Neng kene ora nana maling sing doyan nyolong, anane wong sing uripe ayem tentrem. Pegaweane mung madhang ngising turu kaya lampu, asal bisa nggo urip ngesuk ya wis alhamdulillah. Ora padha serik maring tanggane, malahane padha guyub rukun mbangun silaturahmi. Urip neng dunya kuwe mung sedhela, ayo-ayo padha tulung tinulung ben kabeh padha bungah.

28 April 2009

Dialog Imajiner

Kartini mengeluh betapa ia tak dapat memahami Alquran karena pada masanya, kitab suci itu dianggap terlalu suci untuk diterjemah ke bahasa Jawa. Selain itu, dalam sebuah dialog dengan seorang kiai, Kartini jelas mengajukan pertanyaan kritis. Misalnya tentang apa hukumnya bagi kiai yang enggan membagi ilmunya kepada perempuan yang dahaga pengetahuan seperti dirinya.
di kutip dari situs Jaringan Islam Liberal, klik disini untuk melihat artikel selengkapnya


Perlu ditelisik lebih lanjut, dengan judul yang menggunakan kata "dialog imajiner" maka bisa dipastikan kejadian ini merupakan rekayasa dan angan-angan. Namun ada sisi menarik bahwa artikel itu merujuk pada suatu kondisi percakapan mengenai sebuah ideologi yang absah. Tetapi kali ini saya tidak ingin mengomentari lebih lanjut mengenai keaslian kata-kata diatas, pun tidak memandang kartini sebagai subjek yang perlu di judge dan di pergunjingkan. Lagipula saat ini moment untuk mengangkat KARTINI sebagai topik posting blog sudah hampir kadaluwarsa karena bulan April sekejap lagi akan berlalu.

Jika Anda sudah selesai membaca artikel diatas, mungkin Anda sekalian mulai bisa menebak arah pembicaraan itu. Sebenarnya saya sendiri takut membaca tulisan yang membahayakan pemikiran kaum muslim ini. Tapi terkadang ada keinginan untuk meluruskan pemikiran-pemikiran yang salah itu sendiri. Namun saya menyadari bahwasanya kemampuan agama saya masih sangat dangkal sehingga jika saya mencoba untuk mengkritisi suatu masalah keagamaan dengan hanya berdasarkan akal dan perasaan dikhawatirkan akan terjerumus dalam keadaan tidak independen. Ketidak independenan itu kemungkinan besar terjadi karena salah tafsir atau dari perasaan saya sendiri yang menginginkan seperti itu sehingga menguntungkan saya sendiri. Dalam suatu kasus lain sebagai contoh, mengenai harta waris bagi laki-laki yang mendapat 2 bagian. Jika perempuan yang mengkaji tanpa ilmu, tentu saja hal ini dianggap tidak adil dan diskriminatif serta melecehkan perempuan. Namun dari pandangan seorang laki-laki tentu saja ini merupakan keadilan yang hakiki sesuai dengan alasannya yang cenderung membela diri sendiri. Baik laki-laki maupun perempuan akan selalu mencoba memutuskan suatu masalah dengan berdasar pada manfaat atau keuntungan yang dia dapat. Dalam hal tadi, 2 bagian harta waris untuk anak laki-laki adalah yang mutlak dan paling benar secara agama. Disinilah kunci dari kejernihan hati dan iman untuk mempercayai apapun kebenaran yang dibawa oleh Muhammad SAW.

Iya benar sekali, Al Quran diturunkan bagi seluruh umat manusia untuk menjadi jalan tengah atas masalah-masalah yang berkecenderungan terjadi konflik. Oh ya kalau kalian masih percaya bahwa arti keadilan adalah sama rasa sama rata tentunya kalian tidak akan terima dengan sistem pajak kaum sekular yang mengenakan tarif progresif bagi warga negaranya yang lebih kaya.

Nah sekarang saya mau mengomentari lebih lanjut tentang mengapa Al Quran tidak diterjemahkan dalam Bahasa Jawa pada artikel dialog imajiner itu. Dia menyoroti dengan pertanyaan "Apakah terlalu suci?" Wah kalo menurutku Al Quran memang terlalu suci, paling suci, dan sesuci-sucinya kitabullah. Trus lanjut dengan keinginannya memahami Al Quran, ya tentu saja setiap umat islam harus berusaha memahami Al Quran. Namun perlu dipertimbangkan untuk menghindari resiko salah tafsir seseorang sehingga kita akan menjadi taklid terhadap suatu pemahaman dari orang yang kebetulan saat itu menerjemahkan Al Quran ke dalam Bahasa Jawa. Pernahkan kalian mempelajari permainan komunikasi dengan cara beberapa orang berbaris dan saling membisiki dengan sebuah kalimat dan setelah sampai orang terakhir kalimat tersebut akan melenceng jauh dari kalimat awal? Ya seperti itulah efek negatif dari usaha menterjemahkan Al Quran tanpa kita mempertahankan yang asli. Akan lebih baik jika kita mencoba mempelajari Bahasa Al Quran daripada kita memaksa AL Quran diubah sesuai bahasa kita. Dalam Bahasa Indonesia sendiri kita tau ada kata-kata homonim, homofon, dll. Begitu juga ada kalimat ambigu berdasarkan persepsi seseorang. Nah dengan begitu sudah selayaknya dalam mempelajari Al Quran, kita merujuk pada dokumen otentik serta mengetahui latar belakang diturunkannya sebuah ayat dalam Al Quran.

Akhir kata, semoga pikiran saya bermanfaat bagi para pembaca yang budiman ;) Amiin..

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Wah kalo JIL itu sesat lo om

Posting Komentar