Hanya karena siswa kelas 1 SMA 90 Jakarta membuat jaket almamater yang berbeda dengan seniornya, terjadi penganiayaan yang dilakukan siswa kelas 3 SMA tersebut. Pada tanggal 25 November, sebanyak 68 siswa kelas 1 dikumpulkan di sebuah lapangan di daerah Bintaro, Jakarta Selatan oleh siswa kelas 3. Mereka dipaksa berkelahi dengan kakak kelas. Akibatnya, 34 siswa kelas 1 mengalami luka-luka ringan.
Kejadian itu terjadi di sebuah lapangan di kawasan Bintaro, siswa kelas 1 dipaksa buka baju, push up, lari dan ditampar. Kemudian mereka dibawa kakak kelas dari parkiran ke daerah Bintaro (belakang McD). Di sana disuruh push up, buka baju dan lari lalu suit, yang kalah ditampar dengan keras. Hal itu terjadi kira-kira dari dzuhur sampai Ashar kata. Salah seorang siswa kelas 1 mengalami luka bibir pecah, memar di pelipis. Dikatakan pula olehnya kalau sedikitnya 68 siswa kelas 1 dari 9 kelas dipaksa ikut penataran, ada juga teman-temannya yang dibawa ke lantai 3 sekolah, tetapi dia tidak tahu diapakan.
Uniknya kejadian ini dihubungkan dengan tayangan kekerasan yang sering terjadi di televisi oleh Kepala Dinas Pendidikan Menegah dan Tinggi (Dikmenti) Pemprov DKI Jakarta Margani. Margani mengatakan, "Memang secara psikologis, siswa SMA sedang dalam masa-masa labil. Anak di usia ini cenderung ingin mencari jati diri. Dari dulu sebenarnya sama saja, tapi kondisi sekarang sama dulu mungkin berbeda. Sekarang makin sering tayangan yang kurang mendidik itu," tandas Margani.
Sedangkan menurut Ketua Komisi Perlindungan Anak Seto Mulyadi, kekerasan di sekolah bagaikan fenomena gunung es. Sepertinya yang terungkap ke permukaan sedikit. Tapi kalau dilihat sebetulnya banyak. Ada yang tidak terungkap, ada yang dipetieskan. Kak Seto mengatakan, "Meski terjadi di hampir di banyak sekolah, kegiatan semacam itu harus dihentikan. Untuk itu, diperlukan partisipasi semua pihak mulai dari sekolah, orang tua dan siswa itu sendiri. Siswa jangan terlalu dibebani dengan kurikulum yang terlalu berat. Jangan melulu akademik tapi harus seimbang antara emosi, kecerdasan moral, dan juga spiritual." "Kalau nggak imbang, nanti siswa bisa stres dan kalau ada masalah sedikit bisa meledak," lanjut pria yang memiliki saudara kembar itu.
Namun kalau ditelisik lebih dalam, kejadian seperti ini cukup aneh jika terjadi dalam masa SMA. Seperti kita ketahui, masa-masa ini adalah masa dimana remaja memiliki teman yang cukup banyak. Begitu pula dengan emosi yang gampang sekali meluap jika dalam komunitasnya terjadi ketidakadilan (bahkan ketika mereka menganggap sesuatu itu sebagai ketidakadilan). Secara fisik, siswa kelas 1 dan 3 tidak jauh berbeda sehingga jika terjadi kekerasan dalam suatu komunitas, bisa dipastikan akan terjadi pemberontakan oleh komunitas yang tertindas itu. Hal itu sangat wajar apalagi jika kita melihat psikologi mereka yang mudah terpancing emosinya jika sedang berada dalam komunitasnya. Bahkan seorang anak remaja yang penakut bisa menjadi sangat brutal jika sedang berada dalam komunitasnya itu. Kekerasan masal yang terjadi secara terus menerus ini benar-benar tidak bisa masuk dalam logika kami. Namun semua itu mungkin dikarenakan lingkungan pergaulan anak SMA di Jakarta yang sangat terbatas dalam lingkungan sekolahnya saja. Sehingga mereka kebingungan dalam mencari perlindungan secara fisik dan mental.



9 komentar:
Beginilah potret pendidikan di indonesia, wajar aja setelah jadi mahasiswa cuma bisa anarkis. GOBLOG....!!!!
Tidak seharusnya anak2 semacam ini disalahkan. mereka perlu diarahkan, karena energi anak muda yang besar perlu disalurkan. hanya saja penyaluran dengan jalan kekerasan adalah tindakan yang kurang baik. ini menjadi PR bagi institusi pendidikan di Indonesia dan juga kita sebagai orang tua.
GOBLOG, liat aja peringkat pendidikan kita dibanding negara lain di asia tenggara
mari bersama-sma kita membangun masa depan generasi muda kita, jangan selalu mojokin mereka.
bener kata angkatan'45, anak sekolah mulai dari SD, SMP, sampe SMA hobinya cuma tawuran. kadang gue gak habis pikir dengan pikiran mereka, secara bokapnya dah banting tulang cari duit. huhh... untung gue gak pernah ikut0ikutan yang namanya tawuran. biarin di bilang banci asal sukses,.
ni kasus mirip yang di SMA 70 kemaren yach? bener2 dech pelajar indonesia. sekolah aja hobbi malak apalagi nanti kalo udah jadi pejabat.
memang banyak yang belum terungkap, pas smp juga pernah tindakan palak memalak di skolahku, pdhal itu sekolah favorit
sekarang masih seperti ini tidak yaa...??
sekarang masih seperti ini tidak yaa...??
Posting Komentar