Aku datang ke kota yang terkenal dengan 3B (bubur, bibir, bunaken) menjelang Natal. Kota yang dihuni oleh mayoritas umat kristiani ini sedikit lebih semarak dengan lampu-lampu dan hiasan khas Natal di sepanjang Boulevard. Nggak ada yang menarik dari itu semua bagiku (mungkin karena aku sendiri seorang muslim sehingga tidak terlalu merasakan apapun dengan segala aktivitas itu). Tapi ada sedikit penyegaran atas kepenatan kota jakarta yang sumpek penuh kemacetan dengan adanya hingar bingar dan antusiasme warga Kota Manado.
-
Nyaris kebosanan melanda pikiran nakalku, sama sekali tak ada yang istimewa karena aku gagal ke bunaken dengan alasan faktor alam yang tidak mendukung serta waktu yang mepet. Terasa sekali makin garing ketika kami memutuskan untuk ke danau linaw dan bukit kasih tiba-tiba pacarku sms.
Nyaris kebosanan melanda pikiran nakalku, sama sekali tak ada yang istimewa karena aku gagal ke bunaken dengan alasan faktor alam yang tidak mendukung serta waktu yang mepet. Terasa sekali makin garing ketika kami memutuskan untuk ke danau linaw dan bukit kasih tiba-tiba pacarku sms.
Ce-ku : mas lagi jalan-jalan? kemana?
Aku : iya, lagi jalan-jalan ke danau linaw n bukit kasih.
Ce-ku : yah, kalo cuma bukit dan danau sih di banjar banyak.
Aku : emang, bosen abis dek.
Sesampainya di danau linaw kami hanya duduk-duduk menyantap pisang goreng khas Manado, dilanjutkan ke Bukit Kasih. Begitu memasuki gerbang bukit kasih, kami disambut oleh anak-anak pedagang souvenir dan jagung rebus. Yah pertama sih jelas aku cuekin, tapi mereka terus mengikuti kami. Terus berjuang tanpa kenal lelah menerangkan kepada kami semua yang ada di bukit kasih layaknya seorang guide profesional. Aku sendiri sedikit keheranan dengan perilaku mereka, apa sih yang mereka harapkan dari kami? tips? belum tentu kami akan ngasih. atau membeli barang dagangan mereka? itu malah lebih tidak akan aku lakukan. wong barang dagangannya gak terlalu berkualitas kok.
Sesampainya di danau linaw kami hanya duduk-duduk menyantap pisang goreng khas Manado, dilanjutkan ke Bukit Kasih. Begitu memasuki gerbang bukit kasih, kami disambut oleh anak-anak pedagang souvenir dan jagung rebus. Yah pertama sih jelas aku cuekin, tapi mereka terus mengikuti kami. Terus berjuang tanpa kenal lelah menerangkan kepada kami semua yang ada di bukit kasih layaknya seorang guide profesional. Aku sendiri sedikit keheranan dengan perilaku mereka, apa sih yang mereka harapkan dari kami? tips? belum tentu kami akan ngasih. atau membeli barang dagangan mereka? itu malah lebih tidak akan aku lakukan. wong barang dagangannya gak terlalu berkualitas kok.
-
Kelihatannya gak istimewa kan? tapi kalo kalian tau betapa panjang dan terjalnya rute yang akan kami lalui. mereka malah semakin semangat memandu kami untuk terus melajutkan perjalanan. kalo setiap hari mereka melakukan itu dan gak ada yang membeli dagangan mereka, kasihan sekali. Sebentar kulihat wajah polosnya, tak ada tampang mengharap, hanya ketulusan yang terpancar dari wajah tak berdosanya. Lambat laun kutanyakan berapa harga barang-barang dagangannya, kubeli beberapa, dan kukasih tips ala kadarnya (sesuai kemampuan PNS, hehehe). Setelah itu kuajak berpose bersamaku salah seorang dari mereka, seneng banget kayaknya diajak photo bareng.
-
Sepanjang perjalanan pulang aku merenung, betapa tulus dan ikhlasnya mereka. Seorang anak kecil yang seharusnya lebih kekanak-kanakan daripada kami. Memberikan pelayanan prima atas profesi yang mereka jalankan. Tanpa memperhitungkan imbalan, tips apalagi korupsi. Tidak seperti kami, PNS yang sedikit-sedikit menanyakan honor, tunjangan, insentif, remunerasi, dan masih pula suka korupsi. Setelah ini aku berjanji untuk meniru mereka meberikan pelayanan prima, tanpa beban uang dan ikhlas lahir bathin, amiiiinnn........
Sepanjang perjalanan pulang aku merenung, betapa tulus dan ikhlasnya mereka. Seorang anak kecil yang seharusnya lebih kekanak-kanakan daripada kami. Memberikan pelayanan prima atas profesi yang mereka jalankan. Tanpa memperhitungkan imbalan, tips apalagi korupsi. Tidak seperti kami, PNS yang sedikit-sedikit menanyakan honor, tunjangan, insentif, remunerasi, dan masih pula suka korupsi. Setelah ini aku berjanji untuk meniru mereka meberikan pelayanan prima, tanpa beban uang dan ikhlas lahir bathin, amiiiinnn........



0 komentar:
Posting Komentar