanpa bersekolah. Buku-buku instant dalam mendidik anak sangat mereka sukai. Misalnya buku tentang "Kiat-Kiat Mengajarkan bayi Membaca" karangan Glenn Doman , atau "Kiat-Kiat Mengajarkan Bayi Matematika" karangan Siegfried, "Berikan Anakmu pemikiran Cemerlang" karangan Therese Engelmann, dan "Kiat-Kiat Mengajarkan Anak Dapat Membaca Dalam Waktu 9 Hari" karangan Sidney Ledson.
-
7.Encounter Group Parents (Orang tua Pengerumpi)
Merupakan kelompok orangtua yang memiliki dan menyenangi pergaulan. Mereka terkadang cukup berpendidikan, namun tidak cukup berada atau terkadang tidak memiliki pekerjaan tetap (luntang lantung). Terkadang mereka juga merupakan kelompok orangtua yang kurang bahagia dalam perkawinannya. Mereka menyukai dan sangat mementingkan nilai-nilai relationship dalam membina hubungan dengan orang lain. Sebagai akibatnya kelompok ini sering melakukan ketidakpatutan dalam mendidik anak-anak dengan berbagai perilaku "gang ngrumpi" yang terkadang mengabaikan anak. Kelompok ini banyak membuang-buang waktu dalam kelompoknya sehingga mengabaikan fungsi mereka sebagai orangtua. Atau pun jika mereka memiliki aktivitas di kelompoknya lebih berorientasi kepada kepentingan kelompok mereka. Kelompok ini sangat mudah terpengaruh dan latah untuk memilihkan pendidikan bagi anak-anaknya. Menjadikan anak-anak mereka sebagai "Superkids" juga sangat diharapkan. Namun banyak dari anak anak mereka biasanya kurang menampilkan minat dan prestasi yang diharapkan.
-
8.Milk and Cookies Parents (Orang tua Ideal)
Kelompok ini merupakan kelompok orangtua yang memiliki masa kanak-kanak yang bahagia, yang memiliki kehidupan masa kecil yang sehat dan manis. Mereka cenderung menjadi orangtua yang hangat dan menyayangi anak-anaknya dengan tulus.. Mereka juga sangat peduli dan mengiringi tumbuh kembang anak-anak mereka dengan penuh dukungan.Kelompok ini tidak berpeluang menjadi oraugtua yang melakukan "miseducation" dalam merawat dan mengasuh anak-anaknya. Mereka memberikan lingkungan yang nyaman kepada anak-anaknya dengan penuh perhatian, dan tumpahan cinta kasih yang tulus sebagai orang tua.
Mereka memenuhi rumah tangga mereka dengan buku-buku, lukisan dan musik yang disukai oleh anak-anaknya. Mereka berdiskusi di ruang makan, bersahabat dan menciptakan lingkungan yang menstimulasi anak-anak mereka untuk tumbuh mekar segala potensi dirinya. Anak-anak mereka pun meninggalkan masa kanak-kanak dengan penuh kenangan indah. Kehangatan hidup berkeluarga menumbuhkan kekuatan rasa yang sehat pada anak untuk percaya diri dan antusias dalam kehidupan belajar.
Kelompok ini merupakan kelompok orangtua yang menjalankan tugasnya dengan patut kepada anak-anak mereka.. Mereka begitu yakin bahwa anak membutuhkan suatu proses dan waktu untuk dapat menemukan sendiri keistimewaan yang dimilikinya. Dengan kata lain, mereka percaya bahwa anak sendirilah yang akan menemukan sendiri kekuatan di dirinya. Bagi mereka, setiap anak adalah benar-benar seorang anak yang hebat dengan kekuatan potensi yang juga berbeda dan unik!
Kamu harus tahu bahwa tiada satu pun yang lebih tinggi, atau lebih kuat, atau lebih baik, atau pun lebih berharga dalam kehidupan nanti daripada kenangan indah; terutama kenangan manis di masa kanak-kanak. Kamu mendengar banyak hal tentang pendidikan, namun beberapa hal yang indah, kenangan berharga yang tersimpan sejak kecil adalah mungkin itu pendidikan yang terbaik. Apabila seseorang menyimpan banyak kenangan indah di masa kecilnya, maka kelak seluruh kehidupannya akan terselamatkan. Bahkan apabila hanya ada satu saja kenangan indah yang tersiampan dalam hati kita, maka itulah kenangan yang akan memberikan satu hari untuk keselamatan kita" (destoyevsky' s brothers karamoz)
-
PERSPEKTIF SEKOLAH YANG MENGKARBIT ANAK
Kecenderungan sekolah untuk melakukan pengkarbitan kepada anak didiknya juga terlihat jelas. Hal ini terjadi ketika sekolah berorientasi kepada produk daripada proses pembelajaran. Sekolah terlihat sebagai sebuah "industri" dengan tawaran-tawaran menarik yang mengabaikan kebutuhan anak. Ada program akselerasi, ada program kelas unggulan. Pekerjaan rumah yang menumpuk. Tugas-tugas dalam bentuk hanya lembaran kerja. Kemudian guru-guru yang sibuk sebagai "Operator kurikulum" dan tidak punya waktu mempersiapkan materi ajar karena rangkap tugas sebagai administrator sekolah. Sebagai guru kelas yang mengawasi dan mengajar terkadang lebih dari 40 anak, guru hanya dapat menjadi "pengabar isi buku pelajaran" ketimbang menjalankan fungsi edukatif dalam menfasilitasi pembelajaran. Di saat-saat tertentu, sekolah akan menggunakan "mesin-mesin dalam menskor" capaian prestasi yang diperoleh anak setelah diberikan ujian berupa potongan-potongan mata pelajaran. Anak didik menjadi dimiskinkan dalam menjalani pendidikan di sekolah. Pikiran mereka diforsir untuk menghapalkan atau melakukan tugas-tugas yang tidak mereka butuhkan sebagai anak.
Manfaat apa yang mereka peroleh jika guru menyita anak membuat baganorganisasi sebuah birokrasi? Manfaat apa yang dirasakan anak jika mereka diminta membuat PR yang menuliskan susunan kabinet yang ada di pemerintahan? Manfaat apa yang dimiliki anak jika ia disuruh menghapal kalimat-kalimat yang ada di dalam buku pelajaran? Tumpulnya rasa dalam mencerna apa yang dipikirkan oleh otak dengan apa yang mirefleksikan dalam sanubari dan perilaku-perilaku keseharian mereka sebagai anak menjadi semakin senjang. Anak-anak tahu banyak tentang pengetahuan yang dilatihkan melalui berbagai mata pelajaran yang ada dalam kurikulum persekolahan, namun mereka bingung mengimplementasikan dalam kehidupan nyata. Sepanjang hari mereka bersekolah di sekolah untuk sekolah? dengan tugas-tugas dan PR yang menumpuk.
Namun sekolah tidak mengerti bahwa anak sebenarnya butuh bersekolah untuk menyongsong kehidupannya! Lihatlah, mereka semua belajar dengan cara yang sama. Membangun 90 % kognitif dengan 10 % afektif. Paulo Freire mengatakan bahwa sekolah telah melakukan "pedagogy of the oppressed" terhadap anak-anak didiknya. Di mana guru mengajar, anak diajar, guru mengerti semuanya dan anak tidak tahu apa-apa, guru berpikir dan anak dipikirkan, guru berbicara dan anak mendengarkan, guru mendisiplin dan anak didisiplin, guru memilih dan mendesakkan pilihannya dan anak hanya mengikuti, guru bertindak dan anak hanya membayangkan bertindak lewat cerita guru, guru memilih isi program dan anak menjalaninya begitu saja, guru adalah subjek dan anak adalah objek dari proses pembelajaran (Freire,1993). Model pembelajaran banking system ini dikritik habis-habisan sebagai masalah kemanusiaan terbesar. Belum lagi persaingan antar sekolah. dan persaingan ranking wilayah.
-
MENGKOMPETENSI ANAK MERUPAKAN "KETIDAKPATUTAN PENDIDIKAN"
"Anak adalah anugrah Tuhan sebagai hadiah kepada semesta alam, tetapi citra anak dibentuk oleh sentuhan tangan-tangan manusia dewasa yang bertanggungjawab"
-
(Nature versus Nurture) Bagaimana?
-
Karena ada dua pengertian kompetensi. Kompetensi yang datang dari kebutuhan di luar diri anak (direkayasa oleh orang dewasa) atau kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dari dalam diri anak sendiri. Sebagai contoh adalah konsep kompetensi yang dikemukakan oleh John Watson (psikolog) pada tahun 1920 yang mengatakan bahwa bayi dapat ditempa menjadi apapun sesuai kehendak kita; sebagai komponen sentral dari konsep kompetensi. Jika bayi-bayi mampu jadi pembelajar, maka mereka juga dapat dibentuk melalui pembelajaran dini.
-
Kata-kata Watson yang sangat terkenal adalah sebagai berikut :
-
"Give me a dozen healthy infants, well formed and my own special world to bring them up in, and I'll guarantee you to take any one at random and train him to become any type of specialist I might select — doctor, lawyer, artist, merchant chief and yes, even beggar and thief regardless of this talents, penchants, tendencies, vocations, and race of his ancestors"
-
Pemikiran Watson membuat banyak orang tua melahirkan "intervensi dini" setelah mereka melakukan serangkaian tes Inteligensi kepada anak-anaknya. Ada sebuah kasus kontroversi yang terjadi di Institut New Jersey pada tahun 1979. Dimana guru-guru melakukan serangkaian program tes untuk mengukur "Kecakapan Dasar Minimum (Minimum Basic Skill)" dalam mata pelajaran membaca dan matematika. Hasil dari pelaksanaan program ini dilaporkan kolomnis pendidikan Fred Hechinger kepada New York Times sebagai berikut : "The improvement in those areas were not the result of any magic program or any singular teaching strategy, they were…. simply proof that accountability is crucial and that, in the past five years, it has paid off in New Yersey" Juga belajar dari biografi tiga orang tokoh legendaris dunia seperti Eleanor Roosevelt, Albert Einstein dan Thomas Edison, yang diilustrasikan sebagai anak-anak yang bodoh dan mengalami keterlambatan dalam akademik ketika mereka bersekolah di SD kelas rendah. Semestinya kita dapat menyimpulkan bahwa pendidikan dini sangat berbahaya jika dibuatkan kompetensi-kompeten si perolehan pengetahuan hanya secara kognitif.
-
Oleh karena hingga hari ini, sekolah belum mampu menjawab dan dapat menampilkan kompetensi emosi sosial anak dalam proses pembelajaran. Pendidikan anak seutuhnya yang terkait dengan berbagai aspek seperti emosi, sosial, kognitif fisik, dan moral belum dapat dikemas dalam pembelajaran di sekolah secara terintegrasi. Sementara pendidikan sejati adalah pendidikan yang mampu melibatkan berbagai aspek yang dimiliki anak sebagai kompetensi yang beragam dan unik untuk dibelajarkan. Bukan anak dibelajarkan untuk di tes dan di skor saja!.
-
Pendidikan sejati bukanlah paket-paket atau kemasan pembelajaran yang berkeping-keping, tetapi bagaimana secara spontan anak dapat terus menerus merawat minat dan keingintahuan untuk belajar. Anak mengenali tumbuh kembang yang terjadi secara berkelangsungan dalam kehidupannya. Perilaku keingintahuan "curiosity" inilah yang banyak tercabut dalam sistem persekolahan kita.
-
AKADEMIK BUKANLAH KEBUTUHAN DARI SEBUAH PENDIDIKAN! "EMPTY SACKS WILL NEVER STAND UPRIGHT"(GEORGE ELIOT).
Pendidikan anak seutuhnya tentu saja bukan hanya mengasah kognitif melalui kecakapan akademik semata! Sebuah pendidikan yang utuh akan membangun secara bersamaan, pikiran, hati, pisik, dan jiwa yang dimiliki anak didiknya. Membelajarkan secara serempak pikiran, hati dan pisik anak akan menumbuhkan semangat belajar sepanjang hidup mereka. Di sinilah dibutuhkannya peranan guru sebagai pendidik akademik dan pendidik sanubari "karakter". Di mana mereka mendidik anak menjadi "good and smart" terang hati dan pikiran.
-
Sebuah pendidikan yang baik akan melahirkan "how learn to learn" pada anak didik mereka. Guru-guru yang bersemangat memberi keyakinan kepada anak didiknya bahwa mereka akan memperoleh kecakapan berpikir tinggi, dengan berpikir kritis, dan cakap memecahkan masalah hidup yang mereka hadapi sebagai bagian dari proses mental. Pengetahuan yang terbina dengan baik yang melibatkan aspek kognitif dan emosi, akan melahirkan berbagai kreativitas.
-
Leonardo da Vinci seorang pelukis besar telah menghabiskan waktunya berjam-jam untuk belajar anatomi tubuh manusia. Thomas Edison mengatakan bahwa "genius is 1 percent inspiration and 99 percent perspiration ". Semangat belajar "encourage" tidak dapat muncul tiba-tiba di diri anak. Perlu proses yang melibatkan hati, kesukaan dan kecintaan belajar. Sementara di sekolah banyak anak patah hati karena gurunya yang tidak mencintai mereka sebagai anak. Selanjutnya misi sekolah lainnya yang paling fundamental adalah mengalirkan "moral litermy" melalui pendidikan karakter. Kita harus ingat bahwa kecerdasan saja tidak cukup. Kecerdasan plus karakter inilah tujuan sejati sebuah pendidikan (Martin Luther King, Jr ). Inilah keharmonisan dari pendidikan, bagaimana menyeimbangkan fungsi otak kiri dan kanan, antara kecerdasan hati dan pikiran, antara pengetahuan yang berguna dengan perbuatan yang baik.
-
PENUTUP
Mengembalikan pendidikan pada hakikatnya untuk menjadikan manusia yang terang hati dan terang pikiran "good and smart" merupakan tugas kita bersama.. Melakukan reformasi dalam pendidikan merupakan kerja keras yang mesti dilakukan secara serempak, antara sekolah dan masyarakat, khususnya antara guru dan orangtua. Pendidikan yang ada sekarang ini banyak yang tidak berorientasi kepada kebutuhan anak sehingga tidak dapat memekarkan segala potensi yang dimiliki anak. Atau pun jika ada yang terjadi adalah ketidakseimbangan yang cenderung memekarkan aspek kognitif dan mengabaikan faktor emosi.
-
Begitu juga orangtua. Mereka berkecenderungan melakukan training dini kepada anak. Mereka ingin anak-anak mereka menjadi "SUPERKIDS". Inilah fenomena yang sedang trend akhir-akhir ini. Inilah juga awal dari lahirnya era anak-anak karbitan! Lihatlah nanti ketika anak-anak karbitan itu menjadi dewasa, maka mereka akan menjadi orang dewasa yang ke kanak-kanakan.
-
*) Dewi Utama Faizah, bekerja di Direktorat pendidikan TK dan SD Ditjen Dikdasmen, Depdiknas, Program Director untuk Institut Pengembangan Pendidikan Karakter divisi dari Indonesia Heritage Foundation.
Selengkapnya...

23 Februari 2009

Lucu Tapi Nyata: Perbedaan Budaya Italia & Inggris


Inggris adalah sebuah negara yang mengklaim memiliki liga sepokbola terbaik di dunia serta sebagai negara asal sepakbola. Sedangkan Italy merupakan negara eropa yang sering tampil sebagai juara dunia meskipun selalu dikritik sebagai Tim yang memainkan sepakbola negatif. Nyatanya kedua negara tersebut, disamping liga spanyol, memiliki liga yang paling populer di Indonesia dengan suporter yang fanatik dan seringkali saling ejek atau membanggakan keunggulan masing-masing liga pula. Padahal sejatinya keduan negara memiliki kultur budaya sendiri-sendiri yang menjadikannya unik dan enak untuk ditonton. Teknik tinggi dan pertahanan kokoh merupakan daya tarik liga italy sedangkan kecepatan dan determinasi merupakan hal yang menonjol dari liga Inggris. Kalian pasti punya penilaian sendiri yang seringkali tidak obyektif, so Carlo Garganese, wartawan http://www.goal.com/ berdarah Italia yang berdomisili di Inggris akan mencoba memberikan gambaran mengenai perbandingan kehidupan dan budaya di dalam dan di luar sepakbola inggris juga italy
-
1) Pada hari Minggu di Italia, para suporter mempunyai jadwal rutin sebagai berikut: pergi ke gereja, menyaksikan pertandingan, pulang ke rumah. Sedangkan di Inggris: pergi ke bar, menyaksikan pertandingan, kembali ke bar.
2) Di Italia, pasta dan segelas red wine adalah hidangan tepat sebelum pertandingan. Di Inggris, kebab dan kentang goreng ditambah bir setengah liter sebelum ke stadion sudah cukup.
3) Di Italia, polisi akan membiarkan Anda melempar jeruk ke arah bus yang mengangkut tim lawan. Di Inggris, Anda akan dijebloskan ke penjara bila melakukan perbuatan seperti itu.
4) Tifosi Italia berkelakuan baik di laga tandang, tapi bisa mengamuk di kandang sendiri. Fans Inggris berkelakuan baik di negeri sendiri, tapi menggila di Eropa.
5) Di Inggris, penonton duduk di bangku stadion. Di Italia, bangku stadion bisa dijadikan senjata.
6) Di Inggris, petugas keamanan memperhatikan ulah penonton. Di Italia, petugas keamanan menyaksikan pertandingan tapi merangkap sebagai Ultras.
7) Di Inggris, Anda harus pergi ke warung stadion untuk membeli makanan. Di Italia, Anda cukup meneriakkan 'A Bibitaro' kepada penjual makanan yang tak jauh dari bangku Anda, kemudian Anda memberikan uang yang disampaikan melalui satu penonton ke penonton lainnya, sementara sang penjual mengirimkan sebuah cornetto dengan cara yang sama.
8) Di Inggris, jika Anda cepat, kuat dan bisa berlari non-stop selama 90 menit, Anda akan dianggap pemain hebat, meskipun skill permainan Anda menyamai skill seekor keledai. Di Italia, jika Anda memperagakan taktik dan teknik yang memadai, Anda akan dianggap pemain hebat, meskipun kecepatan dan mobilitas Anda menyamai kura-kura.
9) Di Inggris, jika Sky Sports mengatakan bahwa Peter Crouch adalah pemain terbaik dunia, satu negara akan percaya. Di Italia, jika Sky Italia mengklaim bahwa Simone Loria adalah bek terbaik di planet ini, satu negara akan berhenti berlangganan stasiun televisi tersebut.
10) Di Italia, 'hasil akhir membenarkan tujuan awal', dan menarik kostum tim lawan, diving, pelanggaran keras dan menipu wasit adalah aspek-aspek penting dalam pertandingan. Di Inggris, semua tindakan tersebut adalah bentuk kecurangan, dan filosofi 'tujuan awal membenarkan hasil akhir' diikuti, karena fair play lebih penting ketimbang menang dengan cara apapun.
11) Di Italia, pertahanan adalah kesenian. Di Inggris, pertahanan adalah anti-sepakbola.
12) Di Italia, jika sebuah tim tertinggal 3-0, semua pemain menyerah, dan semua pendukung mencemooh tim yang kalah, menghancurkan mobil pemain terburuk, dan menyerbu latihan tim pada hari berikutnya. Di Inggris, jika sebuah tim tertinggal 8-0 pun, para pemain masih berjuang dan mengejar bola hingga akhir menit meskipun sadar pasti kalah, sementara para pendukungnya bersorak menyanyikan tentang 'pahlawan' mereka.
13) Di Inggris, wasit yang buruk memang buruk. Di Italia, wasit yang buruk adalah korup.
14) Di Inggris, acara televisi sesudah laga berakhir adalah 99% cuplikan pertandingan dan 1% analisis. Di Italia, acaranya 1% cuplikan pertandingan dan 99% analisis (atau tayangan ulang dalam slow-motion).
15) Di Inggris, Anda jarang mendengar berita tentang ketua klub, yang cenderung untuk menjauhi pers. Di Italia, presiden klub sudah terbiasa melontarkan komentar kontroversial.Di Luar Lapangan.
16) Di Italia, menyuap dan korupsi adalah bagian kehidupan. Di Inggris, istilah 'backhander' adalah jenis pukulan dalam olahraga tenis [di Italia 'backhander' diartikan sebagai penyuap].
17) Di Inggris, Anda tak bersalah sebelum terbukti bersalah. Di Italia, Anda dinyatakan bersalah sebelum terbukti tak bersalah.
18) Di Italia, anak seumur sembilan bulan sudah diberikan minuman beralkohol untuk pertama kalinya, dan belajar untuk menghargai minuman itu. Di Inggris, anak-anak dilarang menyentuh minuman keras hingga usia 18 tahun, dan selanjutnya mereka belajar untuk melemparkannya.
19) Di Italia, anak-anak cowok dijaga ibunya hingga usia 40 tahun merupakan hal yang biasa. Di Inggris, anak-anak cowok sudah mencari rumah sendiri dan berusaha mandiri saat berusia 16 tahun.
20) Pria Italia sudah mencukur kumisnya pada usia 11 tahun, dan rutin setiap hari supaya terlihat halus. Pria Inggris mulai mencukur ketika menginjak usia 18, dan selanjutnya harus menunggu lima tahun lagi untuk melihat jenggot tipis tumbuh dari ujung dagunya.
21) Di Inggris, ketepatan waktu dan mengatur jadwal sangat penting. Di Italia, 30 menit terlambat masih tepat waktu.
22) Di Italia, tidak ada orang yang beli karcis untuk naik kereta api. Di Inggris, semua orang membayar, meskipun tarifnya sangat tinggi dan lebih murah naik taksi.
23) Di Inggris, melanggar hukum adalah hal yang bersifat pribadi dan patut dirahasiakan. Di Italia, melanggar aturan adalah sumber percakapan yang menghibur dan wajib diceritakan ke teman-teman.
24) Orang-orang Italia berlibur dan kulitnya tak mudah terbakar oleh sinar matahari, bahkan kulitnya akan tetap berwarna coklat. Tapi orang-orang Inggris kulitnya mudah terbakar, dan butuh waktu yang lama untuk mengembalikan warna kulit aslinya.
25) Di Italia, pakaian sporty dari atas ke bawah dianggap tidak mengikuti tren. Di Inggris, tidak memakai pakaian olahraga berarti bencong.
26) Di Italia, tidak ada orang yang mengantri, tapi dorong-dorongan terjadi sambil berpura-pura mengenal seseorang di depan antrian. Di Inggris, semua orang rela mengantri berjam-jam, dan meskipun ditolak, mereka bisa pergi tanpa mengeluh.
27) Di Italia, politik adalah hal yang melekat di dalam jiwa. Di Inggris, politik kalah pentingnya dengan 'Big Brother', acara televisi populer yang memperlihatkan sekumpulan orang tidak berbakat yang melakukan hal-hal tidak penting sepanjang hari.
28) Di Italia, dua orang dengan jenis kelamin yang sama berpelukan dan mencium pipi adalah hal yang normal. Di Inggris, Anda 'tidak normal' jika melakukan itu.
29) Di Italia, jika Anda pergi ke sebuah pesta, Anda dipastikan kenyang karena makanan yang disajikan tuan rumah tersedia dalam porsi berlebih. Di Inggris, jangan heran bila Anda diminta untuk membawa makanan sendiri ke pesta, tapi akhirnya Anda masih lapar dan harus mampir ke McDonalds sebelum pulang.
30) Di Italia, penyiar televisi cantik antara lain Juliana Moreira, Ilary Blasi, Christina Chiabotto, Ilaria D'Amico dan Michelle Hunziker, itupun baru sebagian. Di Inggris, hanya ada Jordan atau Jody Marsh.

Selengkapnya...

LIFE MUST GOES ON


Sering banget aku denger keluhan dari temen-temenku tentang betapa menderitanya dia, betapa susah hidupnya, betapa tidak adilnya tuhan, dll. Sikap putus asa seperti ini membuatku menjadi berpikir, apakah benar dunia ini tidak adil buat sahabatku itu yang notabene adalah para PNS dengan penghasilan yang sangat mencukupi.
Akupun terhenyak dengan statement kawan wanita yang tega meninggalkan keluarga kecilnya hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup yang sebenernya sudah cukup. Padahal kita semua tahu kalo nasib suatu bangsa terletak pada kemampuan para ibu dalam membesarkan anak-anaknya. Pantes aja Indonesia gak maju-maju lha wong ibu-ibunya pada sibuk cari duit "yang katanya" buat anaknya itu. Tapi aku tetep yakin kalo itu cuma buat kebahagian dia sendiri, persetan dengan anak-anaknya mau gimana.
Sebagai bukti yah, ketika waktu itu aku tanya berapa penghasilan suami kawan wanitaku kok sampai dia sendiri harus turun tangan mencari nafkah yang sebenernya tugas suami itu. Dan jawabannya cukup mencengangkan, "kira-kira 10 juta-an lah". Wooww.....!!!! Angka yang menakjubkan buatku yang hanyalah seorang PNS. Dan sejak saat itu setiap ada kawan wanita yang bilang dia harus kerja karena gaji suaminya tak cukup buat hidup langsung kutanya, "Berapa penghasilan suamimu???". Memang jawabannya beragam, tapi karena aku tidak tinggal di lingkungan rakyat miskin yah jawabannya berkisar antara 3 juta-an keatas dan sampai saat ini yang paling tinggi 20 juta-an. Silakan kamu bikin kesimpulan sendiri apakah bener gaji segitu masih belum bisa untuk menghidupi sebuah keluarga??
Itulah manusia, tidak pernah puas dan cenderung rakus tanpa melihat kebahagiaan sesungguhnya, jika kamu melihat foto di bawah maka kamu akan sadar betapa beruntungnya kita. Betapa besar nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepada hambanya ini namun seringkali tidak kita sadari, bahkan ketika sholat sekalipun kita tidak ingat bahwa Allah telah memberikan suatu kenikmatan yang maha dahsyat yaitu "hidup".


Senen, 9 Juli 2007 Peng Shu Lin mencoba untuk berjalan lagi dengan panduan seorang dokter. Dengan hanya memiliki separo tubuhnya dia tidak sedikitpun putus asa untuk mencoba melangkahi dunia dengan kaki-kaki robotnya. Miris sekali jika melihat kakinya, namun begitu melihat gurat optimis di raut mukanya hati ini menjadi merasa kerdil. Sangat mengagumkan buah dari kerja keras seorang Peng Shu Lin yang terus menjalani hidup dengan segala keterbatasannya. Ketika tubuhnya terpotong dua gara-gara ketabrak lori, untung ditolong yuli (halah, malah jadi nyanyi Ost. Tuyul dan Mbak Yul). Sori oot,... iya mas dan mba, tubuh Peng Shu Lin terpotong dua karena tertabrak lori di tahun 1995. Saat itu tidak ada seorangpun termasuk tim dokter yang menyangka Peng Shu Lin bisa bertahan. Dengan tim dokter yang berjumlah lebih dari 20 orang nyawa Peng berhasil diselawatkan, namun sayang kakinya hanya tersisa 78 cm. Alhamdulillah kita tidak harus mengalami apa yang dialami Peng Shu Lin, tapi setidaknya kita bisa belajar dari apa yang dialami Peng SHu Lin....
Selengkapnya...

18 Februari 2009

Membalik kartu dalam tumpukan


Langkah I

Sebelumnya saya ingatkan bahwa sulap itu hanya merupakan sebuah trik yang pastinya dapat dilakukan oleh siapapun juga. Tidak peduli anak kecil sampai kakek-kakek jika memang berminat pasti dapat melakukannya. Beda dengan ilmu sihir yang biasanya menggunakan bantuan jin atau makhluk ghaib lain untuk mempraktekannya. Kali ini saya mau memberikan salah satu trik kartu yang mungkin sudah sangat populer di Indonesia. Saya ingat kalo saya mengenal trik ini sewaktu saya masih duduk dibangku kelas 3 SD dan rasanya semua siswa SD tersebut tahu akan trik ini. Nah sekarang kita mulai, bagamaimana agar kartu pilihan penonton terbalik sendiri dalam tumpukan sehingga mempermudah pesulap menemukannya??? Kunci rahasianya adalah diawal sebelum pesulap main, sebuah kartu paling bawah dibalik terlebih dahulu.
Langkah II

Carilah salah satu penonton, beberkan kartu (awas membebernya jangan sampai kartu paling bawah terlihat sudah terbalik) dan persilahkan penonton ambil satu kartu yang kemudian dihapalkannya dan diperlihatkan pada penonton lain, kecuali tentu pesulap tidak boleh mengetahui apa kartu sipenonton. Agar pesulap tidak dapat mengetahui kartu sipenonton sewaktu penonton memamerkan kartu pilihannya kepada penonton lain, maka pesulap membalikkan badan membelakangi sipenonton (padahal ini cuma alasan agar pesulap bisa melakukan Gerakan Rahasia!).

Langkah III

Sewaktu pesulap membelakangi penonton maka saatnya melakukan gerakan rahasia yaitu membalikan seluruh tumpukan kartu, jadi seluruh kartu menghadap keatas semua. Namun karena diawal permainan kartu paling bawah sudah dibalik maka tumpukan kartu tersebut nampak seperti menghadap ke bawah semua. Kemudian kartu pilihan yang masih dipegang penonton dipersilahkan dimasukkan ketengah tumpukkan dengan posisi menghadap kebawah (hati-hati jangan sampai penonton melihat bahwa semua tumpukkan kartu wajahnya menghadap keatas). Alihkan penonton dengan hal lain misalnya menanyakan umurnya atau lainnya intinya ajak ngobrol, nah sewaktu perhatian penonton teralihkan diam-diam sekali lagi balikkan seluruh tumpukkan kartu kini saatnya beraksi.

Langkah IV

-

Saatnya pesulap beraksi dg mengatakan bahwa anda akan menemukan kartu dengan cara tidak seperti biasanya, yaitu kartu pilhan yang akan menampakkan dirinya sendiri. Lalu lakukan akting seolah-olah anda membalik sebuah kartu ditengah tumpukkan. Katakan sekarang anda akan dengan mudah menemukannya lalu beberkan kartu dan perlihatkan kartu pilihan penonton menjadi satu-satunya yang terbalik keatas (dalam gambar dicontohkan Jack ♦). Namun ingat jangan sampai kartu paling bawah terlihat (setelah keadaan memungkinkan baliklah kartu paling bawah mengikuti kartu lainnya/menghadap kebawah agar rahasia trik ini tetap terjaga).

-

Kunci Sukses Sulap:
1. Berlatih dahulu sampai sempurna.
2. Mainkan dengan kerabat terdekat terlebih dahulu untuk melatih mental.
3. Jangan mengulang trik yang sama kepada penonton yang sama.
4. Sulap berharga karena rahasianya jadi jaga dengan baik sebuah rahasia sulap.
5. Hormati sesama pesulap jangan saling menyombongkan diri.


Sumber : Ebook sulap ganda dengan judul asli Flipper Card Trick


Selengkapnya...

15 Februari 2009

There’s Something In The Closet

Posted by Kei Savourie on

Mr. Guo Peng (baca: kwo-penk) adalah seorang teman sekantor saya. Beliau berumur 26 tahun, berasal dari dataran China dan baru pertama kali menginjakan kakinya di negeri ini sejak Juli 2008. Beliau dikontrak oleh kantor tempat kami bekerja untuk mengajar bahasa Mandarin. Karena saya tidak dapat berbicara bahasa Mandarin, cara kami berkomunikasi adalah lewat bahasa Inggris yang tidak begitu lancar dan sedikit sekali bahasa Indonesia.
Saya ingat waktu itu kami sedang makan siang di ruang makan karyawan dan seperti biasa kami pun bercakap-cakap. Saya banyak bertanya mengenai pendapatnya tentang negeri ini dan beliau pun menjawab dengan antusias. Ketika saya bertanya sudah jalan-jalan kemana saja beliau selama di Jakarta, jawabnya, “I don’t go out very often, it’s not safe.”
Saya cukup terkejut dengan jawaban tersebut mengingat Mr. Guo Peng adalah seorang pendatang baru di Jakarta, dari mana beliau bisa mendapatkan image seperti itu? Apakah masalah keamanan di Indonesia sudah sebegitu tenarnya sampai ke negeri Tirai Bambu? Atau ada oknum-oknum lain yang ‘mengindoktrinasi’ beliau dengan paradigma “It’s not safe here in Jakarta”?
Saya tidak bertanya lebih lanjut mengenai keterkejutan saya itu. Yang saya lakukan adalah saya mencoba meyakinkan beliau bahwa itu hanyalah mitos belaka. Saya bercerita bagaimana saya sering sekali bepergian hingga lewat tengah malam hanya dengan mengendarai sepeda motor dan tidak pernah terjadi suatu apapun yang tidak diinginkan.
Yah, tentu saya cukup sering tertangkap razia polisi-polisi lapar ‘uang lembur’ yang berjaga-jaga di tempat-tempat yang tersembunyi, karena membonceng teman saya yang tidak memakai helm. Namun selain itu, rasanya tidak pernah ada kejadian yang sampai membuat saya berpikir “It’s not safe here in Jakarta”. Dan Mr. Guo Peng cukup kaget dengan cerita saya. Tampaknya cerita saya berlainan sekali dengan informasi yang selama ini beliau ketahui.
Saya yakin banyak orang Jakarta sendiri pun memiliki reaksi yang sama dengan Mr. Guo Peng. Karena pandangan “It’s not safe here in Jakarta”, atau lebih luas lagi “It’s not safe here in Indonesia”, sudah meresap dan menyebar bagaikan racun yang menyerang setiap pembuluh darah masyarakat negeri ini. Perlahan namun pasti, membuat kita mati rasa dan membunuh harapan kita akan bangsa ini.
Dan saya ingin mencoba membagikan sedikit obat penawar bagi racun tersebut lewat tulisan ini. Saya adalah seorang warga negara Indonesia keturunan Chinese. Dan menurut pola pikir yang sudah mendarah daging di masyarakat kita, orang-orang dengan kulit lebih putih dan mata yang memandang dunia dengan separuh terbuka seperti saya ini, adalah orang-orang yang paling rentan dan selalu menjadi objek kriminalitas paling empuk di negara ini. Karena selain tidak memiliki kekuatan publik, orang-orang ini juga dipandang sebagai kaum burjois eksklusif dan penyebab kecemburuan sosial. Namun meskipun demikian, tetap saja saya adalah orang yang mengatakan bahwa paradigma “It’s not safe here in Indonesia” adalah mitos belaka!
Ijinkan saya berbagi pengalaman dengan Anda.
Sewaktu saya masih kuliah, gereja tempat saya aktif beribadah mengadakan retreat di kawasan Ciawi. Karena berbenturan dengan jadwal ujian di kampus, saya tidak bisa ikut dengan rombongan dan harus menyusul ke sana sendirian. Yah tidak sepenuhnya sendirian sih, saya ditemani oleh dua orang teman saya yang juga keturunan Chinese (meskipun agak tidak enak didengar, tapi saya harus menekankan soal keturunan Chinese ini untuk menjelaskan maksud saya).
Hari sudah malam ketika kami tiba di kawasan Ciawi. Karena alamat yang diberikan kepada kami tidak begitu jelas, maka kami kesulitan untuk menemukan lokasi retreat tersebut. Akhirnya kami bertanya pada seorang ibu yang kebetulan satu arah dengan kami dan beliau berjanji akan menunjukkan jalan.
Seperti biasa, kawasan puncak dan sekitarnya di akhir minggu macet total. Semua kendaraan tidak bisa bergerak sama sekali. Akhirnya kami harus berjalan kaki bersama ibu tersebut. Kami lihat sang ibu membawa tas belanjaan yang cukup banyak dan sepertinya berat sekali, jadi kami menawarkan diri untuk membawakan belanjaan ibu tersebut. Sepanjang perjalanan kami ngobrol mengenai banyak hal. Ketika tiba di rumah sang ibu, waktu sudah pukul 10 malam dan beliau menawarkan kami untuk bermalam dirumahnya dan baru berangkat ke lokasi retreat keesokan paginya.
Saya tersentuh. Menawarkan tempat bermalam untuk 3 orang keturunan Chinese yang tidak dikenal! Bukankah Indonesia harusnya adalah negara yang tidak aman dan penuh kecurigaan? Ada yang salah dengan ibu ini ataukah selama ini ada yang salah dengan pola pikir kita?
Tentu kami menolak dengan halus. Setelah capek memaksa akhirnya ibu itu pun memanggil tukang ojek kenalannya untuk mengantarkan kami ke lokasi retreat. Setelah pamitan kami pun diantar dan akhirnya tiba di lokasi retreat dengan selamat sentosa.
Itu adalah salah satu kisah yang tidak akan pernah saya lupakan. Belum lagi kisah-kisah lain yang tidak terhitung jumlahnya. Seperti puluhan kali saya bertanya tentang jalan pada sesama pengendara motor dan tanpa basa-basi mereka langsung menawarkan dan mengantarkan saya ke tempat tujuan saya, walaupun mereka harus memutar berlawanan arah dan menempuh jarak yang lebih jauh dari tujuan mereka semula.
Bagaimana teman saya mengalami kecelakaan kecil di tengah perjalanan akibat hujan deras, dan beberapa anak muda yang sedang nongkrong di pinggir jalan menolongnya tanpa basa-basi. Dan menolak ketika hendak diberi ‘uang rokok’.
Bagaimana ketika motor teman saya mogok di tengah jalan dan seorang penjaga warung rokok membantu teman saya itu mendorong motornya hingga sampai di rumah.
Bagaimana seorang tukang parkir menolak diberi uang parkir setelah beliau tahu saya berasal dari daerah yang sama dengannya.
Bagaimana seorang pekerja cleaning service di kantor tempat saya bekerja, membantu saya menyelesaikan pekerjaan hingga jam 2 dini hari secara sukarela. Dan tidak mengeluh ketika hanya ditraktir Indomie rebus dan es teh manis di warung terdekat.
Bagaimana seorang preman tukang palak di tempat mangkal bus di UKI, akhirnya mengembalikan uang saya sewaktu saya bilang bahwa saya tidak punya ongkos untuk pulang apabila dia mengambil uang saya itu.
Bagaimana seorang penjaga tiket parkir di salah satu mall, meminjamkan uangnya pada saya untuk membayar biaya parkir kendaraan saya ketika saya menyadari saya panik karena lupa membawa dompet.
Dan begitu banyak kisah-kisah lain yang dibiarkan tersembunyi dan berdebu di balik lemari bangsa, ini yang dialami saya dan teman-teman saya yang lain.
Bukankah Indonesia harusnya adalah negara yang tidak aman, penuh kecurigaan dan prasangka? Ada yang salah dengan orang-orang yang saya ceritakan di atas, ataukah selama ini ada yang salah dengan pola pikir kita?
Kriminalitas yang dieskpos secara brutal dan bertubi-tubi oleh media massa, nasihat-nasihat dari orang tua untuk tidak mempercayai orang-orang di luar sana, dan ditambah dengan cerita-cerita negatif yang membuat racun itu semakin membutakan mata kita.
Kita terlalu banyak mendengar tentang hal-hal yang negatif tentang bangsa kita sendiri melebihi porsi yang seharusnya. Padahal di luar sana ada cerita-cerita positif yang penuh kebaikan yang tidak kalah banyaknya.
Hanya saja yang positif hampir tidak pernah diekspos. Kalau seseorang dirampok dan kendaraanya dibawa kabur di tengah jalan, keesokan harinya pasti muncul berita di surat kabar lokal: “Dicegat di Jalan, Mobil Dibawa Kabur”. Tapi kalau ada kecelakaan dan beberapa orang menolong korban tanpa pamrih, yang seperti itu tidak akan pernah ada di berita mana pun juga. Sebuah ketidak seimbangan yang merusak. Bagaikan orang lumpuh yang berjalan dengan tongkat di satu sisinya.
Masih ada begitu banyak kebaikan di Indonesia! Saya percaya hal ini sepenuh hati saya. Dan saya rasa justru adalah tugas Anda dan saya, yang sudah mengalami begitu banyak kebaikan di negeri ini, untuk menceritakan kisah-kisah tersebut dan memberitahu lebih banyak orang lagi kalau Indonesia masih jadi bangsa yang ramah.
Setiap senyuman hangat ibu-ibu penjaga warteg, sapaan akrab penjaga warung rokok di pinggir jalan, teguran ramah tukang-tukang ojek, dan obrolan ringan penjaga warkop Indomie, semuanya mengingatkan saya akan hal tersebut. Dan itu yang saya ingin sampaikan lewat tulisan ini.
Saya tidak naif dan menutup mata, serta berkhayal tentang dunia utopia yang hanya ada dalam angan. Saya tidak menyangkali memang ada begitu banyak kejadian buruk terjadi di sini setiap hari, tapi kan setiap masyarakat di belahan dunia manapun pasti memiliki masalah yang sama.
Tidak semua orang berhati baik namun juga tidak semua orang berniat jahat. Hanya saja menurut saya, rasanya sangat tidak seimbang kalau kita hanya berfokus pada hal-hal yang negatif saja dan lalu melupakan yang positif. Dunia kan tidak terdiri dari negatifitas saja, hidup kan tidak terdiri dari negatifitas saja, Indonesia jelas tidak terdiri dari negatifitas saja, dan Jakarta pasti tidak terdiri dari negatifitas saja.
Indeed Indonesia is not a safe country, but it’s also a very safe country at the same time. Masih ada begitu banyak kebaikan di Indonesia! Daripada hanya mendengar dan membaca saja, Anda perlu keluar dan merasakannya sendiri.
Selengkapnya...